Rabunsell

Rabunsell
BAB 24 : BERTEMU KEMBALI



"Ayo kesini lah gadis manis."


Bugh..


Sebuah benda keras menghantam bagian kepala belakang pria misterius itu. Ia tampak menjerit kesakitan atas perlakuan seseorang dibelakangnya.


Matanya terlihat sayu melirik tangan kiri sosok itu, ternyata sosok itu memukulnya dengan batu besar.


"Sialan!" Umpatnya kesakitan.


Deko membantu Zelia untuk berdiri, saat mendekati Zelia aroma alkohol pun tercium sangat tajam.


"K- koko?" Tanya Zelia dengan mata yang mulai sayu.


Sosok yang menolong Zelia adalah orang yang selama ini ia cari. Ya, itu adalah Deko, setelah menghilang tiga hari akhirnya bertemu kembali dengan Zelia.


"Kau ini membuat ku susah saja! ayo naiklah ke pundak ku segera." Sahutnya kemudian dituruti oleh Zelia.


Deko kemudian berdiri dengan menggendong Zelia di punggungnya.


"Huft, Zelia kau ini makan apa? badan mu hanya semungil semut kenapa berat badan mu malah seberat gajah?" Keluh Deko sambil berjalan.


"Makan hati ko mwehehehe." Sahut Zelia tertawa kecil. Deko hanya membalasnya dengan muka datar tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Ko..." Sahut Zelia mulai cerewet.


"Mmmm."


"Koko kemana aja sih? Zelia udah cari Koko loh sampai ke ujung dunia." Sahutnya tanpa dijawab oleh Deko.


"Ko..." Beo Zelia.


"Iya ada apa?" Suara Deko dingin.


"Koko tau ga?"


"Zelia lagi sakit hati loh sama Maya, sama Ketrin, sama kakek Zelia, terus sama Koko."


"Tapi ga papa ko, berkat mereka kita ditakdirkan bertemu ko, apalagi di gendong sama Koko seromantis ini, jadi Zelia tambah semangat dong buat mabuk lagi."


"Terus kemarin Zelia ga sengaja dengerin kakek Zelia." Sahut Zelia kemudian mendekatkan mulutnya ke arah kuping Deko.


"Kakek Zelia ternyata umurnya udah ga panjang lagi karena penyakitnya yang kini terlalu parah." Bisik Zelia kemudian tertawa.


"Otomatis Zelia tinggal sebatang kara lagi di planet bumi, tapi.... Zelia jadi trauma gara gara kejadian tadi." Sahutnya membuat langkah Deko seketika terhenti.


Deko tertegun diam dengan mencerna perkataan Zelia. Ia merasa sedikit kasihan pada gadis mungil yang kini dalam keadaan lemah.


"Tak hanya kehilangan dan ditinggal sendirian, nyawa mu juga terancam bahaya." Batin Deko teringat dengan perkataan Kakek Zelia.


"Vina, apa kau tak bersyukur kali ini? aku masih mempertahankan mu walaupun kau telah meninggalkan ku begitu saja."


Namun bagaimana dengan Vina, ia kini meninggalkan Deko hanya untuk karirnya saja, ia lebih memilih karir dari pada melanjutkan hubungannya bersama Deko ke jenjang yang lebih serius.


"Sedangkan Zelia sudah terancam bahaya tetapi aku masih saja menolak untuk membantunya, apa ini balasan setelah aku mempertahankan mu Vina?" Tambahnya lagi didalam pikiran nya.


Sekarang dia sedikit bingung harus memilih yang mana. Vina atau kah Zelia yang sangat membutuhkan pertolongannya?


"Koko... Zelia habis ini mau tinggal sama siapa, ga ada lagi yang mau jagain Zelia.." Zelia menangis sejadi jadinya di pundak Deko.


Perasaan Deko seketika berubah terhadap Zelia, yang dulunya ia sangat kesal terhadap Zelia kini berubah dengan rasa kasihan.


"Hoamm.... ko, zelia ngantuk banget, kalau udah sampai rumah kabarin Zelia ya ko, Zelia mau makan satu meja bareng Koko, sebelumnya makasih ya ko." Sahutnya kemudian tertidur pulas.


Deko masih berjalan dengan perasaan hancurnya, apalagi di benaknya masih teringat jelas dengan Vina yang membatalkan pertunangan mereka.


"Apa aku harus memilih mu Zelia?" Sahutnya pelan.


🦋🦋🦋


Hayolohhh pilih Vina atau Zelia?