
"Tak apa jika begitu, aku juga tak bisa memaksa mu, tapi aku sangat berharap untuk mendapatkan pertolongan dari mu." Sahut Kakek Zelia sambil berdiri dari duduknya.
"Dodi, aku harus segera pulang sekarang." Kakek Zelia langsung pamit dengan berat hati.
"Loh kenapa secepat ini kamu pulang Arman?" Tanya Dodi ikut berdiri.
"Cucu ku sudah pulang, aku takut ia kenapa napa dirumah. Kalau begitu aku pamit dulu." Kakek Zelia menjulurkan tangan kanannya.
"Baiklah kalau begitu, kalau ada apa apa langsung saja hubungi aku, maaf sebelumnya atas semua ini." Sahut Dodi bersalaman dengan sahabat lamanya.
"Nak Deko, kakek pamit dulu." Ucap Kakek Zelia.
"Iya hati hati di jalan ya kek, sebelumnya Deko minta maaf sebesar besarnya." Ujar Deko menyalami tangan Kakek Zelia.
"Tak apa, sebaiknya kita bicarakan baik baik seperti ini, jadi tidak ada keterpaksaan diantara kita." Sahut Kakek Zelia.
"Apa yang akan kita lakukan lagi kek?" Tanya Ferdy berbisik kepada kakek Zelia.
"Jalankan rencana kita yang kedua." '
Kakek Zelia, Ferdy, dan Bobi kemudian meninggalkan rumah Dodi. Kini hanya Deko dan Dodi yang tersisa.
"Kamu puas sekarang Deko?" Tanya Dodi sedikit kesal.
"Maaf nak, papa harus istirahat sekarang. Tidurlah disini untuk malam ini, kembalilah ke kota besok pagi." Dodi memijit pelipisnya frustasi.
"Pa?" Seketika langkah Dodi langsung terhenti.
"Papa setuju kan hubungan ku dengan Vina?" Tanya Deko membuat Dodi menghembuskan nafasnya perlahan.
"Ko." Dodi mendudukkan tubuhnya pada kursi yang berada di hadapan Deko.
"Papa sangat heran dengan kamu, kenapa kamu lebih memilih Vina dari pada cucu sahabat papa? apa kamu tak pernah berpikir dengan Vina? dia sekarang adalah seorang model, huftt semakin banyak ia memiliki uang kenapa kini bajunya malah menjadi kurang bahan? apa kamu mau mempunyai istri yang begitu ko? papa jadi takut jika Vina susah untuk kau atur." Keluh Dodi naik pitam. Deko hanya membalasnya dengan senyuman, walaupun kini hatinya sedang terasa berguncang.
"Pa? namun apa bedanya dengan cucu sahabat papa?" Sahut Deko tersenyum.
"Zelia? jika saja ia kini tak berada di dalam bahaya, mungkin saja dia belum tentu ingin menikah dengan mu." Balas Dodi.
"Pertolongan? pa, aku dengan cucunya hampir setiap hari bertemu, dia begitu terobsesi dengan ku, bagi ku itu sangat berlebihan, apalagi dia masih labil dan kekanak kanakan, dan dia lebih sulit untuk di atur." Kali ini Deko mengeluarkan uneg unegnya tanpa berpikir terlebih dahulu, amarah nya kini sudah tak terkontrol.
"Untuk di atur kata mu? kau cukup menjaganya Deko!" Bentak Dodi.
"Memang dia siapa bagi ku? kakeknya saja hanya sebatas sahabat papa, dan keluarga kita juga tak memiliki hutang Budi pada keluarga kita."
"Stop Deko! Jangan asal ngomong kamu!kenapa kali ini kau berani membantah ku? asal kau tau, kakek Arman yang membantu kita sampai saat ini, asal kau tau, karena dia lah kau bisa sukses sampai sekarang, dia membiayai semua kebutuhan mu Deko! Dan satu hal yang harus kau tau, jika bukan karena dia, mungkin saja kau sekarang masih berada di bawah naungan panti asuhan!" Dodi mengeluarkan semua dalam pikirannya.
Deg!
"Jadi aku bukan anak kandung papa?" Tanya Deko dengan suara bergetar.
Dodi seketika sadar dengan ucapannya.
"D- Deko!"
"Tak apa pa, sekarang aku tau semuanya, sebelumnya aku berterima kasih kepada papa sudah membesarkan ku hingga saat ini." Deko berlalu pergi dengan perasaan hancurnya, ia segera mengambil kendaraannya kemudian pergi dengan kecepatan tinggi.
"Deko kau mau kemana nak!" Teriak Dodi melihat kepergian Deko.
"Tak seharusnya aku memaksakan kehendak ku kepadanya! kenapa aku seceroboh ini ya tuhan!" Dodi melemparkan gelas yang berada di atas meja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya.
Ferdy melaksanakan tugasnya disebuah pameran busana, yang saat ini di penuhi oleh para model golongan atas. Tugasnya kali ini harus menemukan Vina dengan segera.
Kebetulan saat itu Vina hanya duduk sendiri, sambil memberikan dukungan terhadap teman temannya.
"Kau ini Vina bukan? model yang sedang terkenal sekarang?" Sahut Ferdy ikut duduk disamping sosok wanita berpakaian elegan.
"Lohh kamu emangnya ga ikut?"
"Tuan sendiri kan tau, pameran ini hanya di ikuti oleh para top model apalagi mereka sudah sampai keluar negri." Jawab Vina dibalas anggukan oleh Ferdy.
"Lalu kamu hanya akan sampai disini saja? tak ingin seperti mereka?" Tanya Ferdy membuat Vina tertegun diam.
"Lagi pula semua itu mustahil bagi saya, saya hanya lah seorang anak yang berasal dari panti asuhan, saya sampai ke titik ini semua karena pertolongan dari sahabat kecil saya tuan." Sahut Vina menunduk.
"Tapi tak apa tuan, ini yang dinamakan dengan hidup. Setidaknya saya mendapat sosok lelaki yang membuat saya bahagia hingga sekarang." Sahut Vina kembali menatap Ferdy dengan senyuman.
"Bagus kalau begitu, tapi saya berharap kamu tidak menyia nyiakan apa yang telah kamu capai sampai saat ini." Sahut Ferdy.
"Kamu datang ke sini hanya sendirian?" Tanya Ferdy.
"Bukan, saya kesini bersama dengan kedua teman saya."
"Oh begitu."
"Lalu tuan bagaimana? apakah tuan datang sendirian? atau kah bersama teman anda tuan?" Tanya Vina berbalik bertanya.
"Saya datang kesini sendirian, dan hanya sebentar saja, dan yaaa sebentar aku kembali bekerja." Sahutnya melirik jam tangannya.
"Tuan terlihat sosok yang sangat sibuk bagi saya."
"Saya disini juga ditugaskan untuk memantau pameran ini." Sahut Ferdy.
"Benarkah tuan?"
"Kamu tau siapa yang ikut mensponsori pameran ini?" Tambah Ferdy.
"Salah satunya atasan saya, atasan saya juga ikut serta mensponsori pameran ini." Bisiknya pada telinga Vina.
"Benarkah? pameran ini membutuhkan dana yang sangat banyak, apa kah perkataan mu benar?" Tanya Vina tidak percaya.
"Tentu saja." Sahut Ferdy tergeletak pelan.
"Aku bisa membantu mu saat ini, tapi hanya satu kesempatan ini saja." Bisik Ferdy pelan.
Vina tak menyangka apa yang didengarnya, bagaimana mungkin ia di berikan tawaran baik secara tiba tiba.
"Saya harap kau menerima tawaran saya." Sahut Ferdy.
"Kamu bisa ke New York dua hari lagi, semoga saja kamu tertarik dengan tawaran saya." Sahut Ferdy sontak membuat Vina tak percaya.
"New York? astaga apa mungkin kesempatan ini ku lewatkan?" Batin Vina.
"Bagaimana?" Tanya Ferdy memastikan Vina.
"Oke, saya menerima tawaran anda tuan." Vina menerima tawaran Ferdy dengan senang hati.
"Baiklah kalau begitu, ini kartu nama saya. Kalau butuh apa apa silahkan hubungi saya." Sahut Ferdy memberikan kartu namanya kepada Vina.
"Nah ini kartu nama saya, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas tawaran anda tuan." Sahutnya.
"Baiklah kalau gitu saya harus kembali lagi, senang bertemu dengan mu."
"Saya juga senang bertemu dengan anda tuan." Sahut Vina.
Ferdy beranjak pergi dengan segera.
Vina kemudian mengeluarkan handphone nya, lalu mengotak atik layar handphonenya.
"Deko, terima kasih sudah membantu ku selama ini."
"Maafkan aku untuk kali ini Deko. Aku harus memilih tawaran ini dan membatalkan pertunangan kita." Batin Vina sambil mengirim suatu pesan kepada Deko.