Rabunsell

Rabunsell
BAB 32 : TERSERAH



"Hmm ya udah deh ko, tapi kapan lagi coba kita tidur satu kamar." Beo Zelia membuat emosi Deko sudah sampai ke ubun ubun.


"Tahan Deko tahan." Batin Deko memejamkan matanya.


"Ko?"


"Zelia, kalau kamu ga mau ya udah terserah, tapi saya ga mau satu kamar sama orang yang cerewet seperti kamu." Sahut Deko dengan suara halus tapi penuh penekanan.


"Jadi k-."


"Pokoknya kamu tidur di kamar kamu, dan saya tidur di kamar saya." Deko memotong pembicaraan Zelia lalu bergegas menutup pintu kamarnya.


Zelia hanya berdiri mematung menatap kepergian Deko. Namun tiba tiba pintu itu kembali terbuka membuat Zelia segera berlari menghampiri pintu kamar Deko.


"Nah kan, Koko ga bisa kan tidur tanpa Zelia." Sahut Zelia dengan pedenya.


"Astaga Zelia! udah berapa kali saya bilang engga ya engga, ngapain lagi masih ngeyel tidur sama saya?"


"Terus Koko ngapain buka pintu?"


"Saya mau bilang, besok pagi kamu harus bangun lebih awal, besok kamu akan kembali sekolah di sekolah baru kamu."


"Wahh Koko, baru juga satu hari kita satu atap, tapi Koko udah mulai cerewet ya."


"Zelia saya bicara serius sama kamu, tolong jangan becanda sama saya, ah iya satu lagi! tolong kamu rahasiakan tentang hubungan kita sekarang ini pada teman teman baru kamu!" Tegas Deko.


"Terus kalau ditanya-."


"Terserah kamu, mau kamu bilang kita ini tetangga atau apa terserah kamu kecuali suami istri." Potong Deko kembali menutup pintu kamarnya.


"Ya ga seru dong ko, kapan lagi aku pamer cogan." Keluh Zelia kemudian melangkah masuk kedalam kamarnya.


Zelia memperhatikan kamar barunya, terlihat rapi, bersih, dan sejuk. Tak seperti kamar dulunya yang berantakan dan di penuhi oleh foto para aktor Korea serta foto aib Deko.


Ia duduk ditepi ranjangnya, ia perlahan menarik nafas nya kemudian kembali menghembuskan nafasnya.


"Dulu sebelum dapetin Koko, Zelia bisa liat fotonya Koko yang di pajang di tembok sebelum tidur." Sahut Zelia menatap dinding bernuansa putih polos.


"Ehh sekarang udah dapetin orangnya, malah fotonya pun hilang, jangankan foto, cicak pun Zelia ga liat di kamar Zelia." Keluh Zelia merebahkan tubuhnya.


"Cobaaa aja ya ko, kita itu sekarang satu kasur, satu selimut, satu bantal, pasti seru."


"Mungkin gini ya rasa orang orang yang di jodohin, ga satu ranjang, ga satu piring, ga satu atap lagi."


"Tapi tenang kok, Zelia ini bukanlah wanita yang mudah putus asa." Sahut Zelia tersenyum manis dengan menyipitkan matanya.


"Harus bobo dulu, soalnya besok pagi mau ketemuan sama Koko." Sahut Zelia memejamkan matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi pun tiba, seperti biasanya Deko sibuk mempersiapkan dirinya untuk kembali bekerja di sekolah barunya. Sedangkan Zelia masih terlelap dalam tidurnya.


Alarm pun berbunyi, sehingga membuat Zelia terbangun dari tidurnya. Zelia mengerjakan kedua matanya dengan perlahan. Tangannya refleks menutupi wajahnya karena terkena sinar matahari yang masuk melalui jendela.


Tangannya pun segera meraih alarm untuk menghentikan suara deringannya.


Hoammm.....


Dengan malas, Zelia beranjak dari kasurnya kemudian membuka pintu kamarnya. Sampai di depan pintu kamarnya yang kuni terbuka, ia terdiam menatap Deko yang berjalan kian kemari.


"Hadehhh udah Senin aja sekarang." Keluh Zelia menatap Deko yang begitu sibuk.