Rabunsell

Rabunsell
BAB 28 : WANITA PARUH BAYA



"Ayo rabun angkat telfon gue!" Sahutnya berusaha menghubungi Zelia berulang kali.


"Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif."


"Aaaa cebong!" Umpat Maya memegang jidatnya.


Ketrin mendongakkan wajahnya kearah depan, ia melihat kakek sahabatnya sedang berjalan dengan Ferdy. Tanpa pikir panjang ia melangkah cepat menghampiri sang kakek.


"Kek!" Panggil Ketrin.


"Eh Ketrin, ada apa ya?" Tanya Kakek Zelia heran.


"Zelia mana kek? dia ga pergi sekolah kek?" Ketrin malah bertanya balik.


"Bukannya kamu sudah mengetahuinya? dia sekarang sedang berlibur ke Korea?"


"Oh gitu kek, terus kakek tumben ke sini?" Tanya Ketrin heran.


Tiba tiba seorang pria menghampiri mereka. "Kek, sebaiknya kita harus pergi ke bandara sekarang." Bisiknya.


"Oh iya baiklah, kalau begitu kakek pamit pergi dulu ya." Pamit kakek Zelia di balas anggukan oleh Maya dan Ketrin.


Maya dan Ketrin menatapi kepergian sang kakek, mereka merasa ada sesuatu yang ia rahasiakan.


Maya meremas ujung bajunya, perasaan cemasnya mulai menghantui pikirannya. Ia takut apa yang ia pikirkan sekarang adalah kenyataan yang kini sedang terjadi.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Seorang wanita paruh baya memercikkan air pada wajah seorang gadis yang masih terlelap tidur, sudah berapa kali ia membangunkan gadis mungil itu tapi tetap saja ia tak bangun dari tidurnya.


"Nona..." Panggilnya lembut sembari berulang memercikkan air.


Zelia mengerjakan kedua matanya dengan perlahan. Tangannya refleks menutupi wajahnya karena terkena sinar matahari yang masuk melalui jendela. Ia merasakan tubuhnya sangat lemah, sehingga duduk pun di bantu oleh seorang wanita paruh baya.


Karena baru setengah sadar, otaknya kali ini masih mumet, belum tau dan memikirkan apa yang kini terjadi terhadap dirinya.


"Nona?" Tanya wanita paruh baya itu sontak membuat Zelia kaget.


"Jangan mendekat!" pekik Zelia ketakutan sembari beralih menjauhi wanita paruh baya itu.


Wanita paruh baya itu tampak heran, kenapa gadis itu takut terhadap dirinya, bukankah mereka sesama perempuan?


"Nona tenang dulu..." Sahutnya berusaha menenangkan Zelia.


"Sekarang Lo keluar dari sini!" Teriak Zelia mengeluarkan suara lantang dengan mengambil sebuah vas bunga di dekatnya.


Pintu kamar perlahan terbuka, mimik wajahnya pun ikut berubah melihat dua orang pria masuk kedalam kamarnya.


Deg!


"K- koko?" batin Zelia dengan mulut terbuka.


Deko menatap Zelia yang kini dihadapannya, terlihat ketakutan besar dari wajah Zelia. Zelia yang kebingungan mengernyitkan dahinya.


"Tenanglah nak, tak ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi pada mu." Sahut Dodi menenangkan Zelia.


Dodi mengambil vas bunga dari tangan Zelia, kemudian memberikannya kepada Deko.


Zelia menatap wajah seorang pria di samping Deko, ya itu adalah Dodi sahabat sang kakek. Lagi dan lagi Zelia memperhatikan mereka berdua dari ujung kaki hingga ujung kepala, semakin membuat Zelia heran.


"Pa, Deko pamit keluar dulu." Pamit Deko melangkah keluar.


"Pak, bapak tenang aja, sebentar lagi selesai kok." Tambahnya lagi dibalas anggukan oleh Dodi.


"Baiklah kalau begitu, saya keluar dulu." Dodi melangkah keluar meninggalkan mereka.


"Ayo nona kita tukar bajunya dulu." Sahut Wanita paruh baya itu menarik Zelia dengan lembut.


Zelia hanya diam sambil terduduk di ujung kasur, ia berusaha berpikir apa yang kini terjadi padanya. Apalagi setelah melihat sosok Deko.


"Apa Koko ada hubungannya dengan pria misterius itu?" Batinnya.