
Bel pulang datang, dengan langkah bersemangat Zelia datang menghampiri Deko di ruang majelis guru. Ia memperhatikan satu persatu wajah seisi ruangan, setelah mendapatkan sosok yang ia cari senyuman manisnya timbul kembali.
"Aimmm koming Koko." Zelia melangkah masuk menghampiri Deko yang masih sibuk dengan laptopnya.
Merasa janggal, Deko mendongakkan wajahnya. Pupil matanya melebar menatap gadis dihadapannya.
"Good evening Koko." Gadis itu melambaikan tangannya kepada Deko.
Deko memijit pelipisnya lembut, suasana yang tak nyaman akan kembali ia lalui.
"Hmm, tunggu lah sebentar lagi, aku masih banyak pekerjaan." Sahutnya sambil memberikan selembar uang kertas kepada Zelia.
"Oke ko, Mangat kerjanya." Zelia mengambil uang kertas yang diberikan Deko.
Belum juga melangkah, Zelia sudah dikagetkan dengan seseorang yang berdiri tegak dihadapannya.
"Oh jadi ini adik mu ko?" Tanya Noven menatap Zelia dan Deko secara bergantian.
Menyadari kedatangan Noven, Deko seketika berdiri.
"Iya pak." Sahut Deko berbohong.
"Ya sudah, pulanglah lebih awal. Biar aku saja yang menyelesaikannya."
"Baik pak, sebelumnya saya berterima kasih kepada bapak."
"Sama sama, jangan lupa hati hati dijalan." Noven menepuk pundak Deko dengan lembut, kemudian duduk di kursi kerja Deko.
Deko melangkah pergi keluar dari ruangan yang diikuti oleh Zelia dibelakangnya.
"Ko..." Zelia berusaha menyeimbangkan langkahnya bersama dengan langkah kaki Deko.
"Apa?" Jawab Deko dengan malas.
"Zelia ini sebenarnya siapa sih ko?" Tanya Zelia bergantung pada lengan Deko.
"Manusia." Jawab Deko singkat.
"Zelia serius loh ko." Rengek Zelia mencengkram kuat lengan Deko.
Deko menghentikan langkahnya, ia menatap wajah gadis dihadapannya.
"Kenapa ko? hmmm Zelia tau kok Zelia ini di ciptakan dengan sangat sempurna." Sahut Zelia dengan percaya diri.
Deko mengembuskan nafasnya kasar, kemudian kembali lagi dengan sikap dinginnya.
"Tunggu saja di rumah Zelia!" Batin Deko yang sudah tak terkontrol.
Tak butuh waktu yang lama, mereka sampai dirumah. Deko meraup saku saku celananya untuk mengambil kunci pintu rumah.
Ceklekk.....
Pintu rumahnya terbuka, Zelia bergegas masuk lalu mbuang sepatunya kesembarangan arah.
Deko yang mulai naik pitam, memungut sepatu Zelia kembali. Dannnn.....
Bughh......
Aduhhh....
Sepatu itu melayang mengenai wajah Zelia, tentu saja Zelia langsung meringis kesakitan. Sedangkan Deko tersenyum puas atas kesalahan yang telah ia perbuat.
"Dasar bocah!" Deko menyeringai menatap Zelia.
"Koko ihh, apa sih salah sama dosa Zelia?" Tanya Zelia tanpa rasa bersalah.
Mata Deko seketika terbelalak dengan mulut yang ternganga.
Deko mengangkat dagu Zelia dengan tangan kanannya, ia memperhatikan wajah Zelia sangat detail.
"Apa apaan ini?" Tanya Deko naik pitam.
Wajah Zelia langsung memerah, begitu juga dengan jantungnya yang kini berdebar sangat kencang.
"Ga ada apa apa ko, biasa ko... nyamuk suka usil nyium pipi Zelia." Ucap Zelia.
Deko semakin mendongakkan wajah Zelia, kemudian ia mengambil selembar tisu dari kantong celananya.
"K- ko.. Koko mau ngapain?"
"Husttt.... diam."
Deko menghapus lipstik Zelia dengan tisunya. Entah kenapa melihat penampilan Zelia seperti itu membuatnya sangat geram.
"Kamu ini apa apaan sih Zel! baru juga masuk sekolah udah jadi ondel ondel!" Deko berusaha menghapus lipstik dari bibir Zelia, seharusnya sedari tadi ia memperhatikan penampilan Zelia.
"Koko ihh, itu lipstiknya mahal loh ko!" Rengek Zelia memberontak tak ingin menghapus lipstiknya.
"Berpenampilanlah sesuai dengan umur mu Zelia!"