
Kami bertiga masih terus berusaha melewati sungai ditengah hujan deras dan angin kencang. Ternyata para kawan yang sudah berada di camp juga menghawatirkan kami yang belu kembali. Saat itu ada dua regu yang belum kembali ke camp, yaitu reguku dan regu goa. Aku dan kedua temanku ini mungkin hanya berjuang melewati arus sungai yang begitu deras ini, tapi bagaimana dengan tim goa? Siapa tahu saat hujan tadi mereka masih di dalam goa, gimana mereka akan keluar dari sana?
Beberapa porter yang sudah di camp akhirnya memutuskan untuk mencari kami. Tidak jauh dari camp dan langit sudah semakin gelap, kami melihat ada tiga orang yang berjalan di sungai menuju ke arah kami bertiga. Kayaknya mereka nyariin kita deh, ucap Dika. Bisa jadi mas, atau. mungkin ada regu lain juga yang belum balik, ujarku. Kami terus berjalan hingga akhirnya berpapasan dengan porter itu.
"Kaka mau kemana?Mat bertanya pada salah satu dari mereka. Mau mencari kalian dan tim goa belum kembali ke camp, jawabnya. Kalian cepatlah, orang disana sudah menunggu, dikira kalian masih di dalam hutan tadi makanya kami pergi mencari, ujar porter yang lain. Iya,kaka hati hati ujar kami bertiga.
Tidak jauh dari tempat kami berdiri sudah mulai terlihat cahaya lampu teplok dan artinya sebentar lagi kami akan tiba di camp. Dika dan Mat masih memegangi aku, terkadang aku hampir terjungkal jika tiba tiba air sungai tinggi dan sepatuku penuh dengan air. Kaki kami terasa berat di dalam air itu. Setelah dekat dengan camp mereka tidak lagi memenmgangiku karena air sungai sudah tidaj
setinggi tadi.
Kami tiba di camp dengan selamat dan mereka yang menunggu kami pun bisa lega. Sekarang hanya tinggal menunggu kabar dari tim goa saja. Raffles mendekatiku dan bertanya " kak tra apa apa kah?tanyanya.Tidak,tuh kakak baik baik aja, jawabku padanya. Iya aku memang sudah akrab dengan anak kecil ini sejak hari kedua kami di camp. Aku yang berusaha mendekati dan mencoba berteman dengannya pada awalnya memang diabaikan oleh anak kecil itu. Tapi lama kelamaan dia mau kugendong dan mau bermain denganku dan hari itu dia ikut menungguku.
Aku,Dika dan Mat segera membersihkan diri dan berganti pakaian agar tidak masuk angin. Tak lama setelah itu kami makan malam bersama dan tim goa belum juga kembali. Semoga saja mereka tidak apa apa,ucap memei ketika kami berada di dapur. Malam itu aku makan di dapur sambil menghangatkan diri di dekat perapian. Memei pikir tadi kamu masih di dalam hutan waktu hujan deras itu, memei berujar padaku. Iya mei, sudah keluar tapi tiba tiba hujannya deras sekali jadi susah berjalan apalagi air sungainya tinggi seperti badai, jawabku. Memang begitu sudah kalau hujan ucap memei. Malam itu Raffles ada di dapur juga, dia mendekatiku. Kakak Ira besok masih ke hutan kah? tanyanya. Iya, belum selesai tugasnya, jawabku. Ah banyak sekali tugas kakak ini, itu kakak Robi disini terus,tra pernah ke hutan tunjuk Raffles pada salah seorang anak di camp itu.
Malam ini harusnya tim robi pergi ke dalam hutan tapi karena hujan deras tidak mungkin mereka pergi. Setelah makan malam yang sebenarnya terlalu cepat itu, karena masih jam 6 sore, kami memutuskan bermain kartu saja untuk mengusir jenuh. Ada seorang anak yang ingin buang air besar di tengah situasi hujan itu, karena sudah tidak tahan akhirnya dia mengajak temannya untuk menemaninya ke sungai. Di sungai bagian belakang camp ini ada sebuah WC yang sengaja dipasang untuk keperluan buang air. Hanya tiang kayu yang ditutui karung goni pada setiap sisinya.
Tak lama kemudian tiba tiba hujan deras lagi dan air sungai sangat tinggi. Wah badai ucap kami, dan tiba tiba salah seorang teman mengingat bahwa ada yang pergi ke sungai untuk buang air. Duh, gimana nih, mana cewek cewek lagi yang pergi, ucap ketua tim kami. Pada saat ingin mencari tiba tiba kedua anak cewek itu sudah berlari lari ke camp dan bilang bahwa WC nya hanyut dibawa arus sungai. Ah,untung kalian gapapa, ucap memei.
Untung aja udah beres boker tadi, tiba tiba air sungainya tinggi ucap Bela anak yang tadi buang air ke sungai. Yah, beso gak punya WC lagi dong ucap kami.Tim goa akhirnya kembali ke camp setelah hujan reda. Malam itu sudah pukul 9 malam mereka baru tiba di camp ditemani porter yang tadi sore pergi mencari mereka. Tidak terjadi sesuatu dengan mereka hanya saja bajunya kotor terkena lumpur, karena ternyata mereka memang masih ada di dalam goa saat hujan turun. Untung saja goanya horizontal, bukan vertikal jadi tidak terlalu sulit untuk keluar. Hanya saja lama karena mereka harus saling tunggu ditambah genangan air yang masuk ke dalam goa, salah satu dari tim mereka menjelaskan pada kami.
Segera anggota tim goa yang baru kembali ke camp membersihkan diri dan makan malam. Memei sengaja menyisihkan makanan tadi untuk mereka yang baru kembali ke camp. Malam itu kami beristirahat ditemani rintik hujan yang tidak kunjung reda bahkan sampai larut malam. Kami tidur di tengah remangnya malam hanya barcahayakan cahaya dari lampu teplok yang lama lama memudar karena minyak tanah di dalamnya sudah semakin habis hingga akhirnya lampu itu padam.
Untuk pertama kalinya setelah 6 hari berada di dalam hutan itu,kami mengalami kejadian seperti ini. Malam itu tidur kami sangat nyenyak karena lelah setelah seharian bekerja di dalam hutan dan ditambah bunyi air hujan yang jatuh di tanah membuat suasana malam semakin dingin dan memaksa kami untuk berdiam saja di balik sleeping bag masing-masing. Tak ada permainan kartu sampai larut malam seperti malam malam sebelumnya karena semua orang memutuskan untuk tidur lebih awal setelah semua kejadian tadi.
Suasana malam yang hening dan gelap ditambah sesekali terdengar suara suara aneh dari dalam hutan membuat mata kami tak ingin berlama lama mendengarnya karena sesungguhnya suara suara itu juga membuat merinding.Tidur lebih cepat adalah pilihan terbaik malam itu.