
"Ya udah deh kalau Koko ga mau bukain pintunya, Zelia bisa apa? kalau Zelia Hulk sih Zelia bisa ngedobrak pintu Koko."
"Tapi apalah daya, Zelia hanyalah wanita biasa, lemah dan selalu di kucilin."
"Tapi ga papa ko, mending Zelia jajan keluar aja sama Ketrin juga sama Maya." Sahut Zelia putus asa.
Mendengar ocehan Zelia diluar kamarnya, membuat mata Deko langsung terbuka dan tubuhnya pun meloncat dari kasurnya.
Ia bergegas membuka pintu kamarnya, lalu menatap punggung Zelia yang kini mematung setelah membuka pintu rumah.
"Z- Zelia." Pekik Deko menarik Hoodie Zelia.
Deko segera menutup pintu rumahnya dengan nafas yang tak normal.
"Kamu.... jangan pernah coba sekali kali keluar dari rumah ini seizin saya." Sahut Deko berusaha mengontrol emosinya.
"Oh, jadi ceritanya gini ya, Zelia jadi istri yang baik dan selalu meminta izin kepada suaminya pas keluar rumah gitu?" Tanya Zelia dengan tingkah kekanak kanakan.
"Ya semacam itu!" Sahut Deko.
"Hmmm tapi... kok gini sih ko? rumah tetangga Koko mana?" Tanya Zelia sambil mengintip melalui jendela.
"Disini pedesaan ga sama kayak di kota." Sahut Deko mengambil handphone Zelia dari tangan Zelia.
"Eh ko! itu kan hp Zelia." Sahut Zelia berusaha mengambil handphonenya.
"Untuk sementara handphone kamu saya ambil, saya bakalan balikin satu tahun lagi." Sahut Deko mengangkat tangan kanannya yang memegang handphone Zelia.
"Ehh ko masa iya satu tahun! mana bisa Zelia hidup tanpa handphone, balikin ko!" Rengek Zelia berusaha menggapai tangan Deko.
"Ga- ga bisa Zel!" Sahut Deko perlahan pelan.
"Balikin ko." Zelia masih tetap berusaha.
"Ga- ga bisa, sebelum kamu lulus dari sekolah, handphone kamu tetap ada di tangan saya." Sahut Deko memundurkan langkahnya.
Deko semakin memundurkan langkahnya, sampai ia pun lupa bahwa ada sebuah sofa dibelakangnya. Begitu juga dengan Zelia, ia tetap berusaha merebut handphonenya kembali.
Bughh....
Aduhhh....
Benar saja, Zelia jatuh pada dada bidang Deko, hingga handphone milik Zelia pun terbanting tak jauh dari mereka.
Seketika waktu berhenti berputar, mata mereka saling beradu, begitu juga suara nafas yang terdengar jelas.
Deko mengedipkan matanya, lalu matanya teralihkan melirik handphone yang terletak dilantai. Begitu juga dengan Zelia, pikirannya kembali pada handphonenya. Dengan segera Deko meraih handphone Zelia dengan kaki kanannya.
"Koko!" Pekik Zelia menatap handphonenya yang berada di bawah telapak kaki Deko.
Zelia berusaha mengambil handphonenya, tetapi hasilnya tetap nihil.
"Koko balikin dong ko!" Rengek Zelia.
"Saya bilang engga ya engga Zelia, kalau kamu ngeyel lagi saya injak beneran nih handphone kamu sampai pecah!" Ancam Deko.
"J- jangan dong ko!" Zelia pasrah atas keadaan.
Deko mengambil handphone Zelia dengan segera, kemudian mematikan handphone Zelia secara total.
"Oke karena hari udah malam, waktunya untuk tidur." Ucap Deko melangkah pergi di ikuti oleh Zelia di belakangnya.
"M- maksud saya kamu tidur Zelia, ngapain ikutin saya?" Tanya Deko menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Zelia mendongakkan kepalanya sambil berkata "Iya ko, Zelia bakalan tidur, tapi kan sekarang kita satu kamar." Sahut Zelia dengan polosnya.
"Astaga Zelia! maksud saya kamu tidur di kamar kamu, ini kamar saya, dan disana itu kamar kamu." Deko berusaha mengontrol emosinya.