Raffles

Raffles
Presentasi



Hari terakhir di balai


Selesai sudah.Hari ini terakhir kami di balai. Besok pagi sudah kembali lagi menuju Jakarta. Hari ini adalah waktunya penentuan sekaligus jadi hari yang terakhir kami bersama sama dengan semua penghuni balai.


Hari ini adalah saatnya presentasi sebelum besok kembali. Hasil kegiatan kami selama hampir dua puluh hari di Halmahera ini akan dipertunjukkan di sesi presentasi yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Semua regu sudah siap dengan bahan presentasinya masing-masing dan Mitha selaku sekretaris ekspedisi sudah mengumpulkan file presentasi kami sejak tadi malam untuk dieditnya sesuai ketentuan balai.


Bukan


bukan isinya yang diedit oleh Mitha hanya templatenya saja menyesuaikan dengan permintaan balai.


***


Teh sudah siap? Nuril menghampiri aku yang sejak tadi sudah komat kamit berlatih untuk persiapan presentasi nanti. Di depanku terdapat laptop yang menyala dan menampilkan slide yang dibuat Mat beberapa hari lalu. Aku mencoba membaca satu per satu slide itu dan memahami isinya sehingga nanti presentasiku bisa lancar.


Siap sih tapi masih gugup euy, aku menoleh pada Nuril yang ternyata sudah duduk di sampingku dan ikut membaca slide yang sedang kubaca. Aku belum terlalu terbiasa berbicara di depan umum, dan biasanya aku selalu gugup berlebihan jika diminta untuk menyampaikan sebuah presentasi. Apalagi ini kan data ilmiah,jadi semua yang keluar dari mulutku nantinya harus berdasarkan data, tidak boleh asal sebut atau karang saja.


Nuril memegang kedua tanganku. Semangat teh ujarnya memberi semangat padaku. Capricorn bisa melakukan yang terbaik ujarnya lagi sambil tersenyum. Anak yang satu ini memang sangat percaya dengan ramalan zodiak tapi kadang yang dia katakan juga ada benarnya.


Aku menarik napas panjang lalu menghembuskanya lagi untuk mengurangi rasa gugup yang bergemuruh dalam dadaku. Entah kenapa selalu saja seperti itu, padahal jika sudah berdiri di depan audiens aku biasanya tidak gugup, hanya ketika pra presentasi seperti ini kegugupanku selalu luar biasa. Untung saja saat ini telapak tanganku tidak sampai berkeringat seperti biasanya .


****


Yuk semua ke langsung ke aula. Pak kepala balai sudah datang ajak Dani datang ke lantai dua untuk memberitahu kami. Semua anak yang masih bersiap siap segera menyelesaikan urusannya. Kupakai seragamku dengan baju kaos hitam sebagai dalamannya lalu segera kumatikan laptop yang masih menyala dan kuambil buku catatan kecil dalam tasku lalu segera mengikuti yang lain menuju aula yang diberitahukan Dani tadi.


Kegugupanku semakin bertambah ketika melihat kepala balai sudah duduk di kursi kebesarannya. Di samping kiri dan kanan beliau ada dua orang yang tidak asing bagi kami yaitu ibu kepala bidang keanekaragaman hayati dari kementerian kehutanan yang dulu ikut merayakan 17 Agustus bersama kami dan seorang lainnya adalah perutusan LIPI yang nantinya akan membantu kami mengurs perizinan spesimen untuk dibawa ke pesawat.


Usai sambutan dari kepala balai kami menonton sebuaj video singkat tentang taman nasional lali dilanjutkan dengan presentasi dari mas Adul.


Setelah mas Adul selesai dengan presentasinya kini saatnya untuk masuk sesi tanya jawab. Ternyata pertanyaan kepada mas Adul hanya ada dua dan bisa dijawab dengan sangat baik olenhnya. Semoga aku juga nanti bisa jawab dengan baik kayak gitu, aku berucap dalam hati. Rasa gugupku belum juga hilang.


Kini giliran tim kami sebagai mahasiswa yang menyampaikan hasil penemuan kami masing-masing regu. Seperti biasa dalam presentasi formal himpunan kami selalu dilakukan secara berurutan sesuai taksa yang dimulai dari tim mamalia, burung, herpetofauna, kupu-kupu, flora dan goa serta ekowisata di akhir.


Saat tiba giliran Ical dari tim kupu-kupu menyampaikan presentasinya aku sudah mulai tenang. Rasa gugup yang sedari tadi sedikit demi sedikit berkurang. Presentasi ini disiarkan secara live di akun instagram resmi taman nasional dan himpunan kami.


Ical menjawab pertanyaan terakhir dengan mantap dan kembali ke tempat duduknya diiringi tepuk tangan peserta rapat. Kini adalah giliranku, Dani memanggil namaku untuk maju ke depan. Aku berjalan ke depan dengan percaya diri dan santai karena rasa gugup dalam dadaku sudah tidak sebesar di awal tadi. Mitha menampilkan slide pertamaku di layar monitor.


Aku menyampaikan satu per satu poin dalam slide di monitor dan bila ada penjelasan tambahannya kusampaikan dengan baik seperti yang kuketahui dan sudah kupelajari beberapa hari lalu dan tadi ketika berlatih sebelum rapat ini dimulai. Ketika selesai menyampaikan presentasiku audiens memberikan tepuk tangan dan kini saatnya untuk tanya jawab.


Semua pertanyaan yang diajukan padaku bisa kujawab dengan baik dan beberapa saran yang disampaikan oleh kepala balai juga kucatat dengan rapi di dalam buku catatan kecil yang kubawa. Setelahnya aku kembali ke tempat dudukku diiringi tepuk tangan seperti sebelumnya.


Kini giliran Laras dan Putra yang akan menyampaikan presentasi mereka sebagai regu penutup. Saat mereka berdua telah sampai pada menjawab pertanyaan terakhir maka tepuk tangan semakin riuh. Kali ini giliran kepala balai yang menyimpulkan sekaligus memberi arahan pada kami terkait dengan data yang kami sudah sampaikan tadi saat presentasi.


***


Selepas arahan dari kepala balai waktunya snack dan acara hiburan. Entah kenapa ada acara hiburan juga. Kami ngobrol ngobrol santai sambil menikmati snack yang tersedia di meja. Kepala balai pun tidak lagi berbicara dengan formal seperti tadi tapi sudah ikut nimbrung dengan kami dalam pembicaraan.


Semoga besok saat adik-adik akan kembali lagi ke Jakarta dilancarkan perjalananya dan semoga sampai dengan selamat disana. Berkabar pada kami disini jika sudah tiba di kampus dan semoga ada kesempatan lagi di lain waktu kita bisa bertemu lagi.Sebelumnya saya ingin meminta maaf terlebih dahulu karena besok saya tidak bisa ikut mengantarkan adik-adik menuju pelabuhan karena saya harus rapat dengan bupati. Jadi saya ucapkan selamat jalan untuk adik-adik semoga selalu dalam lindungan Tuhan dan mungkin besok pak Rolan dan pak Okan yang akan mengantarkan adik-adik menuju pelabuhan dan bandara. Kata -kata perpisahan dari kepala balai sebelum kami membubarkan diri sukses membuat rasa sedih seketika menyeruak di hati. Padahal masih ada waktu sampai nanti malam kami berada disini.