
Jam kini telah menunjukkan pukul dua malam, mata Zelia masih tak bisa tidur. Ia membolak balikkan tubuhnya kian kemari, ia merasa bosan karena matanya tak bisa tidur.
"Hadehh, gini banget ya hidup." Zelia duduk dari tidurnya, kemudian mengacak acak rambutnya dengan kesal.
Rintik rintik hujan mulai terdengar dari atas atap kamarnya, dengan bergegas ia kembali merebahkan tubuhnya memasuki sebuah selimut.
"Duhh pakai hujan lagi! Mampus deh Lo Rabun!" Umpat Zelia ketakutan.
Semakin lama hujan semakin deras, hingga suara atap menggangu ketenangan Zelia. Satu tetesan air mengenai kaki kanan Zelia, sontak saja membuat Zelia kaget sembari terduduk kembali dari tidurnya.
Zelia menatap ke atas langit langit kamarnya, terlihat satu persatu air turun dari atap kamarnya.
"Bocor!" Umpat Zelia terbelalak kemudian bangkit dari kasurnya.
"Haishhh sial!" Zelia membuka pintu dan keluar dari kamarnya. Tak lupa ia membawa bantal dengan selimutnya untuk tidur disofa.
"Karena kebocoran mau tak mau gue harus tidur di sofa." Sahut Zelia menutup kembali pintu kamarnya.
Baru juga satu langkah, pupil matanya kembali melebar mendapati sosok pria dengan mata kosong menatap dirinya.
"Sial!" Umpat Deko menatap tajam kearah Zelia.
Awalnya Zelia terdiam mematung, tapi kali ini ia tampak semangat dengan menyapa Deko yang masih duduk disofa.
"Koko.... atapnya bocor ya ko." Sapa Zelia ikut terduduk disamping Deko.
Deko segera beranjak duduk di sofa satunya lagi, kemudian merebahkan tubuhnya membelakangi Zelia.
"Ya udah kalau gitu." Zelia meletakkan bantal lalu merebahkan tubuhnya.
Zelia memejamkan matanya, namun matanya kembali terbuka karena merasa setetes air mengenai jidatnya.
"Kali ini aku akui bahwa dimulai detik ini aku mencintai atap bocor!" Umpat Zelia masih memejamkan matanya.
Zelia membiarkan satu persatu air itu membasahi wajahnya, setelah merasa kebasahan Zelia duduk dari tidurnya.
"Astaga! koo...." Pekik Zelia tak kalah panik menatap tetesan air dimana mana.
"Koo!!"
Merasa risih, Deko terduduk dari tidurnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
"Hm?" Sahut Deko dengan mata yang masih terpejam.
"Bocor ko!"
Deko perlahan membuka matanya, ia ikut kaget menatap sekitarannya. Seisi ruangan mulai basah kuyup, hingga genangan air pun kini membasahi lantai.
Deko beranjak mengambil ember, kemudian meletakkannya untuk menampung tetesan air.
Merasa lega, ia kembali duduk dengan menaikkan kedua kakinya di atas kursi. Deko memalingkan wajahnya menatap Zelia yang tiba tiba berada disampingnya.
"Ga papa ya ko, kan di sana juga basah kuyup." Sahut Zelia tersenyum manis.
Deko memijit pelipisnya, entah kenapa kali ini hidupnya jauh lebih sial dari sebelumnya.
Satu jam kemudian....
Mata mereka saling beradu, namun tak satu pun kata yang keluar dari mulut mereka. Deko menatap Zelia dengan tatapan kosong, begitu juga dengan Zelia yang merasa salah tingkah dipandang Deko.
"Jika begini terus, bisa bisa aku bisa gila." Batin Deko masih menatap kedua mata Zelia.
"Pasti Koko sedang memuji kecantikan Zelia sekarang." Batin Zelia tersenyum girang menatap wajah Deko.
Hujan semakin deras, gemuruh petir pun mulai menakuti Zelia.
"Petir...." Ringis Zelia dalam hati.
Dengan cepat kilat terdengar sangat keras. Lampu rumah seketika mati, sontak saja membuat Zelia meloncat kaget mendekati Deko.
"Ko... gelap ko." Zelia ketakutan bersembunyi pada dada bidang Deko.