
Pedang atau golok yang dibeli Hamas di pasar hari itu membuat kami jadi belajar sejarah. Iya karena pedang itu muncul ketertarikan untuk membahas cerita-cerita di balik gambar uang seribu rupiah yang saat ini sudah mulai susah ditemukan. Memang benar ya, belajar bisa dimana saja dari apa saja dan siapa saja. Karena sebuah pedang yang dijadikan oleh-oleh dari pasar membuat kami tertarik mempelajari sejarah Kapiten Pattimura di uang seribu rupiah yang pada awalnya bahkan tidak menarik untuk dibahas.
Setelah membaca dari beberapa sumber kami mendapat ilmu baru. Ini adalah cerita di balik Kapiten Pattimura yang memiliki nama asli Thomas Matulesay. Menurut sumber yang kami dapat ternyata gambar Pattimura itu adalah hasil karya Verhuel komandan marinir Belanda yang menumpas pemberontakan yang dipimpin Pattimura pada tahun 1817 dan saat ini gambr tersebut disimpan di Museum Angkatan Laut di Prince Kade Rotterdarm Belanda. Namun gambar yang ada di uang kertas seribu rupiah dibuat oleh pelukis bernama Christian Latuputty.
Pattimura adalah salah satu pahlwan dari Maluku yang dihukum mati akibat pemberontakan yang dilakukannya terhadap Belanda pada abad ke-19.Arti nama Pattimura sendiri menurut gelar orang Maluku adalah Patih yang berarti "perkataan Tuan atau Kepala dal arti luasnya adalah pemimpin. Pattimura sendiri adalah pemimpin pemberontakan terhadap penumpasan kebun-kebun cengkeh dan pala pada masa penjajahan Belanda yang disebut dengan istilah "hongi".
Menarik juga ya, ucapku pada Hamas. Iya teh, cuma karena sebuah pedang aja kita jadi belajar banyak hal ucap Hamas. Iya memang kita bisa belajar dari apa saja, bahkan hal kecil yang mungkin pada awalnya tidak penting menurut kita, tapi bjsa jadi hal kecil tersebut memiliki sejarah yang menarik untuk dibahas dan menambah pengetahuan, terutama sejarah. Mendatangi atau berada di suatu lokasi memang selalu menarik untuk mempelajari hal baru. Seperti yang kami lakukan hari itu. Mungkin jika tidak sedang berada di Halmahera, kami tidak akan tertarik untuk membahas mengenai Pattimura. Membahas hal yang dekat dengan kita memang selalu lebih menarik dibandingkan jika harus mempelajari hal-hal yang abstrak dan terkesan jauh atau tidak ada wujudnya.
Baiklah, cukup untuk pelajaran sejarah hari itu. Mari kembalie menceritakan perjalanan ekspedisi kami yang sebentar lagi akan berakhir. Sudah banyak cerita dan pengalaman yang dimiliki masing-masing orang selama berada di tempat yang sangat jauh itu. Mungkin saja kebanyakan dari kami memang tidak berelspektasi akan sampai ke tempat itu. Tapi kami patut bersyukur bukan sudah boleh berada disana.
Hari sudah semakin sore. Waktunya masak untuk makan malam dan tentunya mengepak kembali semua barang yang kami bawa sebagai peralatan selama berada di resort dan di dalam hutan. Besok pagi kami sudah harus berangkat menuju balai, lokasi terakhir yang akan menjadi tempat kami bermalam sebelum akhirnya kembali pada aktivitas asli kami sebagai mahasiswa di Jawa. Sebentar lagi akan kembali ke laptop dengan segudang kegiatan seperti biasanya.
Seperti biasa Dea lah yang menjadi juru masak. Kali ini beberapa orang termasuk aku ikut membantunya. Pak Rolan menyuruh kami belanja di warung mbah yang berada di samping kantor. Di warung itu lumayan lengkap kebutuhan dapur. Aku ikut belanja bersama Dea dan lagi-lagi hanya menemani saja karena sejujurnya aku tidak terlalu paham dengan masak memasak.Dulu saja ketika masih di camp bersama memei,aku hanya membantu merebus air, memasak indomie dan mengisi nasi ke kotak makan. Selebihnya hanya Dea yang tahu termasuk menu makanan yang akan dimasaknya sore itu.
Makan malam sudah siap dan semua orang berkumpul di ruang aula membentuk lingkaran dengan semua menu makanan yang sudah tersusun rapi di tengah-tengah. Kami makan dengan lahap. Makan nasi dengan ikan asin dan sambal memang tidak pernah salah. Walaupun hanya seadanya tapi semua orang menikmati makan malam saat itu.
Selepas makan malam dan semua peralatan masak dan makan sudah bersih, pak Rolan mengajak kami untuk berdiskusi terkait dengan kegiatan besok pagi. Menyusun jadwal keberangkatan ke balai dan mendiskusikan kegiatan yang akan kami lakukan selama 3 hari berada di balai nantinya. Termasuk dengan kegiatan presentasi hasil akhir dari kegiatan ekspedisi kami. Hal itu memang harus dilakukan agar data yang kami peroleh diketahui oleh pihak taman nasional. Meskipun laporan akan kami buat, tapi perlu ada data pendahuluan yang harus dilaporkan pada mereka melakui presentasi itu.
Melalui diskusi dengan pak Rolan, esok hari kami akan berangkan menuju balai pukul 8 pagi dan akan dijemput dengan mobil pribadi dan supir-supirnya yang tempo hari sudah mengantar kami ke resort. Sedangkan barang-barang kami akan diangkut dengan truk. Semua orang mengepak barangnya masing-masing dan peralatan tim yang digunakan oleh masing-masing regu. Aku dan tim mulai merekap semua peralatan yang kami gunakan dan mengepaknya satu per satu ke dalam kotak kontainer yang kami bawa. Terbiasa dengan kegiatan lapangan seperti saat itu membuat kami sudah mahir dalam mengepak peralatan lapangan dan memastikannya tidak tercecer atau tertinggal.
Satu per satu peralatan yang sudah dicek dimasukkan ke dalam kontiner oleh Dika dan kemudian menutupnya dengan rapi. Selesai sudah tugas untuk malam itu. Waktunya untuk istirahat sebelum kembali memulai hari esok. Setelah semua peralatan regu sudah dipacking, waktunya untuk mengepak barang-barang pribadi. Aku mengambil pakaian yang kujemur kemarin dan menyusunnya dengan rapi ke dalam tas carier milikku. Sebelum memasukkan barang-barang ke dalam tas carier,terlebih dahulu aku mencatatnya di buku agar tidak ada yang tertinggal.
Bajunya kemana ya, gumamku sambil mencoba mengingat-ingat dimana kali terakhir aku melihat baju kaus yang tidak kutemukan dalam tumpukan pakaianku. Aku mencarinya di jemuran untuk memastikan, tapi tidak kutemukan padahal kuingat aku mencucinya kemarin. Ah sudahlah,mungkin terbawa oleh yang lain nanti juga akan dikembalikan pikirku. Tapi ternyata baju itu hilang dan tidak kembali hingga kami sudah pulang ke jakarta.