Rabunsell

Rabunsell
BAB 44 : DIGADAIKAN



"Maksud Lo?" Tanya Zelia memastikan.


"Kita buat perhitungan sama si cupu, gue ga terima teman gue di ancam sama si cupu!"


Zelia tak menyangka apa yang ia dengarkan dari mulut Maya, sebelumnya ia mengira bahwa Maya akan bertanya lebih padanya.


Ketrin memegang tangan kanan Zelia, sontak saja membuat Zelia kaget.


"Kalau Lo lagi ada masalah Lo cerita aja." Sahut Ketrin dibalas senyuman oleh Zelia.


"Oke Zel, pesan semua yang Lo mau gue traktir, lihat nih gara gara mikirin kakek Lo yang sakit sakitan Lo mulai kurusan." Ucap Maya.


Zelia memuaskan semua keinginannya, banyak makanan yang kini sudah tersusun rapi di meja makannya.


Mereka bertiga melahap makanannya di iringi suara tawa dan canda dari mulut mereka.


"Dan Lo tau... gara gara teman Lo yang satu ini rewel, Reyvan jadi ngambek tujuh hari tujuh malam." Maya tertawa lepas menceritakan suatu hal konyol kepada Zelia.


Zelia dan Ketrin ikut tertawa, namun tiba tiba handphone Zelia berdering sehingga mereka saling terhenti tertawa.


Zelia terbelalak mendapati suatu nama yang tertera dari layar handphonenya.


"Koko?" Ucap Maya.


"Mampus!" Umpat Zelia dalam hatinya.


Dengan tangan bergetar, Zelia mematikan handphonenya secara total.


"Oke, tadi kita sampai dimana?" Zelia mengalihkan topik.


"Koko? maksudnya pak Deko?" Sahut Maya penasaran.


"G- ga, mana mungkin pak Deko mau nelfon gue? yang ada kakek gue, biasa gue kan suka ngehalu heheh." Sahut Zelia kembali melahap makanannya.


"Maybe, gua juga ga yakin." Balas Maya meneguk minumannya.


"Oke guys, sepertinya gue harus pulang sekarang." Pamit Zelia bergegas pergi begitu saja meninggalkan teman temannya.


Zelia berlari keluar dari Cafe, bukannya bergegas pulang, ia malah masuk kedalam sebuah Bank.


...----------------...


"Sudah empat jam aku menunggu bocah tengil itu untuk pulang."


"Kenapa aku harus memikirkan bocah ingusan itu, setidaknya malam ini akan menjadi malam yang tenang untuk aku beristirahat." Deko merebahkan tubuhnya di sebuah sofa.


Deko tiba tiba terduduk dengan perasaan cemasnya. Suatu khayalan buruk entah kenapa bisa terlintas dalam benaknya.


"Apa pria suruhan itu mengikuti Zelia lagi?" Tanyanya dengan nafas yang tersengal sengal.


Pintu tiba tiba terbuka, dengan segera Deko berpura pura tertidur di atas sofa. Sedangkan Zelia berjalan mengendap endap seperti maling.


"Syukurlah Koko udah tidur!" Zelia bernafas lega menatap Deko yang tertidur pulas.


Baru juga sampai di depan pintu kamar, suara panggilan menghentikan langkah Zelia. Dengan pelan, Zelia memutar tubuhnya mengarah ke asal suara.


Zelia sontak kaget mendapati sosok pria yang sudah terduduk menatap tajam kearahnya.


"Mampus!" Umpat Zelia.


Deko mengalihkan pandangannya, secepat kilat Zelia berlari mendekati Deko.


"Koko... Zelia bosan tadi sendirian dirumah." Sahut Zelia.


"Aku tak ingin mendengarkan alasan mu, cepat kembalikan handphone mu." Deko menjulurkan tangannya, meminta Zelia untuk memberikan handphonenya.


Zelia meletakkan dagunya diatas telapak tangan Deko, lalu tersenyum tipis melirik Deko yang masih terdiam.


"Udah digadaikan ko." Seru Zelia sontak membuat Deko ternganga.


"D- digadaikan?" Tanya Deko tak percaya.


"Ho'oh ko."


"Uangnya udah habis, Zelia habisin beli makanan kok, sekarang udah sampai di lambung semuanya, pengen bawa pulang sih ko, tapi takut nanti keburu dingin." Sahut Zelia dengan wajah polosnya.


"Ya sudah kalau gitu, bergegas lah tidur." Sahut Deko beranjak dari duduknya.


"Jika begitu aku sudah tak perlu lagi menyembunyikan handphone nya." Batin Deko melangkah masuk kedalam kamarnya.