Rabunsell

Rabunsell
BAB 42 : HANDPHONE



Saat jam pulang, Zelia melangkah lunglai keluar kelasnya. Di parkiran Deko tampak menunggu Zelia berkali kali melirik jam tangannya.


"Tumben Zelia lama?" Tanya Deko.


Deko mengeluarkan nafas lega menatap gadis yang ia tunggu tunggu itu melangkah menghampirinya.


Zelia hanya diam terduduk di belakang Deko, seperti biasa Deko memajukan motornya dengan kecepatan sedang.


"Zel, nanti malam saya ada keperluan sama pak Ade di kota, jadi kamu di rumah aja, jangan keluar dari rumah." Deko memecahkan keheningan diantara mereka berdua.


"Nanti malam? terus Zalia sendirian gitu dirumah? ihh ga mau Ko, Zelia ikut!" Rengek Zelia mulai kekanak kanakan.


"Ya mau gimana lagi Zel, pokoknya kamu ga bisa pergi."


Tiba tiba ide cemerlang terlintas dalam benak Zelia, malam ini adalah waktu yang tepat baginya.


"Oke deh ko, Zelia ga ikut."


"Tapi, kamu ga boleh keluar rumah dan pergi ke kota, kalau kamu ngelanggar kamu akan tau sendiri akibatnya." Ancam Deko.


"Sip bos!"


Sesampai di halaman rumah, Zelia turun dari motor Deko.


"Bye bye Koko! hati hati dijalan ya." Zelia melambaikan tangan, karena bagaimanapun juga Deko harus kembali menyelesaikan pekerjaannya di sekolah.


Mata Zelia masih memandang kepergian Deko, setelah hilang dari pandangannya, Zelia bergegas membuka pintu kemudian masuk dalam rumahnya.


Zelia melemparkan tas serta kaus kakinya kesembarang arah, lalu berlari masuk kedalam kamar Deko.


"Langkah pertama gue harus cari itu handphone sampai ketemu." Sahut Zelia mengacak acak lemari Deko.


Entah kenapa hari ini Deko lupa untuk mengunci kamarnya, biasanya ia selalu mengunci kamarnya agar Zelia tidak bisa masuk kedalam kamarnya.


"Hmm dimana yah?" Tanya Zelia berusaha mencari handphonenya.


Mata Zelia seketika tertuju menatap sebuah kotak hitam di atas meja kerja Deko, ia melangkah pelan mengambil kotak hitam itu.


"Udah ketinggalan berapa gosip ya gue." Sahut Zelia menghidupkan layar handphonenya.


Zelia merebahkan tubuhnya di kasur Deko sembari memainkan handphonenya.


"Dua puluh ribu pesan yang belum anda baca." Sontak membuat Zelia kembali terduduk.


Zelia membuka salah satu aplikasi yang terdapat di handphonnya, kemudian membaca berbagai pesan dari teman temannya.


Banyak pesan ia dapatkan dari Ketrin dan Maya, mereka banyak menanyakan tentang kabar Zelia.


Tanpa pikir panjang, Zelia menekan tombol telfon di ujung layar handphonenya. Ia sudah tidak sabar mendengar ocehan teman temannya.


Tak butuh waktu yang lama, telfon Zelia terhubung dengan teman temannya.


"Woi Rabun, masih hidup Lo?"


Sahut Ketrin tak menyangka akan dihubungi oleh sahabatnya yang sudah beberapa hari tak memberi kabar.


"Sial! Lo kira gue udah mati apa?" Balas Zelia tak terima.


Mereka saling tertawa dan saling meledek satu sama lain. Suasana ini sudah lama tak di rasakan oleh Zelia, biasanya setiap detik dan menit mereka saling berbagi cerita dan saling meledek satu sama lain.


"Gimana kabar Lo setelah konser? ga pingsankan?" Tanya Ketrin membuat Zelia terdiam.


"Halah, jangankan pingsan, dia aja ga kasih kabar sama kita." Potong Maya.


"Sorry guys, gue sibuk banget makanya ga ada waktu kasih kabar sama kalian berdua." Balas Zelia.


"Iya deh si paling sibuk."


"Ehh lo tau ga? Pak Deko sekarang udah pindah." Tambah Maya.


"Oh gitu." Zelia berpura pura tak tau, karena bagaimanapun juga ia harus merahasiakan semua ini dari Maya dan Ketrin.