
"Rapunzel Zizwana Putri?" Sahut seorang pria membaca surat pindah Zelia.
"Iya pak, panggil saja dia Zelia." Deko memberikan selembar kertas kepada pria itu.
"Baiklah pak Deko, anda untuk hari ini mengajar di kelas dua belas IPA tiga, dan kamu Zelia selamat datang disekolah baru mu, oh iya kelas kamu berada di kelas dua belas ipa dua ya." Ucap pria itu dibalas anggukan oleh Zelia.
"Baik pak, kalau begitu saya kesana sekarang." Pamit Deko.
"Silahkan pak."
"Zelia, panggil saja saya pak Retno." Sahut pria itu lagi dan lagi dibalas anggukan oleh Zelia.
"Oke Zelia, mari kita masuk ke kelas baru mu." Sahut pria itu berdiri dari duduknya.
Zelia hanya mengikuti Pak Retno dari belakang. Hanya dengan sepuluh langkah, mereka sudah sampai di sebuah kelas dengan dinding bernuansa hijau.
"Mari Zelia masuk." Pak Retno mempersilahkan Zelia masuk.
Dengan kaki yang terasa berat, Zelia masuk kedalam kelas barunya. Kelas disana terasa sangat hening, tak ribut seperti kelas lainnya. Apalagi kedatangan dirinya, membuat semua mata tertuju padanya.
"Selamat pagi semua, sebelumnya ada suatu hal penting yang akan bapak sampaikan." Sahut Pak Retno.
"Kelas kita sekarang akan ada tambahan satu orang siswi baru, jadi untuk itu kalian harus jaga sikap." Sahut pak Retno.
"Baik pak."
"Zelia, silahkan perkenalkan diri mu." Sahut Pak Retno.
Zelia melangkahkan kakinya satu langkah, kemudian menatap satu persatu wajah teman barunya.
"Ehmm, Lo pasti bisa Zelia!" Batin Zelia berusaha untuk percaya diri.
"Hallo every one, perkenalkan nama saya Rapunzel Zizwana Putri, biasa dipanggil Zelia, semoga saja hubungan di antara kita baik baik saja ya, apakah ada suatu pertanyaan untuk saya?" Zelia memperkenalkan dirinya, ia masih berusaha untuk friendly terhadap teman barunya.
"Permisi pak." Suara lantang seorang gadis yang berasal dari barisan paling belakang.
"Ada apa Diva?" Tanya pak Retno.
"Diva?" Batin Zelia merasa tak asing dengan nama Diva.
"Pak, apa boleh murid baru memakai lipstik?" Tanya gadis itu dengan suara kerasnya.
Deg!
Pertanyaan dari gadis itu membuat Zelia kaget, baru kali ini ada seorang gadis berani mencari masalah dengannya.
Zelia berusaha untuk tetap tenang, namun karena pertanyaan gadis itu suasana kelas menjadi riuh.
"Sttt, tenang... bapak harap kalian tenang." Teriak Pak Retno mengheningkan seisi kelas.
"Tak apa, untuk kali ini kita maafkan, karena bagaimanapun juga Zelia merupakan murid baru di sekolah kita ini." Tentu saja bagi murid lain perkataan pak Retno tak adil bagi mereka.
"Loh pak, jangankan lipstik, kita pakai bedak tebal aja di permasalahin, lahhh ini anak baru kenapa ga bapak permasalahin?" Tambahnya lagi membesarkan masalah.
"Udah lah Va, lagian dia kan anak baru baru, mana tau dia aturan disekolah kita." Sahut Putri.
"Ga tau aturan? sekolah elit, masa iya-." Tiba tiba Diva menutup mulutnya.
"Ya mau ngomong apa? ngapain berhenti?" Tanya Putri membuat Diva menahan malu.
Diva kembali duduk dengan kepala tertunduk malu. Sedangkan teman teman lainnya tampak saling berbisik.
"Baik Zelia, untuk mempercepat waktu, kamu duduk aja ya disamping Putri." Sahut Pak Retno dibalas anggukan oleh Zelia.
Teman teman baru Zelia banyak menyapanya, kecuali sosok gadis yang masih tertunduk yang mejanya bersebelahan dengan Zelia.