Rabunsell

Rabunsell
BAB 22 : SI PIKUN



Setelah melihat Zelia sudah tenang, mereka memutuskan untuk segera pulang, lagi pula hari sudah mulai larut malam. Perlahan mereka membantu Zelia untuk berdiri dan keluar dari klub malam.


Ditengah jalan mereka hanya mendengarkan tawaan Zelia yang kini sempoyongan.


"Haiss si brengsek itu kenapa kini ia menjauh dari ku ha?" Sahut Zelia diluar kendali.


"Hiks hiks Kokoo...." Tangisnya kembali lagi.


Tiba tiba handphone Maya berdering, tanpa pikir panjang ia langsung mengangkat telfonnya.


"Ya, ada apa mi?" Tanya Maya dibalik telfonnya.


"May, papi kamu sekarang di rumah sakit May!"


"P- Papi kenapa mi?"


"Serangan jantung May, ayo buruan datang."


"Oke mi, Maya segera datang kesana." Sahut Maya mematikan telfonnya.


"Kenapa May?" Tanya Ketrin heran.


"Papi gue kena serangan jantung, sekarang gue harus ke rumah sakit, ga papa kan? Lo bisa sendirikan jaga Zelia?" Tanya Maya.


"Gue yakin Lo bisa, gue pergi dulu! jangan lupa Lo hati hati!" Pekik Maya berlari menghampiri taxi.


"M- Mmm mayyy!"


BRUKKKK


Ketrin tak kuat menahan tubuh Zelia, hingga membuat mereka terjatuh.


"Aduhhh." Ketrin meringis kesakitan.


"Zel! sadar dong Zel!" Ketrin menarik Zelia untuk berdiri.


"Ket! gue haus pengen minum...."


"Duhh, dimana lagi Zelia kita beli minuman? Lo ga mau pulang apa?" Keluh Ketrin sedikit kesal.


Ketrin melirik semua toko yang tak jauh dari sana, mungkin saja di sana menyediakan minuman.


"Ket! Ketrin.. Lo.. Lo kemana?" Sahut Zelia berdiri sempoyongan.


"Dasar anak Dajjal, ditinggal lagi kan gue sendirian! katanya tadi mau temenin gue, dasar buaya betina..."


"Tapi ga papa, mana tau pas pulang gue bisa ketemu Koko dijalan." Zelia pergi berlalu dengan sempoyongan.


Ketrin mengamati semua minuman berkemasan botol dihadapannya, kemudian mengambil sebotol minuman dengan segera.


"Astaga gue lupa lagi biskuitnya! kan tadi pagi gue mau beli biskuit." Sahut Ketrin menepuk jidatnya.


Sebenarnya yang dia lupakan itu adalah berpamitan terlebih dahulu kepada Zelia, atas kelupaannya sahabatnya kini sudah pergi meninggalkannya.


"Berapa semuanya kak?" Ketrin meletakkan sebotol minuman dan biskuitnya di meja kasir.


"Tiga puluh ribu." Sahut sang kasir sambil menerima uang dari Ketrin. Ketrin segera melangkah pergi keluar dari toko.


"Mana taxinya ya?" Tanya Ketrin berdiri sambil mengotak Atik layarnya.


"Nah itu dia." Ketrin lega setelah melihat kedatangan taxi yang ia pesan.


Ia segera masuk kedalam taxi dengan tak sengaja melupakan Zelia yang kini berjalan sempoyongan.


"Ah iya gue lupa!" Teriak Ketrin menghentikan laju taxinya.


"Gue lupa beli susu beruang wehhh!" Ketrin menepuk jidatnya dengan pelan.


"Jadi gimana dek?" Tanya sang supir.


"Terus jalan aja pak, mungkin saja saya bisa besok membelinya." sahutnya memijit pelipisnya.


"Yakin dek cuman susu beruang aja yang kelupaan?" Tanya sang supir tak sengaja melihat seorang gadis berjalan sempoyongan dengan seragam yang sama dengan penumpangnya.


"Iya pak, tadi saya juga hampir melupakan biskuit saya, tapi untung aja ingat pas di tokonya." Sahut Ketrin.


Sang supir menggeleng gelengkan kepalanya, kemudian kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kenapa ya makin tua gue makin pelupa kayak gini? untung aja lupa sama makanan, kalau lupa sama orang mah bisa berabe." Batin Ketrin tak sadar meninggalkan Zelia.