Raffles

Raffles
17 Agustus di perkemahan



Sekitar pukul 21.00 kami tiba di sebuah bukit yang akan menjadi lokasi kami bermalam. Ya kami tiba di lokasi kemah. Terpal-terpal dan tenda kemah berbagai ukuran sudah disiapkan dan disana sudah ada beberapa orang menunggu kami. Mereka bergegas turun ke jalan raya begitu mengetahui bahwa kami sudah sampai. Satu per satu kami turun dari truk dan mulai bergegas mengambil tas masing-masing lalu berjalan menuju perkemahan. Disini cahaya bulan lebih terang daripada saat perjalanan tadi. Ditambah adanya penerangan dari listrik yang disambungkan melalui tiang listrik di pinggir jalan raya tadi, jadinya kami bisa memgecas ponsel.


Malam semakin larut tapi kami masih belum tertidur. Beberapa orang setelah tiba di perkemahan memutuskan untuk segera membersihkan diri, dan hal yang mengejutkan pun terjadi disini. Tidak ada kamar mandi di dekat tenda kami. Untuk bisa membersihkan diri, buang air atau pun mandi kami harus turun ke bawah. Di bawah sana ada sungai mengalir dan kata pak Rolan sudah dibuat wc portabel untuk keperluan mck disanaemanfaatkan air sungai.


Bermodalkan senter di kepala,aku dan beberapa teman turun menuju sungai untuk membersihkan diri. Awas jalannya licin, seru salah seorang teman yang berjalan paling depan. Kami menuruni satu per satu tangga yg dibuat dari tanah itu dengan sangat hati-hati. Saat kami membersihkan diri, sebagian besar peserta kemah lainnya memutuskan untuk minum kopi sekaligus menikmati udara malam ini.


Ah segar rasanya setelah mencuci wajah dengan air sungai tadi. Kami harus bergegas tidur karena malam sudah semakin larut. Besok pagi kami harus bangun dan membantu persiapan peringatan 17 Agustus.


Benar kami akan merayakan 17 Agustus kali ini di perkemahan ini. Tenda-tenda mulai sunyi karena pada akhirnya satu per satu sudah terlelap di alam mimpi masing-masing.


Pagi datang dengan cepat.Setelah merapikan tenda kami membantu para lelaki untuk menyiapkan sarapan. Kegiatan hari ini adalah pelepasliaran burung paruh bengkok ke hutan, karena hutan adalah habitat alami bagi satwa tersebut. Awalnya burung-burung itu adalah yang terluka atau terkena jerat pemburu atau sitaan dari warga sekitar yang dikarantina terlebih dahulu sebelum dilepasliarkan ke alam. Setelah kondisinya membaik dan dirasa sudah cukup kuat untuk kembali ke alamm, maka burung-burung tersebut akan dilepas dan diawasi melalui komputer.


Setelah sarapan, kami mengikuti upacara seremonial pelepasliaran satwa dan kemudian turun ke hutan untuk segera melepaskan burung-burung tersebut. Setelah pelepasliaran itu, kami mengikuti kegiatan penanaman pohon di hutan. Kali ini ada bupati Halmahera Utara yang ikut dalam kegiatan tersebut karena pada hari ini kami sekaligus merayakan Hari Konservasi Alam Nasional.


Hari ini berlalu begitu cepat.Persiapan untuk upacara 17 Agustus besok sudah selesai. Kami bergantian mandi dan membersihkan diri lalu ikut makan malam. Dari apa yang kudengar,upacara 17-an besok akan dihadiri oleh masyarakat suku pedalaman disini. Menurut cerita mereka adalah suku asli Halmahera yang masih mendiami hutan-hutan di daerah ini dan mereka bisa memakan manusia (kanibal).Wah,seram sekali kalau begitu ucapku pada seorang bapak yang menceritakan suku tersebut pada kami.Setelah puas berbincang-bincang kami memutuskan untuk tidur karena malam sudah semakin larut. Besok pagi kami harus bersiap untuk upacara 17-an.


Pagi sudah datang. Kami segera bersiap untuk upacara. Para tamu undangan sudah banyak yang datang sejak tadi, begitu juga dengan suku pedalaman yang diundang. Mereka datang membawa tombak dan tidak beralas kaki. Hari ini kami akan mengikuti upacara 17 agustus di bukit perkemahan ini. Ada beberapa wartawan dari stasiun TV lokal yang datang untuk meliput kegiatan kami hari ini. Satu lagi, bapak bupati yang kemarin datang juga ada hari ini ditambah satu lagi tamu undangan spesial yaitu putri pariwisata Maluku Utara yang juga hadir.


Ketika gladi baru teringat ternyata tidak ada anggota paduan suara yang akan menyanyikan lagu indonesia raya ketika upacara. Melalui inisiatif bapak Rolan maka dipilhlah beberapa orang dari kami mahasiswa yang ditunjuk sebagai paduan suara. Aku termasuk salah satu diantaranya. Kami segera berlatih dan kemudian upacara pun dimulai.


Baru pertama kali ini aku merasakan suasana upacara 17 agustus di lokasi yang berbeda dari biasanya.


Ternyata perayaan kali ini terasa lebih menyenangkan. Kami diliput oleh TV lokal dan bersama kami ada masyarakt suku pedalaman Maluku. Mereka memang terlihat seram di awal, tapi lama kelamaan mereka juga berbaur dengan kami. Setelah upacara selesai, maka masuklah acara hiburan. Kami menyanyikan beberapa lagu timur dan itu menambah keseruan acara.


Tengah hari acara 17-an sudah selesai. Kami pun makan siang bersama.Para tamu undangan sudah kembali.Setelah makan siang ini kami akan berdiskusi mengenai jadwal kegiatan yang akan dimulai besok. Ya besok kegiatan ekspedisi kami yang sesungguhnya akan dimulai. Kami akan ke hutan besok,maka diperlukan persiapan yang matang dan hari ini kami akan mendiskusikannya bersama.


Acara diskusi dimulai. Kami mulai dengan memilih wilayah hutan mana yang akan menjadi lokasi kami melakukan kegiatan. Hal ini karena waktu kami terbatas, maka tidak memungkin jika seluruh wilayah hutan kami jelajahi. Kedua tidak semua wilayah hutan memiliki akses yang mudah ditempuh. Beberapa wilayahnya harus kami tempuh dengan perjalanan air sementara kapal yang beroperasi tidak selalu ada setiap hari, karena mereka hanya mengandalkan angin dan ombak.


Setelah diskusi cukup lama maka akhirnya terpilihlah lokasi yang akan kami datangi besok. Beberapa orang porter yang sudah ditunjuk oleh kantor segera berangkat menuju lokasi untuk menyiapkan perkemahan kami disana. Mereka yang berangkat adalah para pemuda lokal yang bertugas sebagai porter untuk kegiatan ini dan menurut cerita mereoa hanya butuh waktu 3 jam saja sampai ke lokasi yang dituju di dalam hutan. Mereka memang sudah terbiasa melakukan hal itu, bahkan walaupun masuk hutan mereka hanya memakai sandal jepit sebagai alas kakinya.


Setelah acara diskusi selesai,kami membereskan semua barang yang perlu dibawa besok dan akan dikembalikan ke kantor resort sebelum kami ke hutan. Untuk menghemat tenaga dan meminimalisir barang berlebih, kami menyortir kembali barang bawaan dan hanya membawa beberapa yang sangat diperlukan di lapangan saja.


Membawa semua barang dalam tas carier hanya akan memperlambat perjalanan kami besok.Lagipula kami tidak memerlukan semuanya di dalam hutan,seperti pakaian cukup hanya 2/3 pasang saja, karena kami tidak akan sering berganti pakaian nanti di hutan. Memang begitulah kehidupan anak lapangan.