Raffles

Raffles
Pulang



Meninggalkan Halmahera bukan berarti meninggalkan semua kenangan yang sudah tercipta selama dua puluh hari terakhir yang kami habiskan di kota itu. Namun membawa semua hal baik dan positif yang bisa kami bawa menuju tempat kami akan kembali. Tempat kami akan pulang dengan segala rutinitas dan keseharian kami.


Cerita tentang perjalanan selama di Halmahera belum selesai meski nanti kami sudah tiba di Jakarta. Masih ada banyak cahpter cerita lainnya yang akan tercipta.


****


Setengah tiga,pesawat kami baru lepas landas. Suara bising khas pesawat yang sedang lepas landas memang membuat telinga pekak. Aku menutup kedua telingaku karena suara bising tersebut.Meski bukan pertama kalinya naik pesawat, tetap saja suara itu menggangguku. Hingga pada saat pesawat sudah terbang sempurna di langit tanganku kulepas dari kedua telingaku. Langit sore nampak indah terlihat dari jendela pesawat.


Pemandangan hijaunya hutan masih terlihat di bawah sana. Ah seandainya kami punya lebih banyak waktu,pikirku.Sepertinya kami akan tiba di Jakarta nanti malam hari. Penerbangan ini akan memakan waktu hampir lima jam dihitung dengan transit selama dua puluh menit di bandara Sultan Hasanuddin seperti pada awal keberangkatan kami dulu. Bedanya kali ini kami akan berpisah dengan mas Adul dan mas Nanang.


Sebelum pesawat ini lepas landas tadi aku sempat mengirim sms pada raffles memberitahu bahwa kami akan kembali ke Jakarta. Tapi karena ponselku sudah kuaktifkan mode pesawat maka tidak bisa kulihat apakah ada balasan atau tidak dari mereka. Orang tuaku pun sudah kukabari bahwa hari ini aku akan kembali lagi ke Jakarta. Hati-hati, jaga diri baik baik. Itu pesan mama lewat aplikasi WA yang kuterima tadi setelah kukirimkan sebuah chat padanya.


Kali ini kami benar-benar pulang. Bukan pulang dari hutan menuju resort atau pulang dari resort menuju balai. Tapi benar-benar pulang ke tempat awal kami. Benar-benar kembali,kemungkinan tidak akan bertemu lagi dengan orang-orang baik yang sudah menolong kami selama berada di Halmahera. Sedih rasanya tapi kami tetap harus pulang. Masih banyak kewajiban yang harus kami tuntaskan. Jika suatu hari nanti berjodoh dan diberi kesempatan lagi pasti kami akan berkunjung kembali.


***


Pesawat sudah tiba di bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Mas Adul dan mas Nanang mengambil tas mereka di dalam kabin lalu berpamitan pada kami. Mereka berdua juga termasuk dalam daftar yang dirindukan dari ekspedisi ini. Hati-hati mas, ucap kami ramai di dalam pesawat tidak peduli dengan tatapan penumpang lain yang melihat aneh pada kami.


Pasalnya kami masih memakai seragam.Jika tidak ada tulisan fakultas K******** di bagian belakang seragam itu mungkin akan ada ornag yang mengira kami anak pesantren atau anak panti yang baru lepas kandang. Tapi identitas kami terselamatkan karena tulisan itu.


Mas nya dari mana? seseorang bertanya pada salah satu dari kami di kursi belakang tempat dudukku. Dari Maluku Utara pak,jawabnya.Ada kegiatan ya disana?tanya seseorang dipanggil bapak itu. Iya habis ekspedisi dijawab lagi. Pulang kemana berarti? tanyanya lagi.Ke Jakarta pak jawabnya. Oh begitu semoga sukses mas dan teman-temannya ya ujarnya. Makasih pak dijawab lagi.


Pukul setengah delapan malam kami baru tiba di bandara Soekarno Hatta. Masih harus menunggu bagasi lagi yang membuat semakin lama kami keluar dari bandara ini. Satu per satu carier diangkat dari atas mesin bagasi. Banyak pasang mata yang memandang kepada kami karena seragam yang kami pakai dan tas carier melekat di pundak kami. Tadi sebelum mendarat kami diberi makan malam di dalam pesawat.Makananku tidak sempat kumakan, maka kumanfaatkan waktu sambil menunggu bagasi untuk mengisi perut yang mulai keroncongan.


Farhan memberikan lembaran itu pada petugas ketika kami akan melewati pintu pemeriksaan. Setelah semua sudah beres kini kami sudah berada di lobi bandara. Masih menunggu bus yang akan menjemput kami datang. Kali ini kami tidak menggunakan bis dari bandara, tapi sudah ada bis kampus yang akan menjemput karena kami semua akan kembali ke kampus lebih dulu sebelum nantinya kembali ke rumah atau kos masing-masing.


Suasana hiruk pikuk ibukota mulai terasa lagi. Meski sudah hamoir jam sepuluh malam tapi sepertinya bandara ini tidak ada matinya. Masih ramai manusia berlalu lalang, sangat berbeda dengam bandara Sultan Babulloh di ternate sana.


Sambil menunggu bus datang kami memutuskan untuk istirahat. Beberapa orang terlihat masuk ke arena foodcart dan memesan makanan, beberapa orang menikmati camilan, mengecas ponselnya masing-masing hingga bermain dorong-dorongan troli untuk mengusir rasa bosan.


Jam sepuluh lebih barulah bus yang kami tunggu-tunggu muncul di bandara. Segera kami memasukkan semua barang ke dalam bagasi bus dan masuk ke dalam bus. Beberapa orang langsung tepar begitu duduk di dalam bus. Memang badan pegal-pegal karena terlalu banyak duduk selama di pesawat tadi.


Bus mulai melaju meninggalkan bandara. Jalanan ibukota yang ramai dengan kuda kuda besi dan manusia mulai terlihat. Meski sudah larut malam seakan manusia di ibukota tidak pernah tidur, jalanan masih saja ramai dan macet.


Bus merangkak sedikit demi sedikit di tengahnya macetnya jalanan. Aduhhh ini mah alamat kita nyampe kampus udah pagi ujar Dani. Sebagian orang sudah tidur nyenyak tidak peduli dengan apapun di sekitarnya lagi dan sebagian masih melek menikmati macetnya jalanan.


Untuk mengusir bosan Dani meminta sopir bus menyalakan TV yang ada di dalam bus itu. Setidaknya ada hiburan di tengah jalan macet ini. Sepertinya sudah lama sekali pemandangan seperti ini tidak kami lihat. Sudah lama sekali rasanya kami tidak terjebak macet saar di perjalanan dan sudah lama sekali rasanya kami tidak melihat lampu-lampu dan gedung tinggi yang berjejeran itu.


****


Setelah berjibaku cukup lama dengan macetnya jalanan ibukota akhirnya kami tiba di kampus. Satu per satu turun dari bus dan membantu mengeluarkan barang-barang yang ada di bagasi bus. Beberapa orang senior ikut menunggu kedatangan kami dan membantu mengeluarkan barang dari bagasi.


Peralatan lapang dan tenda camping yang kami bawa,kami tinggalkan si sekret himpunan di kampus,lalu ramai-ramai kami pulang ke tempat tinggal masing-masing. Beberapa orang ada yang dijemput oleh teman sekosannya dan beberapa memutuskan naik ojek karena sudah terlalu lelah sedangkan sisanya berjalan kaki. Sudah pukul dua dini hari tapi wilayah kampus masih ramai.


Kami sudah benar-benar pulang.