
Pagi hari kemudian....
"Ket! Ketrin bangun Lo!" Maya menepuk wajah Ketrin dengan pelan.
"Hoammm ada apa sih May? sekarang hari Minggu, jadi kita libur sekolah! gue ngantuk jangan di ganggu!" Sahut Ketrin masih memejamkan matanya.
"Sial Lo!" Maya mendorong tubuh Ketrin hingga ke ujung ranjangnya, sehingga membuat Ketrin terjatuh ke atas lantai.
"Ihhh apaan sih Lo ganggu orang tidur aja!" Sahut Ketrin terbangun dari tidurnya.
"Enak banget ya Lo tidur diatas kehilangan sahabat Lo sendiri!" Bentak Maya dengan suara meninggi.
"Hilang gimana?" Tanya Ketrin masih setengah sadar.
"Kakek Zelia barusan nelfon gue!"
"Terus apa hubungannya sama gue?"
"Rabun ga ada di rumah! gue kira dia dia semalam nginap di rumah Lo!" Maya mulai panik.
"Z- Zelia maksud Lo?"
"Iya Kebo!"
"Astaga gue lupa semalam!" Ketrin menepuk jidatnya pelan.
"Lupa apa Ket?"
"G- gue semalam ninggalin dia wehh!" Sahut Ketrin mulai panik.
"Arghh gila!" Maya dan Ketrin berlari menuruni anak tangga.
"Ma! Ketrin pergi dulu!" Teriak Ketrin berlari keluar kemudian masuk kedalam mobil Maya.
"Lo itu emang oon apa pura pura oon Ket! masa iya teman Lo sendiri Lo lupain!" Sahut Maya geram.
"Y- ya maaf, gue lupa."
Tak lama kemudian ia sampai di suatu tempat, Ketrin dan Maya segera berlari menghampiri tempat ia semalam, semoga saja sahabatnya itu tak hilang tanpa jejak.
"Z- Zel?" Tanya Ketrin dengan tubuh yang gemetar.
Ketrin dan Maya tak menemukan Zelia, ia kini mulai panik mencari kian kemari.
"Haiss Zelia Lo dimana?" Tanya Maya cemas sambil menghubungi handphone Zelia.
"Lahh kok ga aktif?" Tanya Maya cemas.
"Ya Lo sih ada ada aja!"
Tak lama kemudian Maya menerima telfon dari seseorang, di layar handphonenya tertera nama kakek Zelia.
"Mampuskan! kakek Zelia nelfon gue! gue mau ngomong apa coba!" Umpatnya.
"Ya udah Lo angkat aja, mana tau Zelia udah pulang."
Ketrin kemudian mengangkat telfonnya dengan tangan yang bergetar.
"Halo kek?"
"Oh syukurlah kalau begitu kek, kalau begitu aku sama Ketrin bakalan ke rumah sekarang." Sahut Ketrin menghirup nafas lega setelah mendengar Zelia sudah pulang.
"Kuy cabs ke rumah Zelia." Sahutnya masuk kedalam mobil.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Zelia terlihat tertidur pulas di dalam kamarnya, tanpa menukar bajunya terlebih dahulu yang terlihat kotor.
Sementara di ruang tamunya terlihat sang kakek bersama kedua lelaki sedang membicarakan hal yang serius.
"Nak Deko, terima kasih sudah membantu ku sekali lagi." Sahut Kakek Zelia berterima kasih kepada sosok pemuda yang lagi dan lagi sudah menolongnya.
"Sama sama kek, lagi pula semua ini belum sebesar pertolongan yang sudah kakek berikan kepada saya."
"Aku sangat terkejut melihat kedatangan kalian, apalagi dengan kau Dodi."
"Maksud kedatangan ku ke sini adalah untuk menerima tawaran mu Arman." Sahut Dodi sontak membuat Kakak Zelia terkejut.
"Benarkah?" Tanya sang kakek tak percaya.
"Iya kek, aku akan menerima tawaran kakek." Sahut Deko membenarkan perkataan Dodi.
"Syukurlah kalau begitu, hati ku sekarang terasa sangat tenang."
"Tapi kek, biarkan saya membimbing Zelia dengan cara saya sendiri tanpa campur tangan dari Kakek." Ujar Deko memberikan selembar kertas berisi perjanjian.
"Saya dan Zelia akan menikah secara tertutup, tidak boleh siapa pun yang tau bahwa saya dan Zelia sudah menikah termasuk teman temannya, Zelia harus tetap melanjutkan pendidikannya, dan kami akan terus pisah kamar selama ia belum lulus dari perguruan tingginya karena saya sangat mendukung pendidikan Zelia." Sahut Deko.
Inilah sosok yang sebenarnya ia cari, seorang pria yang sangat mendukung Zelia dalam menempuh pendidikannya. Bukan malah memberhentikan Zelia untuk fokus menjadi seorang istri.
"Saya tak akan meminta hak saya kepada Zelia sebelum ia menjadi sosok yang sukses serta sudah berpikir dewasa." Tambah Deko dibalas anggukan oleh Kakek Zelia.
"Aku sangat setuju dengan pendapat mu Deko, karena bagaimanapun juga aku juga ingin melihat Zelia menjadi sosok yang sukses dan berguna bagi banyak orang."
"Sebelumnya aku berterima kasih banyak kepada mu, aku sangat senang dengan pola pikir mu, aku kira pendidikan Zelia akan berakhir sampai disini, tetapi saat mendengar perkataan mu membuat hati ku merasa lega."
"Baiklah kalau begitu aku sangat mendukung persyaratan dari mu, semoga saja tidak mengecewakan ku." Tambahnya lagi.
"Baiklah kalau begitu kek, Deko sama papa harus pulang sekarang." Pamit Deko.
"Kek? Zelianya mana ya kek?" Tanya Ketrin tiba tiba masuk kedalam rumahnya.
"Zelia ada kok dikamarnya."
"Lah pak Deko? pak Deko ngapain kesini?" Maya terkejut melihat wujud Deko yang sedang duduk bersama kakek Zelia.
"Ada sebuah urusan mendadak, pa.. ayo kita pulang." Pamit Deko diikuti oleh Dodi.
"Arman, aku pulang dulu." Sahutnya bersalaman dengan sahabatnya.
Ketrin dan Maya bengong sesaat, namun terhenti oleh BI Siti yang menepis pundak mereka.
"Non Zelia lagi bobo, mending pulang dulu Eneng Enang syantik." Sahutnya.
"Eh gitu, oke deh bi, kami pulang dulu ya! jangan lupa kasih tau Zelia kalau Maya sama Ketrin tadi kesini." Pamit Maya dibalas anggukan oleh BI Siti.
Maya dan Ketrin berlalu pergi dari kediaman Zelia, di dalam benak mereka berisi beribu pertanyaan tentang kedatangan Deko.