
Melihat Diva sudah keluar dari kelas, tak tinggal diam, Zelia ikut permisi menghampiri Diva ke toilet. Kesempatan ini harus ia gunakan sebaik mungkin, oleh karena itu Zelia melangkah hati hati agar tidak diketahui oleh Diva.
Tak lama kemudian, Zelia sampai di depan pintu toilet. Salah satu pintu toilet tampak tertutup, kemungkinan Diva sedang berada disana.
Zelia memulai rencananya, ia berdiri didepan cermin sambil mencuci tangannya sembari menunggu Diva.
Pintu itu seketika terbuka, tampak sosok gadis yang ia tunggu tunggu keluar. Gadis itu berjalan dengan tertunduk, tak berani menatap ke arah Zelia yang sedang membelakanginya.
"Anan?"
Langkah gadis itu seketika terhenti mendengar sebuah nama yang sudah tak asing lagi baginya. Baginya nama itu adalah nama kebencian, yang membuatnya masuk kedalam lubang kegelapan.
"Ananda? ekhemmm Lo ga kenal gue sama sekali?"
Zelia memalingkan wajahnya menghadap Diva, tangan Diva meremas ujung bajunya dengan gugup.
"Ananda, kali ini gue ga bakalan ngebully Lo lagi, tapi gue minta kerja samanya." Zelia berbisik pada daun telinga Diva.
"Nama saya Diva, bukan Anan atau Ananda. Mungkin kamu salah orang Rapunzel." Diva menjulurkan tangannya kepada Zelia, berusaha agar tetap tenang dengan senyuman manisnya.
Zelia tak bergeming mendengar perkataan Diva, perasaan Zelia bercampur aduk menatap gadis polos dihadapannya.
Gadis itu menaikan alisnya menatap Zelia yang masih terdiam membisu.
"Rapunzel? aku dengar kau anak konglomerat, tapi kenapa harus pindah kesini?" Panggil Diva menepuk pundak Zelia.
"Apa keluarga mu jatuh bangkrut karena kewalahan membesarkan mu?" Tambahnya lagi mulai membuat Zelia naik pitam.
"Itu bukan urusan mu." jawab Zelia.
"Aku kira kau sudah lupa dengan si cupu, tapi ternyata kau masih mengingatnya, apa semudah itu kau mengingat dosa?" Sahut Diva melirik Zelia dengan tatapan sinis.
Diva semakin mendekat ke arah Zelia, ia mengangkat tumitnya agar bisa berbisik pada daun telinga Zelia.
"Ingatlah, kali ini aku lebih unggul dari mu, tunggulah pembalasan dendam dari si cupu yang pernah kau bully!" Bisiknya membuat Zelia terbelalak.
"Berani sekali dia mengancam ku." Batin Zelia menatap sinis Diva.
Diva menepuk pundak Zelia, kemudian ia menatap Zelia dengan tatapan polosnya.
"Baiklah, sepertinya aku ketinggalan pelajaran favorit ku."
Merasa puas, Diva pergi begitu saja meninggalkan Zelia. Ia tersenyum puas atas keberaniannya melawan sosok yang selama ini ia benci.
"Sial! berani sekali dia mengancam ku!" Zelia menghentak hentakan kakinya dengan kesal.
Zelia bergegas menghidupkan kran air, lalu mencuci wajahnya dengan kasar.
"Ini tak mungkin! ini semua hanya mimpi! mana mungkin si cupu itu berani melawan ku." Zelia menatap cermin dihadapannya, terlihat jelas di wajahnya kepanikan serta emosi yang tak terkendali.
"SIALL!" Umpat Zelia menatap wajahnya di pantulan cermin.
"Bagaimana pun juga ini semua tak bisa dibiarkan, aku harus segera memberi tahu Maya dan Ketrin bagaimana pun caranya." Batin Zelia berjalan keluar dengan langkah gontai.
Sesampai di kelas para murid saling menatap, melihat ekspresi wajah Zelia yang begitu berbeda dari sebelumnya.
"Zel?" Panggil Rika dibalas anggukan oleh Zelia.
"Aku sangat capek, jangan ganggu aku dulu." Sahutnya menjatuhkan kepalanya diatas meja.
Rika hanya menatapnya heran dan membiarkan Zelia yang terlihat begitu hancur.