
Bel istirahat berbunyi, banyak para siswa berhamburan keluar menuju kantin. Berbeda dengan Zelia, ia masih sibuk menyelesaikan tugasnya.
Aku insecure sama murid baru itu, mungkin saja dia juara kelas baru dikelas kita ini.
iya dia anak ambis ternyata.
Banyak teman teman kelasnya saling membisikkan Zelia. Entah kenapa seharian ini Zelia menjadi pusat perhatian dalam kelasnya. Tak hanya dalam kelas, murid kelas lainnya pun juga banyak memperhatikan Zelia, apalagi para buaya yang mulai mengincar Zelia.
Dughhh...
Sebotol minuman segar diletakkan di atas meja Zelia, Zelia mendongakkan wajahnya melihat seseorang yang meletakkan sebotol minuman pada mejanya.
Zelia mengernyitkan dahinya heran, siapa sosok lelaki yang kini berdiri di hadapannya.
Ia menjulurkan tangan kanannya kemudian tersenyum kearah Zelia.
"Gio." Sahutnya.
Zelia menatap Gio dari ujung kaki hingga ujung kepala, bisa di akui bahwa sosok lelaki dihadapannya memang tampan. Tetapi masih belum termasuk speak idaman Zelia.
"Wooww nama yang keren di antara seluruh crocodile." Ucap Zelia tak sengaja keluar dari mulutnya.
"crocodile?"
"M- maksud gue, ehmm cuekin aja." Zelia berusahalah mengalihkan pembicaraan mereka.
"Dan nama kamu siapa?" Tanya Gio.
"Z- Zelia." Sahut Zelia menyambut juluran tangan Gio.
"Ga perlu canggung, aku sih orangnya ga terlalu-."
"Koko?" Zelia tak sengaja menyebut nama Deko ketika melihat Deko tak sengaja lewat di depan kelasnya.
Gio tampak ikut menatap kearah pintu, senyuman jengkelnya pun kembali terbit.
"Hahah itu bapak Deko ya? sumpah deh aku ga suka belajar sama dia." Ucap Gio membuat Zelia menatapnya dengan tatapan sinis.
"Berani kali nih orang jelek jelekin laki gue." Zelia memutar bola matanya.
"Eh iya ke kantin barengan yuk Zel." Ajak Gio.
"Maaf, aku udah bawa makanan dari rumah, kalau mau ke kantin pergi aja sendiri." Tolak Zelia lupa menjaga lisannya.
" Eh maksudnya sama teman lain kamu." Tambah zelia.
"Ya udah ga papa, kita makan bekal bareng aja disini." Sahut Gio duduk disamping Zelia.
Zelia mulai risih dengan tingkah Gio. Baru juga kenal, Gio sudah sok kenal sok dekat pada Zelia.
"Sabar Zel sabar, ini resiko Lo terlalu cantik dimata semua orang zel." Zelia memutar badannya untuk mengambil sesuatu didalam ranselnya.
"Bekal kamu mana?" Zelia melirik sosok lelaki yang duduk disampingnya.
"Sial! baru juga kenal udah mulai modus dianya, dihh amit amit gue satu kotak sama dia." Batin Zelia tak suka.
Zelia membuka penutup kotak bekalnya. Kali ini bekalnya adalah nasi goreng, lebih tepatnya nasi goreng spesial dan bekal perdananya. Terlebih lagi sosok spesial yang telah memasak bekal Zelia, sehingga membuat Zelia tak sabar untuk menyantapnya.
"Wuihh." Sahut Zelia sudah tak tahan melahap makanannya.
Zelia mulai memasukkan makanannya, baru kali ini iya merasakan makanan yang begitu sangat lezat.
"Hmmm gue ternyata emang ga salah pilih laki!" Batin Zelia takjub dengan Deko.
Gio yang melihat Zelia ikut lapar dibuatnya, apakah makannya seenak itu sehingga membuat Zelia senyum senyum sendiri melahap bekalnya?
Gio mengambil garpu Zelia, kemudian mencoba mengambil nasi goreng Zelia walau hanya sedikit.
Gio tak sengaja menyenggol tangan Zelia, sehingga membuat Zelia tersadar.
"Eitss." Sahut Zelia menjauhkan kotak bekalnya.
"Maaf ya crocodile, kayaknya aku ga bisa berbagi deh, karena satu kotak ini saja kayaknya belum cukup buat aku." Zelia merebut garpunya dari tangan Gio.
Ingin rasanya ia mengumpat, tapi bagaimana pun juga Gio adalah teman barunya. Jika saja suatu perkataan buruk menyakiti hati gio, kemungkinan besar Gio akan mengetahui sifat asli Zelia.
"Heheh maaf ya." Sahut Zelia kembali melahap makanannya.
Gio hanya diam terpaku, lalu tersenyum kembali kepada Zelia. Tiba tiba ia mengelus rambut Zelia dengan lembut, tentu saja ini membuat Zelia risih.
"Kenapa diam? ayo lanjutin makanannya." Sahut Gio merasa tidak bersalah.
Zelia masih mematung menatap Gio, berani sekali siluman buaya ini mengelus rambut Zelia.
Uhukkk... uhuk....
Zelia langsung tersedak melihat sosok Deko yang berdiri di depan pintu kelasnya, entah sejak kapan sosok itu memperhatikan Zelia.
Zelia menepis tangan Gio dengan sangat kuat. Kemudian menatap Deko dengan ketakutan.
"Ko? ehhh p- pak?"
Deko memperhatikan wajah Zelia dengan mata yang tajam seperti raja hutan, seakan ingin menerkam mangsanya.
Tak lama kemudian ia langsung beranjak pergi meninggalkan Zelia yang masih shock atas kedatangannya.
"Ada apa Zel?" Tanya Gio seketika membuat Zelia tersadar dari lamunannya.
"Ga ada."
"Hmm Zel, aku pamit ke kantin bentar ya."
Zelia tak menanggapi Gio, ia masih bersikap acuh tak acuh dengan pikiran yang masih tertuju kepada Deko bukan Gio.
"Ya tuhan, mudah mudahan Koko hamba mu yang satu ini cemburu." Zelia berdoa dalam hatinya.