
Hari ke delapan. Hari ini adalah hari terakhir aku dan tim untuk membereskan semua kebutuhan data kami. Semangat, bentar lagi beres guys ujarku menyemangati Dika dan Mat. Selepas berdoa,kami segera berangkat menyusuri sungai dan hari ini lokasi yang akan kami tuju lumayan jauh dari camp. Pak Rahmat dan Pak Syafei seorang tenaga ahli kehutanan dari resort menawarkan diri untuk ikut bersama kami. Wah dengan senang hati pak, selama ini kita selalu mandiri lumayan hari terakhir ada yang bantuin ucap Mat ketika kedua bapak itu bilang ingin ikut dengan kami. Bukan hanya tim kami, ternyata mas Adul dan tim kupu-kupu juga masih membereskan data mereka hari ini. Hanya saja kami berbeda jalur.
Ketika sampai di titik lokasi yang dituju segera kami berbagi tugas seperti biasa.Kami tidak tersesat lagi berkat pak Syafei, beliau sudah hafal betul lokasi hutan itu. Dan seperti biasa juga tugasku hanya mencatat dan dokumentasi. Biar saja para lelaki itu yang melakukan tugas tugas berat, merintis jalan,mengukur diameter pohon biar saja mereka yang melakukanya.
Ada kejadian yang lucu hari itu. Sebenarnya kejadian itu bisa dibilang lucu, tapi juga salah. Lucu karena ketika itu ada satu jenis pohon yang baru kami temukan. Tidak ada yang tahu jenis pohon apa itu. Lalu untuk memastikannya kami mencari di lantai hutan barangkali ada buah, atau daunnya yang jatuh atau anakan pohon. Tapi tidak satupun kami temukan, lalu pak Syafei terlihat berpikir sejenak.
Saya ada ide,ucapnya mantap. Kalau memang data ini penting ide saya bisa kita gunakan,jelasnya.Gimana pak? aku bertanya pada pak Syafei,lalu beliau mengeluarkan parang yang dibawanya dan mulai menebang pohon yang kami maksud. Batang pohon itu belum terlalu besar sehingga tidak sulit bagi pak Syafei untuk menebangnya.
Tidak butuh waktu lama,pohon tersebut sudah rebah di tanah. Jadi idenya ini pak? Dika bertanya tidak percaya dengan apa yang kami lihat. Iya,dengan begini kan kalian bisa mengambil sebanyak daun yang kalian butuhkan untuk dibawa ke camp. Nanti pak Roji pasti tahu kalau sudah lihat daunnya,pak Syafei terlihat mantap menjawabnya.
Benar sih, tapi tidak harus menebang juga. Gimana kalau pohon ini cuma ada satu disini, nanti tidak ada lagi dong, aku bergumam. Sudah, anggap saja kalian menggunakan metode baru, tebang pohon untuk identifikasi ucap pak Syafei. Lagipula disini sering juga kok pohon pohon diteban, bahkan oleh masyarakat yang masuk ke hutan,ujar pak Syafei.
Akhirnya kami megambil daun pohon itu untuk dibawa pada pak Roji. "Mas, bukannya kalau kayak tadi ngga boleh ya? aku bertanya pada Dika. Selama ini Dika memang lebih mengerti mengenai peraturan peraturan kehutanan dibanding aku dan teman teman yang lain. Seharusnya sih ngha boleh apalagi pohonnya masih kecil, misal untuk dipanen pun diameternya belum cukup. Tapi mau gimana lagi,udah terlanjur. Lagipula orang dalam kok yang ngerusak bukan kita, ujar Dika. Aku hanya manggut-manggut saja.
Setelah insiden tebang pohon itu kami melanjutkan kegiatan dan kali ini jalanan masuk ke hutan semakin sulit.Hanya ada satu batang pohon rebah yang bisa jadi jembatan untuk kami lewat dan masuk ke lokasi selanjutnya. Terpaksa kami harus melewati pohon itu.
Sampai di lokasi terakhir, kami menemukan sebatang pohon yang sangat besar dan tinggi. Setelah diukur diameter pohon itu mencapai 500 cm.Kami mengabadikan foto di bawah pohon itu bersama pak Syafei dan pak Rahmat. Menurut pak Syafei pohon itu adalah pohon sempur yang sudah berumur ratusan tahun, hanya beliau tidak tahu persis berapa tahun karena kami berada di hutan alam. Umur pohon pohon di hutan alam hanya bisa kita kira kira saja dari tinggi dan diameternya karena tidak seperti di hutan produksi yang ada jelas tahun tanam sehingga kita bisa menghitung umur pohon itu. Tinggi batang pohon itu kira kira seperti pohon jodoh di kebun raya bogor, jika kalian pernah melihatnya. Tapi masih lebih besar untuk ukuran diameter atau lingkaran batangnya.
Setelah selesai dengan urusan data, kami segera keluar dari hutan. Masih pukul 4 sore.Pak Syafei mengajak kami ke sebuah tempat di seberang sungai. Tempat itu sekilas hanya terlihat dipenuhi semak semak yang rapat,tapi di dalamnya terdapat kebun nenas. Menurut pak Syafei nenas disana memang sengaja ditanami oleh warga sekitar hutan ketika dulu pernah terjadi kebakaran hutan. Warga sekitar yang mencari kayu di hutan menanami lokasi itu dengan nenas dan beberapa tahun setelahnya kebun itu ditinggalkan karena warga yang merupakan suku Tobelo dalam ikut dengan program taman nasional sehingga keluar dari hutan dan menetap di perkampungan. Hanya sesekali jika sedang berpatroli pak Syafei dan kawan kawan memanen nenas tersebut dan dibawa ke resort. Itu pun kalau sedang beruntung saja ada yang masih tersisa oleh binatang binatang hutan.Atau tersisa dari busuk.
Kami beruntung kali itu, karena ketika kami datang buah nenas sedang banyak banyaknya.Kami memutuskan untuk istirahat sejenak sambil menikmati buah nenas itu. Manis dan segar rasanya.
Buah nenas yang kami petik tadi sebagian kami bawa pulang ke camp. Pasti anak anak di camp senang kita bawa makanan, ujar pak Rahmat. Benar saja ketika tiba di camp nenas nenas yang kami bawa langsung habis tanpa menunggu waktu lama.
Sore itu kami sudah berada di camp, kecuali tim goa. Sejak hari pertama kami di hutan itu, memang tim goa selalu jadi yang paling terakhir tiba di camp jika sedang mengambil data. Maklum, mereka harus mencari keberadaan goa dengan berjalan berpuluh puluh kilometer dari camp, belum lagi jika sudah menemukan goa yang dicari mereka harus masuk ke dalam dan melakukan segala kegiatan pengumpulan datanya di dalam goa itu. Hebatnya setengah dari tim goa yang berjumlah 8 orang itu adalah perempuan. Mereka kuat dan tangguh, jarang mengeluh.
Sore itu turun hujan tapi tidak terlalu deras seperti biasa. Tim goa belum kembali.Baru setelah pukul 8 malam mereka tiba di camp. Tidak biasanya mereka terlihat menggaruk telapak kakinya.Kenapa sih? Farhan bertanya pada Firman yang sejak tiba di camp tadi selalu menggaruk sela sela jari kakinya. Gatal euy, sakit juga jawab Firman. Lalu setelah melihat kaki Firman tiba tiba Farhan tertawa,ceilah Firman budukan,serunya.