Rabunsell

Rabunsell
BAB 16 : KEPUTUSAN



"Apa itu?" Tanya Dodi.


Ferdy mendongakkan kepalanya sembari menatap Dodi dengan sangat dalam.


"Pak, sejauh apa pun kita sembunyikan nona Zelia, ia tetap bisa direbut oleh tuan Grey." Sahut Ferdy hati hati.


"Ya kau benar, sejauh apa pun kita sembunyikan Zelia, ia akan bisa di rebut oleh Grey, apalagi hak asuh Zelia akan mudah di dapatkan oleh Grey karena ia adalah ayah kandung Zelia."


"Benar, untuk membersihkan nama, Grey akan rela mengeluarkan uang sebanyak banyak nya." Ucap Kakek Zelia menambah perkataan Dodi.


"Jadi, kita butuh sosok lelaki yang bisa menjaga nona Zelia."


"Maksud mu? apa maksud mu bodyguard?" Tanya Dodi tak mengerti.


"Tidak pak, bodyguard hanya bersifat sementara, dan sangat mudah dikalahkan oleh tuan Grey."


"Jadi maksud mu apa?" Tanya Dodi penasaran.


"Seorang suami." Jawab Ferdy membuat Dodi terkejut.


"Jika Nona Zelia sudah mempunyai suami, tentu saja nona Zelia tidak akan mudah di dapatkan oleh tuan Grey." Tambah Ferdy.


"Bukannya Zelia masih berada di bawah umur?" Tanya Dodi kurang yakin.


"Benar pak, tetapi kita nikahkan secara siri untuk sementara." Jawab Dodi.


"Tidak! ide mu sangat gila, dan berpengaruh buruk terhadap Zelia." Tolak Dodi memijit pelipisnya frustasi.


Memang ide Ferdy cukup gila, mana mungkin gadis yang masih labil itu akan segera di nikahkan. Mau jadi apa Zelia saat dewasa? apakah jadi pelakor bayaran?


"Tapi pak, ini salah satu jalan yang terbaik." Sahut Ferdy meyakinkan Dodi dan majikannya.


"Oke kita terima, lalu kita nikahkan dengan siapa Ferdy? pengusaha sukses di luar sana? aku sungguh tidak yakin." Ucap Dodi.


"Dengan putra semata wayang bapak, lebih tepatnya putra angkat bapak." Ujar Ferdy membuat tangan Dodi keram.


Dodi sebenarnya tidak memiliki seorang anak satu pun. Saat itulah membuat Kakek Zelia sedikit prihatin dengan keadaannya, sehingga kakek Zelia memutuskan untuk mengadopsi seorang anak laki laki disebuah panti asuhan, kemudian memberikannya kepada Dodi serta membiayai seluruh kebutuhannya hingga anak itu sukses dari perguruan tingginya.


"Dodi?" Tanya Kakek Zelia dengan sedikit risau.


"Tenanglah Arman." Ucap Dodi menenangkan sahabat lamanya.


"Aku akan membicarakan hal ini kepada putra ku, akan ku usahakan semampu ku Arman, jadi tak perlu khawatir, kita akan berusaha mencari jalan keluarnya bersama sama." Sekilas senyuman itu terbit dari bibir Dodi membuat Kakek Zelia mulai tenang.


"Terima kasih atas bantuan mu Dodi."


...----------------...


Akhirnya jam mengajar Deko sudah habis, sekarang ia bisa beristirahat di ruang majelis guru dengan perasaan tenang. Baru saja ia terduduk di kursinya, ada saja guru yang menghampiri mejanya.


"Pak, pak Deko sudah selesaikan jam mengajarnya?" Tanya Dewi melangkah menghampiri mejanya.


"Sudah Bu, ada apa ya Bu?"


"Begini pak, sebentar lagi tamu kita akan datang, jadi pak Deko bisa kan untuk memberikan tugas kepada kelas dua belas IPA tiga? kebetulan Bu Novi ga bisa hadir pak."


"Oh bisa buk, tugasnya yang mana ya buk?."


"Nah, makasih ya pak. Pak Deko kasih tugas sesuka bapak aja biar seisi kelas ga ribut."


"Baik Buk."


Sementara di dalam kelas dua belas IPA tiga sangat ribut, banyak siswa siswi yang berjalan kian kemari.


"Jujur guwehhh cavekkk buat hidup." Sahut Maya bosan dengan jam kosongnya.


"Lahhh kalian itu harusnya semangat empat lima pas jam kosong, nahh lohh pas ga jam kosong kalian kemana aja?" Tanya Intan tak sengaja mendengar keluhan Maya.


"Hmmm sejak kapan itu anak kebo baikan sama king biawak?" Tanya Zelia menatap ke arah Ketrin yang duduk bersama Reyvan.


"Lo kayak ga ngerti Ketrin aja deh, Lo kan tau dianya gimana? baru Lima menit berantem udah balikan aja tuh anak." Jawab Maya.


"Ternyata bestie kita hampir sama ya sama makanan jatuh, belum lima menit jatuh udah keburu diambil biar ga di ambil duluan sama semut."


"Iya Zel, bikin malu partai aja tuh bocah."


Tiba tiba ada sosok guru memasuki kelasnya, seketika membuat kelas langsung diam tanpa suara.


"Loh pak, bapak salah kelas pak! bapak udah masukkan tadi pagi?" Tanya seorang siswa kaget akan kedatangan seorang guru.


"Oh iya benar, tapi Bu Dewi berpesan untuk memberikan tugas kepada kalian semua." Jawab Deko.


"Tugas? bukannya jam kosong ya pak?"


"Sebenarnya hari ini Bu Novi bakalan masuk bab tiga pak." Jawabnya sembari membolak balikkan bukunya.


"Baiklah, kalau begitu kalian ringkas saja seluruh bab tiga." Titah Deko.


"Ihhh ko, ini tugas atau kasih sayang? kok tak terhingga sih ko." Jawab Zelia asal asalan tanpa membuka buku.


"Zel, bab tiga dikit doang kok Zel." Sahut seorang gadis yang duduk di depan Zelia.


"Pokoknya hari ini selesai, kalau sudah selesai kumpulkan kepada saya untuk saya beri nilai tambahan." Sahut Deko dengan tegas.


Zelia bergegas mengambil bukunya, kemudian membuatnya dengan secepat kilat.


Teman teman seisi kelas Zelia tampak tercengang, entah kenapa Zelia kini tampak terlihat seperti anak paling rajin dikelas.


Tak sampai satu jam, akhirnya tugas Zelia sudah selesai paling awal dikelasnya, dengan bangganya ia menghampiri meja Deko.


"Wuihh tumben si rabun paling cepat selesai." Bisik Bella kepada salah seorang temannya.


"Gue ga tau sih, gue ga tau itu rabun salah makan atau ga kerasukan bidadari apaan."


"Ko... Zelia selesai pertama kali untuk mengumpulkan tugas hari ini, semoga saja esok hari Zelia cantik ini juga merupakan orang pertama kali yang membuka hatinya seorang Deko." Panggil Zelia memberikan bukunya.


Deko mengabaikan mulut mungil Zelia berkicau di kupingnya, ia tetap fokus memeriksa tukas yang diberikannya.


"Ko... Koko dengerin Zelia ga sih?" Tanya Zelia sedikit kesal.


"Kembalilah ke meja, tugasnya sudah saya masukkan kebuku nilai."


"Ga mau ko, lebih seru disini dari pada di sana."


"Ko, Koko mau pilih yang mana, di poligami atau mempoligami?" Tanya Zelia.


"Ya mempoligami lah Zel."


"Kenapa gitu Ko? hais Koko mau punya anak banyak? ayo cukup dari pabrik aku aja, ga perlu yang lain ko!"


"Bukan banyak anak, tapi perbanyak Reski. Karena sebelumnya kamu pernah bilang kan, banyak suami banyak Reski, banyak anak banyak resiko! begitu juga dengan saya banyak istri banyak Reski, dan mengurangi jumlah anak untuk mengurangi resiko. Lagi pula kamu masih labil jadi jangan harap untuk menjadi istri saya."


"Iya kah ko?"


"Zelia.... pokoknya kamu harus kembali ke meja kamu, terserah mau ngapain!" Sahut Deko kemudian berpura pura sibuk dengan handphonenya, padahal ia hanya membaca SMS yang sudah lewat satu bulan yang lalu.


"Jumping boleh?" Tanya Zelia.


"Silahkan." Jawab Deko singkat.


"Berlari?" Beo Zelia.


"Silahkan."


"Berjalan?"


"Silahkan."


"Konser?"


"Silahkan."


"Ghibahin mantan?"


"Silahkan."


"Makan?"


"Minum?"


"Duduk?"


"Berdiri?"


"Buang kentut?"


"Menghirup udara-."


"SILAHKAN ZELIA! MAU JUMPING, MAU NGEREOG, SILAHKAN! ASALKAN KAMU TIDAK MENGGANGU KETENANGAN SAYA BESERTA SEISI KELAS INI, SEKARANG SAYA PINTA KAMU DUDUK KEMBALI TANPA SEPATA KATA SATU PUN!" Bentak Deko mulai geram.


"Baik Koko sayang." Balas Zelia tanpa bersalah.


Deko memijit pelipisnya dengan frustasi, ia memikirkan bagaimana cara untuk anak itu tidak menggangu ketenangan hidupnya.