Rabunsell

Rabunsell
BAB 30 : RITUAL NGEVET



Pernikahan mereka pun berjalan dengan lancar, walaupun pengantin pria tampak risih dan tak nyaman berada disamping pengantin wanitanya.


"Syukurlah, akhirnya kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri." Sahut sang penghulu.


Setelah akad nikah selesai, perlahan lahan para hadirin pamit untuk kembali pulang. Termasuk Dodi, ia pun harus pergi keluar kota untuk mengurus hal yang sangat penting.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Malam pun tiba, dimana Deko dan Zelia yang kini hanya tinggal berdua di rumah Dodi. Memang ini adalah malam yang indah pengantin baru, tapi bagi Deko ini adalah malam yang tak ia inginkan.


Setelah makan malam, Deko dan Zelia duduk di sebuah sofa sambil menonton sebuah film untuk menghilangkan rasa jenuh. Bayangkan saja, selesai akad nikah hingga malam ini tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut mereka.


Zelia menatap wajah Deko kegirangan, kali ini entah apa yang ia pikirkan dalam benaknya.


"Hmm ko..." Panggil Zelia pelan.


Deko membalasnya dengan tatapan malasnya.


"Ko, kakek mana ya?" Tanya Zelia menaikkan kakinya ke sofa.


"Kakek kamu sekarang lagi di Amerika sedang berobat." Jelas Deko yang masih sibuk menonton filmnya.


"Oh gitu, ehh terus tiket konser Zelia hangus dong ko?" Tanya Zelia manyun.


Deko memperbaiki duduknya, dan kini mereka berdua saling berhadapan. Tentu saja jarak mereka semakin dekat, sehingga membuat jantung Zelia berdebar kencang.


Aduhhh....


Zelia meringis kesakitan sembari memegang dahinya.


"Makanya jadi orang jangan balas baca, kamu ga liat tanggal berapa? udah hangus loh Zel." Sahut Deko menyunggingkan senyum jahatnya setelah menyentil dahi Zelia.


"Haisss Koko, sumpah deh Koko! setelah liat senyuman manisnya koko, sakitnya jadi hilang ko! ga kebayang deh kalau nanti malam kita bakalan ritual ngevet di kamar, pasti Zelia ga sakit ko karena di semangatin senyum manisnya Koko." Pekik Zelia sontak saja membuat Deko ngeblank.


"Mau berapa ronde ko nanti malam?" Bisiknya membuat Deko merinding.


Deko kembali memasang wajah datarnya, kemudian ia beranjak berdiri dari duduknya.


"Jangan harap." Sahut Deko dengan tegas kemudian pergi masuk kedalam kamarnya.


Zelia ternganga menatap kepergian Deko, apalagi mendengar suara pintu yang kini sudah tertutup rapat.


Zelia menyunggingkan senyumnya, kemudian mengikat rambutnya hingga membuat lehernya terlihat jelas.


"Cieee Koko nakal ya ternyata, lihat aja nih sekarang dia duluan yang masuk kamar, memang tuh si Koko udah ga sabar lagi sekarang." Sahut Zelia kembali mengikat rambutnya.


"Aimmm kominggg kokooo." Sahut Zelia berlari kecil menghampiri pintu kamar Deko.


Zelia perlahan memegang gagang pintu, kemudian memutarnya kebawah.


"Lohh kok ga bisa di buka!" Sahut Zelia panik.


Lagi dan lagi ia berusaha membuka pintu, tapi hasilnya tetap nihil.


"Koko! pintunya rusak ko, ga bisa dibuka." pekik Zelia mengetok pintu kamar Deko.


"Apa jangan jangan udah di kunci lagi sama Deko didalam?" Batin Zelia.


Sementara didalam kamar tampak Deko merebahkan tubuhnya, sambil memijat pelipisnya frustasi mendengarkan kicauan Zelia diluar kamarnya.


"Sial! baru juga di tinggal satu detik udah ribut di luar, ya tuhan apa boleh aku talak dia sekarang?" Keluhnya di dalam hati.


"Untung saja pintu sudah duluan aku kunci." Sahut Deko kemudian memejamkan matanya.


"Koko sayang bukain pintunya! janji deh nanti Zelia beliin seblak!" Teriak Zelia membuat kuping Deko terasa pecah.