
Hari sudah hampir menjelang malam, setelah beristirahat sebentar di sekolah mereka langsung pergi menuju klub malam di pusat kota.
Tak lama kemudian mereka sampai di salah satu klub malam. Didalam sana terdengar suara alunan musik dengan lampu temaram yang menyinari setiap sudut ruangan.
Terlihat banyak orang golongan atas berkunjung serta masuk kedalam klub malam untuk menghabiskan waktu bersenang senang dan mencari kepuasan lain.
Zelia bersama teman temannya kemudian duduk disalah satu sofa yang jauh dari kerumunan orang orang.
Pelayan club malam dengan pakaian minim itu datang membawakan minuman alkohol yang sudah di pesan oleh Maya.
"Haisss gue udah lupa gimana dengan rasa yang namanya alkohol." Sahut Maya meneguk minumannya.
"Gue juga, terakhir kita pergi pas terima lapor kenaikan kelas." Ujar Ketrin ikut meminum minuman beralkohol.
Maya dan Ketrin saling tertawa, sedangkan Zelia menjatuhkan kepalanya pada meja.
"Haiss gue benci bau aroma minuman beralkohol." Sahut Zelia menyandarkan tubuhnya.
"Dek, kalian ngapain disini? pulang sekolah harusnya kalian langsung pulang kerumah." Sahut seorang pria memperhatikan seragam sekolah mereka.
Mereka bertiga berpura pura tak mendengarnya, sehingga membuat pria itu pergi menjauh dari mereka.
Bagi mereka bertiga sudah terbiasa untuk memakai baju seragam sekolah untuk masuk ke dalam sebuah klub malam. Maya selalu membayar dua kali lipat untuk bisa masuk kedalam klub malam tanpa mengganti pakaian mereka terlebih dahulu.
"Sumpah deh gue haus pengen minum." Sahut Zelia mengibaskan tangannya.
"Ya udah ini minum." Maya memberikan sebuah gelas wine berisi minuman beralkohol.
"Thanks!" Sahut Zelia kemudian meneguk minumannya dengan satu tegukan.
Tak sampai disana, Zelia kemudian menambah minumannya dalam gelas winenya.
"Zel! Lo bisa minum baik baik kan?" Tanya Ketrin lembut.
"Tambahin lagi minuman gue! sumpah gue haus banget!" Pinta Zelia mulai pusing.
Maya hanya mengiyakan keinginan sahabatnya, dengan segera ia meminta tambahan lagi untuk minuman beralkohol Zelia. Zelia menjatuhkan kepalanya karena sudah mulai sedikit pusing.
"Lo kenapa sih Zel? Lo lagi ada masalah dirumah?" Tanya Maya penasaran.
"Hmm kalian berdua tau ga?" Sahut Zelia mendongakkan kepalanya.
Maya dan Ketrin saling berhadapan, kemudian mulai mendekati Zelia.
"Maksud Lo?" Tanya Ketrin khawatir.
"Gue ga sengaja dengerin pembicaraan kakek gue sama seorang dokter yang kemarin datang kerumah gue." Sahut Zelia sempoyongan.
Maya dan Ketrin saling menatap Zelia dengan heran serta perasaan sangat khawatir.
"Kalian tau? hahahh umur kakek gue ternyata udah ga lama lagi lohhh!" Sahutnya tertawa lepas.
"Gara gara dia selalu aja cuek untuk kontrol kesehatannya." Tambahnya lagi dengan suara yang bergetar.
"Tapi gue ga papa loh ditinggal sebatang kara disini." Sahut Zelia dengan mata yang berkaca kaca.
"Gue ga papa ditinggal sendirian disini.... hiks hiks hiks...." Zelia mengeluarkan tangisannya dihadapan kedua sahabatnya. Maya dan Ketrin menenangkan Zelia dengan segera.
"Lo tenang aja! kita berdua akan tetap berada kok temani Lo Zel!" Sahut Ketrin sembari memeluk Zelia.
"A- apa lagi... hiks hiks.... gue... gue ditinggal Koko guee...." Zelia menangis sejadi jadinya disana, untung saja saat itu suara musik begitu keras hingga membuat suara tangis Zelia tak terdengar oleh semua pengunjung.
"Lo yang sabar ya Zel." Sahut Maya menenangkan Zelia.