Raffles

Raffles
Pelabuhan



Pukul 6.00 pagi kami semua sudah bersiap-siap dan membawa barang barang ke halaman depan balai. Para lelaki menyusun tas carier kami di atas sebuah mobil bak yang akan mengantarkannya menuju pelabuhan. Ya hari ini kami akan pulang.


Pak Rolan dan Pak Okan akan menemani kami sampai ke bandara. Tidak lama kemudian pak Roji tiba di balai. Beliau ikut mengantarkan kami menuju bandara karena sedang ada urusan di kota. Setelah semua barang sudah diangkut ke dalam mobil bak,kini giliran kami untuk masuk juga ke dalam Mobil. Bukan mobil bak seperti yang sudah berisi carier-carier besar itu tetapi mobil pribadi yang akan mengantarkan kami menuju pelabuhan. Sopir yang mengantar pun masih sama seperti tempo hari ketika mengantar dan menjemput kami di resort.


Hari masih gelap, tapi aktivitas manusia sudah dimulai. Asrama tentar di dekat masjid seberang balai pun sudah terdengar riuh sejak pagi pagi buta tadi. Mereka sedang berlatih di jalan raya. Barisannya tertata rapi berlari di jalan raya sambil menyanyikan lagu lagu bergantian.


Saat semua sudah siap pak Rolan memimpin kami untuk berdoa sebelum berangkat. Usai berdoa mobil yang akan membawa kami ke pelabuhan mulai bergerak satu per satu dimulai dengan mobil bak paling depan yang membawa barang. Kami menyusul di belakangnya.


Sepanjang jalan menuju pelabuhan aku fokus pada jalan jalan yang kami lalui sambil mengingat -ingat jalan yang sama seperti yang kami lewati dua puluh hari yang lalu saat menuju ke balai. Dari balai ke pelabuhan kami akan menempuhnya dengan waktu sekitar satu jam. Pukul setengah delapan jika tidak ada halangan kami akan tiba di pelabuhan sedangkan kapal akan berangkat pukul sembilan pagi nanti.


****


Tidak terasa waktu satu jam sudah berlalu. Kami sudah tiba di pelabuhan. Sebelum naik ke kapal terlebih dulu kami sarapan. Dua orang ibu-ibu datang membawakan makanan untuk kami. Sepertinya pak Rolan yang mengatur semuanya.


Ayo semuanya sarapan dulu,ujar pak Rolan ketika makanan sudah ada. Segera kami mengambil bagian satu orang satu bungkus menu sarapan tersebut yang ternyata isinya adalah nasi uduk. Sebelum jam sembilan kami sudah selesai sarapan. Beberapa orang tampak berfoto di pelabuhan sebelum kru kapal memberitahu bahwa kami sudah bisa mulai menaruh barang di kapal.


Di kapal besar seperti itu barang bawaan berat memang tidak bisa dibawa ke kirsi penumpang sehingga harus disusun dengan rapi di bagian penyimpanan barang di geladak kapal. Para lelaki mulai bergegas menyusun carier dan semua perlatan yang kami bawa di kapal. Lalu setelahnya kami semua segera naik ke kapal sebelum kapal ini kembali berlayar di laut lepas.


Dari kapal gunung gamalama dan tidore terlihat sangat jelas. Perjalanan dengan kapal ini akan kami tempuh selama dua jam ke depan. Artinya kami akan tiba di kota pukul sebelas siang. Tadi malam sudah diatur strategi bagaimana caranya supaya kami sempat membeli oleh -oleh di kota karena memang dari baali kami tidak membeli apapun untuk dibawa sebagai oleh-oleh.


Strateginya adalah setelah tiba di balai konservasi tempat pertama kami melakukan pengecekan dulu maka pak Didit selaku pegawai balai konservasi lah yang akan melakukan check in barang bawaan kami terlebih dahulu ke bandara karena tentunya check in dengan barang sebanyak itu akan memakan waktu lama.Sedangkan kami akan diboyong oleh pak Rolan menuju pasar dan pusat oleh-oleh. Kami punya waktu sekitar dua jam untuk berburu semua yang bisa kami dapat di pasar karena pesawat kami akan terbang pukul dua siang.


Kami semua mengikuti arahan pak Rolan diantarkan oleh pegawai balai konservasi menuju pasar. Ternyata pasar yang dimaksud dekat dengan objek wisata landmark ternate. Kami turun disana dan berkunjung sebentar hanya untuk sekedar mengabadikan momen. Seandainya saja kami punya waktu sedikit lebih banyak tentu akan sangat menyenangkan. Tapi tidak apa, yang penting sudah ada momen yang terabadikan.


Selanjutnya adalah kami diberi waktu oleh pak Rolan untuk menyusuri pasar demi berburu oleh-oleh yang kami mau dan akan kembali berkumpul di landmark pukul 13.00 tepat. Dari pasar ke bandara hanya butuh waktu sekitar 15 menit sehingga kami masih punya waktu sekitar 45 menit lagi untuk check in sebelum masuk ke pesawat.


Sistem dan peraturan di bandara Sultan Babulloh memang belum seketat di bandara bandara internasional besar di Indonesia, sehingga jika hanya terlambat sedikit saja tentu tidak masalah bagi kami. Tapi tentu saja yang kami lakukan juga tidak bisa dibenarkan dan ditiru.


Setelah lelah berkeliling akhirnya kami menemukan sebuah toko pusat oleh-oleh yang menjajakan berbagai makanan dan pernak pernik khas Maluku dan Timur. Kami memenuhi toko itu dalam hitungan menit. Sebuah kain tenun menarik perhatianku tapi apa daya uang yang kumiliki tidak sanggup untuk membelinya. Terpaksa kukembalikan lagi kain itu ke tempatnya.


Selain pernak pernik yang paling banyak dicari di toko itu adalah makanannya. Kami membeli berbagai macam camilan dan kue kue kering khas daerah Maluku. Ada kue kenari yang menarik perhatian yaitu kue kering yang dibuat dengan bahan dasar kenari. Wilayah Maluku memang salah satu wilayah endemik pohon kenari dan aku pun baru tahu ternyata biji kenari bisa dijadikan makanan.


Kebanyakan yang kami beli adalah makanan dan baju baju bertulisan ungkapan ungkapan khas Maluku atau Ambon. Tidak terasa ternyata waktu dua jam jika dipakai untuk belanja akan sangat kurang lama. Belum puas rasanya menyusuri pasar,kami sudah harus kembali ke lokasi awal yang tadi dijanjikan sebagai titik kumpul. Setelah semua berkumpul pak Rolan membagikan makan siang. Tapi karena sudah buru buru kami terpaksa makan siang di mobil dalam perjalanan menuju bandara.


Jalanan menuju bandara sudah diaspal rata jadi kami bisa menikmati makan siang dengan tenang di dalam mobil. Sebagian memutuskan untuk memakan makanannya di pesawat saja. Padahal kemungkinan nanti di pesawat pun kami masih akan mendapat snack.


Setibanya di bandara pak Didit sudah menunggu kami dan segera menginstruksikan untuk check in.Bandara itu tidak terlalu ramai namun terasa sangat panas dan gerah karena hanya menggunakan kipas angin. Pak Rolan, pak Didit dan pak Okan melambaikan tangan pada kami saat kami sedang antri untuk masuk ke bandara. Tadi kami sudah pamit pada mereka dan menyalaminya. Rasanya kok jadi sedih ya, padahal belum juga masuk ke dalam pesawat. Aku dan Ayu pun tadi sudah menyempatkan diri berfoto dengan mas Adul karena setelah tiba di Makassar nanti kami akan berpisah karena mereka akan pindah ke pesawat tujuan Yogya.


Kami bisa melihat perlahan punggung ketiga orang tua yang mengantarkan kami sampai ke bandara ini menjauhi bandara.Terima kasih Halmahera untuk dua puluh hari berharga sudah kau berikan pada kami semua.