Rabunsell

Rabunsell
BAB 48 : MEMBUAT PERHITUNGAN



Setelah kepergian Deko benar benar sudah menghilang dari pandangannya, Zelia langsung beranjak ke kamarnya. Mengambil beberapa helai pakaian dari lemari bajunya.


"Pakai yang mana ya? ini sepertinya bagus."


Zelia mengganti pakaiannya, berdandan dan bergegas keluar dari rumah Deko. Seperti biasa Zelia menggunakan kendaraan umum untuk pergi ke pusat kota. Setelah sampai di pusat kota ia langsung turun dan menghampiri sebuah rumah mewah yang tak jauh dari sana.


Kini Zelia berada tepat didepan pagar yang menjulang tinggi, sesekali ia memencet tombol agar sahabatnya segera keluar dari kediamannya.


Zelia bernafas lega setelah gerbang itu terbuka, ia melangkah masuk menemui sahabatnya. Diwaktu yang tepat, mobil Ketrin ikut terparkir di kediaman Maya, ia bernafas lega karena tak perlu membutuhkan waktu yang lama bagi mereka.


"Hai Zelia!"


Zelia langsung disambut oleh pelukan hangat dari Ketrin, ia mempersilahkan untuk ikut masuk dalam kamar Maya.


Saat masuk dalam kamar Maya, pandangannya jatuh memandangi Maya yang masih tertidur pulang diatas ranjang.


"Woy bangun Lo!"


Maya mengerjapkan kedua matanya, melirik kesal memandangi dua orang manusia yang berani mengganggu tidurnya.


"Ada apa kalian datang kesini?" Menutup wajahnya menggunakan selimut hangat.


Zelia dan Ketrin menaiki ranjang, menarik selimut Maya agar segera terbangun dari tidurnya.


"Maya tolongin gue dong!"


"Apa?"


"Kesempatan buat kita ngelabrak si cupu!"


Maya dan Ketrin saling memandang, setelah sekian lama ia menghilang tiba tiba ia mengajak mereka untuk melabrak orang. "No, Lo gila." Maya kembali menarik selimutnya.


"Ish gitu banget sih kalian!"


Dengan malas Maya terduduk, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Dimana?" tanya Maya kebingungan.


"Ket, boleh ga pinjam hp Lo?"


Ketrin segera memberikan handphonenya, Zelia begitu lincah mengotak Atik layar handphone Ketrin. Maya dan Ketrin mendekati Zelia, melihat apa yang dilakukan oleh Zelia.


"Jadi itu dia? Cantik ya."


"Ketrin! Lo mau kita bunuh!"


Ketrin spontan menutupi mulutnya. "Wah kebetulan nih dia on!"


"Ya, makanya diam aja!"


Rencana Zelia mulai dilakukan, satu persatu pesan ia kirimkan melalui akun sosial media Diva. Mereka menyangka bahwa Diva lebih memilih diam, tapi ternyata jauh dari ekspektasi mereka. Maya merebut barang pipih itu dari tangan Zelia, ia mengotak Atik layar handphone Ketrin dengan penuh amarah.


"Sial! Kalau begitu mari kita ketemu!"


Mereka mengamati pesan itu dengan seksama, ternyata gadis itu begitu nekat menerima ajakan Maya. Suatu kebetulan bahwa Diva kini sedang berada di pusat kota, mengunjungi sebuah kafe bersama teman temannya.


"Ayo kita temui dia sekarang!"


Tanpa rasa malu, Maya mengobrak abrik lemarinya. Melemparkan beberapa helai baju kesembarang arah, bagi Zelia dan Ketrin itu hanyalah pemandangan biasa.


"Nah mungkin ini!"


Maya segera mengganti pakaiannya, tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Kakinya begitu lincah menuruni tangga, berlari menghampiri mobil yang sudah berada dihalaman kediamannya.


"Ayo masuk!"


Setelah mereka sama sama sudah masuk dalam mobil, Maya langsung menancap gas. Ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Tak butuh waktu yang lama mereka telah sampai disebuah Cafe ternama. Mereka langsung keluar dan segera memasuk kedalam Cafe.


Maya jalan terlebih dahulu dari mereka, emosinya begitu membara setelah mendapati Diva yang sudah tersenyum menunggu kedatangan mereka. Dengan kasar, Maya menarik sebuah kursi yang sudah disediakan oleh Diva, tatapannya begitu tajam memandangi sosok gadis dihadapannya.