
Maya dan Ketrin saling menatap, bagi mereka tingkah Zelia kali ini sangat aneh. Bagi mereka sangat aneh jika Zelia tak mencari tau tentang Deko sampai kelakarnya.
"Cuman oh aja? biasanya Lo bakalan cari tau sampai akarnya, tapi sekarang?" Tanya Maya penasaran.
"Hmm apa jangan jangan Lo udah move on gara gara ketemu langsung sama bias Lo?" Sahut Ketrin.
"Yap, Lo benar Ket, heheh." Balas Zelia.
"Ehh bisa ketemuan nanti malam?" Tanya Zelia mengalihkan topik.
Lagi dan lagi Maya dan Ketrin saling menatap Zelia dengan heran.
"Aneh banget." Sahut mereka berdua kompak.
"Kenapa?"
"Lo udah sampai di Indonesia?" Tanya Maya ragu.
"I- iya, gue nanti malam sampai." Jawab Zelia gugup.
"O- oke nanti malam di cafe biasa?"
"Y- ya! nanti malam di tempat biasa, hmm
o- oke guys gue gue kayaknya pamit dulu, kakek gue manggil heheh."
"Oke, sampai ketemu nanti malam Zel."
Zelia mengakhiri telfonnya, kemudian membuang handphonenya ke sembarang arah sembari merebahkan tubuhnya, untung saja handphone itu jatuh di atas kasur.
"Pokoknya kesempatan kali ini ga boleh Lo sia siain begitu aja!" Zelia merasa lega.
"Oke, sekarang kita siap siap dulu Zel." Zelia bangkit dari kasur, kemudian mengambil handphonenya.
Butuh waktu setengah jam Zelia bersiap siap untuk pergi ke kota. Setelah selesai, ia pergi menuju terminal mencari kendaraan umum untuk bisa sampai ke kota.
Hari sudah berganti malam, Zelia baru sampai di pusat kota. Ia bergegas masuk kedalam sebuah Cafe yang sudah ia janjikan bersama teman temannya.
"Haii!" Ketrin berlari kecil memeluk Zelia. Begitu juga dengan Maya yang juga ikut menghampiri Zelia.
"Omg! Lo pergi konser atau pergi gali sumur? jujur Lo semakin kurus." Sahut Maya yang baru saja datang menghampiri Zelia.
"Heh May, masih syukur nih Zelia datang!"
"Udah udah gue haus nih." Sahut Zelia berjalan ke mejanya.
Mereka mengikuti Zelia yang duduk lebih dahulu dari mereka.
"Gue panas banget, pengen minum." Sahut Zelia mengibas ngibaskan tangannya.
Ketrin dengan segera memesan sebuah jus untuk Zelia, tak lama kemudian seorang pelayan datang membawakan jus untuk Zelia.
"Silahkan di minum Zel!" Ketrin mengambil jus dari nampan seorang pelayan, karena kehausan Zelia langsung meminum jusnya.
"Legaa.."
"Oke bisa kita mulai?" Tanya Maya masih menatap Zelia dengan heran.
Zelia hampir lupa dengan maksud tujuannya datang menemui kedua sahabatnya.
"Kalian masih ingat si cupu?" Tanya Zelia mengalihkan pembicaraan.
"Cupu? orang yang selama ini kita jadiin boneka maksud Lo?"
"Yap, kalian berdua benar."
"Emang ada apa dengan dia?" Tanya Maya membuat Zelia tak berkutik.
"Mampus! gue mau bilang apa lagi? ya kali gue bilang gue satu sekolahan sama dia." Batin Zelia menggigit bibir bawahnya.
"Zel?"
"G- gue ga sengaja ketemu dia."
"Maksud Lo pas konser kemarin?" Potong Maya membuat Zelia kewalahan.
"No! no... May, gue sama dia ketemu di bandara, ya di bandara."
"Terus?"
Zelia tertunduk, tak berani memandang kedua sahabatnya yang begitu fokus menatap dirinya.
"Gue akui dia sekarang udah cantik, pintar, baik, dan yaa orang tuanya sekarang udah kaya raya." Sahut Zelia dibalas anggukan oleh kedua sahabatnya.
"Lo iri? terus kita bakalan kerjain dia lagi?" Tanya Ketrin.
"Terus masalahnya apa? iri kayaknya bukan." Potong Maya.
"Dia sombong, dia pura pura ga kenal sama gue, sampai sampai dia ancam gue ke toilet." Sahut Zelia masih tertunduk.
Zelia merasa bodoh dihadapan teman temannya, tetapi ia masih berusaha untuk tetap tenang dihadapan teman temannya. Ia merasa bahwa teman temannya kali ini tak akan mau menolongnya, karena bagaimanapun juga mereka sudah menyelesaikan semua masalahnya dengan Diva.
"Oke! kapan kita buat perhitungan sama dia?" Sahut Maya sontak membuat Zelia mendongakkan kepalanya.