
"Dengan senang hati raja tampan."
Zelia tiba tiba datang dengan menggunakan gaun dengan warna kesayangannya, tak lupa di wajahnya di beri riasan yang natural, sehingga penampilannya tak begitu berlebihan.
Langkah gadis cantik itu perlahan mendekatinya, dengan segera ia mengambil tangannya dengan sangat lembut.
Kakek Zelia mulai memegang erat tangan Zelia, lalu memulai gerakan dansa mereka. Tak lupa iringan musik dimainkan, hingga suasana pun terasa sangat nyaman ditelinga mereka.
"Aku sangat merindukannya." Sahut Kakek Zelia menatap senyuman polos dari sang cucu.
"Aku juga sangat merindukannya, apa mungkin kita berkumpul lagi di dunia lain?" Sahut Zelia ikut terbawa suasana.
"Jika aku sebentar lagi bertemu dengan nenek mu, adakah suatu pesan yang ingin kau sampaikan?" Tanya Kakek Zelia berbisik pada daun telinga Zelia.
"Katakan padanya bahwa aku sudah menginjak tanah di Korea." Bisik Zelia tergelak pelan.
"Kau ini." Sahut Kakek Zelia mencubit hidup sang cucu.
"Katakan saja... aku sangat rindu dengan seorang wanita cantik yang selalu menceritakan aku dongeng seorang putri yang di kurung di sebuah kastil sebelum ku terlelap dalam tidurku." Bisik Zelia.
"Dan katakan pada suaminya bahwa dia adalah raja terhebat yang bisa menaklukkan hati Ratu Zerana dan cinta pertamanya putri Rapunzel." Tambahnya dibalas senyuman oleh sang kakek.
"Love you putri Rapunzel."
"Love you to Raja tampan ku." Sahut Zelia tersenyum dengan mata berkaca kaca.
"Putri Rapunzel terhormat, mari minum dulu." Sahut sang kakek memberikan segelas minuman kepada sang cucu.
Zelia mengambil minuman dari tangan sang kakek, kemudian sang kakek pun ikut mengambil minumannya di atas meja.
"Bersulang!" Sahut Zelia mendekat kan gelasnya kepada gelas sang kakek.
Penglihatannya seketika gelap, dengan kepalanya yang tiba tiba terasa sangat pusing, tak hanya itu badannya pun kini terasa sangat lemah.
Karena kondisi tubuh yang lemah, ia tak bisa mengontrol tubuhnya, sehingga ia menjatuhkan badannya begitu saja.
Sang kakek dengan segera menyambut tubuh Zelia. "Jagalah diri mu baik baik Zelia, dunia itu terlalu kejam untuk mu." Bisiknya di daun telinga cucunya yang kini matanya perlahan terpejam.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Pagi hari yang sangat cerah, seperti biasanya anak anak sekolah akan berangkat sekolah. Begitu juga dengan Maya dan Ketrin kini sudah sampai di sekolah.
Dihalaman sekolah terlihat mobil terparkir yang sudah tak asing baginya. Ya, itu adalah mobil kakek sahabatnya.
"Loh, itu kan mobil kakek Zelia?" Tanya Ketrin kaget.
"Eh iya, tumben kakek Zelia datang kesini." Tanya Maya mempercepat langkahnya.
Maya bergegas pergi menuju ruang kepala sekolah, lalu langkahnya terhenti di ruang guru.
"Deko Xavier? oh maaf pak, dia sudah pindah tugas ke sekolah lain pak." Sahut seorang pria dibalik telfon.
"Pindah?" Tanya Maya tak sengaja mendengar pembicaraan seseorang pria yang tak jauh darinya.
Maya berusaha mendengar pembicaraan sosok pria itu, ia juga mengintip di kaca jendela untuk melihat sumber suara.
"Iya pak, kami juga mendapat kabar bahwa ada guru pengganti baru untuk menggantikan dia disini pak." Sahutnya membuat Maya semakin penasaran.
Melihat Maya yang mengintip jendela, sontak saja membuat Ketrin ikut penasaran.
"Baik pak." Sahutnya kemudian mematikan telfonnya.
"Gila! pokoknya gue harus telfon si rabun!" Sahut Maya mengotak Atik layar handphonenya.