
Dengan langkah kaki tergesa gesa, Zelia melirik jam tangannya. Pagi ini ia telat bangun hingga membuatnya dengan Deko terlambat datang ke sekolah.
"Ini jam dua atau jam delapan sih!" Umpat Zelia melepas jam tangannya dengan kuat, sehingga membuat tali jam tangannya putus dan jatuh ke lantai.
Karena tergesa gesa, Zelia tak menyadari jam tangannya, ia malah mempercepat langkah kakinya menuju kelasnya.
Deko yang tak sengaja melihat jam tangan Zelia jatuh, ia memungut jam tangan itu kembali, kemudian memasukkan barang itu ke dalam saku celananya.
"Dia itu berpura pura bodoh atau memang bodoh?" Batin Deko.
"Aku memang bodoh, bisa bisanya aku tak paham menggunakan jam sialan itu!" Umpat Zelia setelah sampai didepan kelasnya.
Didalam kelasnya kegiatan belajar mengajar sudah berlangsung, kali ini dia sudah jauh terlambat tiga puluh menit.
Wanita paruh baya yang sedang mengajar dikelas Zelia menyadari kedatangannya. Sebut saja namanya Sinta, guru fisikanya. Bu Sinta memiliki kepribadian yang sangat tegas, disiplin, serta sangat multitalenta.
"Rapunzel?" Panggil Sinta masih menulis di papan tulis.
Dengan jantung yang berdebar kencang, Zelia memberanikan diri memasuki ruangan kelasnya. Entah kenapa tubuhnya kali ini terasa mati rasa, kakinya terasa berat untuk melangkah mendekati Sinta.
"Duduklah, besok saya tidak mau mendengarkan keterlambatan kamu lagi." Sahut Sinta masih tak menatap wajah Zelia, ia masih sibuk menulis di papan tulis.
Zelia menghembuskan nafas lega, ia berlari kecil menghampiri kursinya. Untung saja Sinta tak marah besar terhadap Zelia, jika tidak tentu saja Zelia akan merengek ingin pindah sekolah.
"Zel, kamu ini pakai jimat apa sih? kok bisa Bu Sinta ga marah sama kamu?" Tanya Rika heran melihat kedatangan Zelia.
"Astaga, baru juga datang udah di tanya ini itu." Batin Zelia.
"Ramah sih iya, tapi kalau kamu cari masalah biasanya sih langsung di terkam, sampai sampai diseret ke ruang BK." Rika berbisik pada daun telinga Zelia.
"Lo ga tau? sebenarnya semua guru disini tunduk sama gue!" Batin Zelia.
"Oh begitu." Sahut Zelia berpura pura kaget.
Rika membalas dengan anggukan, matanya kini terfokus dengan papan tulis di depannya. Suasana kini kembali hening, rasa kantuk kini terasa oleh Zelia.
"Zelia sabar Zel, tinggal tujuh jam lagi kok Lo disini! nanti pas pulang Lo bisa rebahan sampai malam." Batin Zelia melawan rasa kantuknya.
Ia memutar bola matanya kearah Diva, entah kenapa manik matanya tak ingin beralih menatap gadis itu.
"Si cupu itu gue akui memang cantik, pintar, dan ga heran jadi primadona di sekolah ini, tapi kenapa dia ga pernah sekali pun ngelirik gue?" Batin Zelia dengan mata yang terfokus pada Diva.
Tanpa disadari Zelia, bola mata mereka sekilas bertemu, tetapi entah kenapa Diva selalu menjauhi Zelia.
"Kebanyakan Dosa kali ya, atau ga udah sombong? hmm mungkin aja gue bisa tuh manfaatin Diva, lagian gue juga belum punya teman kan disini?" Batin Zelia kembali dengan akal liciknya.
Diva mulai canggung dengan tatapan Zelia, dengan segera ia berdiri sembari mengangkat tangannya.
"Bu, boleh minta izin sebentar ke toilet Bu?" Sahut Diva dengan suara bergetar.
Semua murid seisi kelas saling pandang memandang, baru kali ini mereka mendengar Diva pamit ke toilet. Biasanya, gadis itu tak akan mau melewatkan pelajarannya sedikit pun.
"Tentu saja." Jawab Sinta dengan singkat.