Raffles

Raffles
Balai (2)



Hari pertama di balai kami habiskan untuk menyusuri setiap sudut kantor. Mencoba beberapa alat fitnes di ruang olahraga dan melihat-lihat ruang baca. Karena hari sudah siang ketika kami tiba di balai,maka tidak banyak waktu yang kami habiskan untuk menyusuri setiap sudut. Ketika hari sudah sore, bebebapa dari kami memutuskan untuk jalan-jalan sore saja termasuk aku. Jalan-jalan kuy, ajak Ditra ketika aku barus selesai membereskan barang-barangku di lantai 2.Kemana?aku bertanya lagipula sudah sore juga. Kemana aja, bosan nih dari tadi disini mulu, jajan kek ke warung di bawah ajaknya. Yaudah tunggu gue ajakin yang lain kali aja ada yang mau ikut, jawabku. Aku segera memanggil teman-teman yang lain dan yang ikut jadilah kami berdelapan. Tiga orang laki-laki termasuk Ditra dan 5 orang perempuan termasuk aku.


Sebenarnya tidak banyak yang bisa dilihat.Selain karena hari sudah sore, ditambah lagi masyarakat sudah menghentikan aktivitas mereka. Banyak yang sudah menutup pintu rumahnya, menyalakan lampu teras dan orang yang lalu lalang di jalan pun sudah tidak banyak. Kami hanya berjalan saja, sampai kemana kaki kami berhenti hingga tibalah di sebuah warung bakso yang masih buka.Kayaknya enak deh makan bakso, ujarku. Yuk,yang lain pun langsung menyetujui ajakanku lalu kami makan bakso di warung itu. Padahal sebentar lagi sudah waktunya makan malam.Pasti setelah ini kami akan makan lagi. Yasudahlah, kapan lagi bisa makan banyak, hehe.


Setelah makan bakso, kami kembali meneruskan perjalanan hingga tiba di sebuah rumah dekat dengan gereja. Ada yang membuatku penasaran karena terdengar suara orang yang sedang bernyanyi. Awalnya kupikir suara itu dari gereja tapi ternyata dari rumah si sebelahnya. Mereka sedang mengadakan persekutuan keluarga. Menurut salah seorang ibu yang kutanyai saat itu,mengatakan bahwa mereka memang rutin mengadakan persekutuan itu sekali seminggu di rumah setiap umat secara bergantian. Yang menarik adalah tidak jauh dari gereja itu ada sebuah masjid dan mereka bisa hidup berdampingan dengan damai, menjalankan ibadah masing-masing tanpa saling menjelek-jelekkan.


Kaki kami membawa kami sampai tiba di pom bensin sudah lumayan jauh dari kantor balai. Saat itu sudah malam, dan adzan magrib pun sudah lewat. Eh, balik aja yuk takutnya mereka pada nyariin kita,ajak Nuril. Benar juga, tadi kami pergi tidak pamit pada siapapun. Akhirnya kami setuju dengan Nuril untuk kembali saja ke kantor. Selain karena sudah malam, juga kami sudah terlalu jauh dari balai. Beberapa warga masih terlihat bersantai di teras rumahnya ketika kami lewat. Rumah-rumah disana sudah modern dan bagus. Sudah jarang kita temukan rumah yang masih tradisional atau rumah papan karena sudah hampir semua rumah yang kami lewati adalah rumah gedungan yangbtidak jarang juga sampai berlantai 2. Kehidupan masyarakat sudah tergolong maju disana.


Tiba di balai benar saja kami langsung diserbu dengan pertanyaan dari teman-teman yang lain karena pergi tidak pamit pada siapapun. Kami makan malam bersama di ruang makan dekat dapur.Menu makan malam kali itu terbilang mewah, lauk pauk yang lengkap ditambah buah sudah disusun rapi diatas meja.


Kami makan dengan para pegawai yang menemani kami do balai termasuk pak Rolan. Selepas makan malam semua orang mengambil kegiatannya masing-masing. Aku lebih memilih untuk segera menginput dan mengolah data penelitian yang sudah kami kumpulkan selama 10 hari di hutan. Kuajak Dika dan Mat ke ruang baca dan kami akan mengerjakannya disana. Sudah banyak regu lain yang juga ingin melakukan hal yang sama ketika kami masuk ke ruang baca.


Sampai di lantai 2 segera saja aku tidur.Malam itu lagi-lagi tidur tanpa mandi. Setelah kembali dari jalan-jalan sore tadi tidak kepikiran untuk mandi terlebih dulu karena sudah ada makanan yang siap disantap. Yasudahlah mandi besok pagi saja.Tapi apa boleh buat ternyata air di balai tidak mengalir, kecuali di dapur dan tempat mencuci.


Ketika bangun pagi, banyak anak-anak yang terlihat bersungut-sungut karena tidak ada air. Aku pun termasuk salah satu diantaranya. Tidur dengan badan lengket tidak enak, pagi ini aku harus mandi pikirku. Pak Rolan memberitahu kami bahwa air di balai itu memang sering tidak mengalir, kalau pun ada ya harus dihemat karena pegawai yang masuk kerja hari itu juga pasti membutuhkan air di kamar mandi. Maka pak Rolan menyarankan kami jika ingin mandi lebih baik menumpang di kamar mandi pos satpam. Masalahnya kamar mandi pos satpam hanya ada satu, jika mengantri disana bisa-bisa sampai sore antrian mandi masih belum habis.


Kalau numpang mandi di masjid depan bisa ngga pak? tanya salah seorang anak kepada pak Rolan. Boleh saja tapi di masjid itu selalu ramai orang karena itu komplek TNI, jawab pak Rolan. Ah sudahlah yang penting bisa mandi, ucap kami. Masalahnya udara di balai ini panas, tidak seperti waktu di hutan atau di resort. Jika sehari saja tidak mandi badan akan lengket dan terasa tidak nyaman.


Kami anak-anak perempuan memutuskan untuk menumpany mandi saja ke masjid. Beberapa orang sudah lebih dulu mengantri mandi di pos satpam. Kami ramai-ramai ke masjid membawa baju ganti dan peralatan mandi masing-masing. Benar saja yang dikatakan pak Rolan, ketika tiba di depan masjid banyak tentara yang berseliweran kami lihat. Ada yang sedang kerja bakti dan ada yang terlihat sedang berlatih. Mungkin mereka akan menerima penugasan sehingga berlatih setiap hari. Terdengarlah nyanyian khas tentara yang mereka nyanyikan ketika berlatih. Aku tidak begitu paham apa yang mereka nyanyikan,hanya enak saja didengar. Baru pertama kalinya aku melihat langsung proses latihan para prajurit itu.Semangat mereka terlihat berapi-api.Dengan kepala botak dan badan hitam terbakar matahari,mereka berlari keliling lapangan sambil terus menyanyikan lagu.