Rabunsell

Rabunsell
BAB 29 : MALAIKAT KEJEPIT



Setelah mengganti baju, Zelia duduk di meja rias masih dengan kebingungan. Tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Namun beribu pertanyaan kini terlintas dalam benaknya.


Zelia memperhatikan seisi ruangan dari pantulan kaca. Terlihat sebuah ruangan kamar bernuansa putih, udara di kamar itu serasa sejuk serta dapat menenangkan pikiran.


Wanita paruh baya itu bersiap siap untuk make up wajah Zelia, dia bukanlah mua sembarangan, malahan ia adalah mua terbaik yang di pilih langsung oleh sang kakek.


"Kita mulai ya nona, nona rileks aja." Sahutnya di balas anggukan oleh Zelia.


Tak lebih satu jam akhirnya wanita paruh baya itu sudah menyelesaikan tugasnya. Ia tersenyum puas melihat sosok Zelia yang begitu cantik dengan polesan make up-nya.


"Tuan Deko memang tak salah telah mendapatkan nona Rapunzel." Sahutnya menatap wajah Zelia dipantulan cermin.


Deg!


Apa kali ini Zelia salah dengar? Wanita paruh baya itu menyebut nama Deko?


"D- Deko?" Beo Zelia memastikan.


"Iya nona, lohh nona memangnya ga tau? ada ada saja pengantin kita yang satu ini." Sahut wanita paruh baya itu membereskan peralatannya.


"Yang bener? ya Tuhan aku makan apa semalam? kok bisa mimpi beginian?" Batin Zelia menepuk pipi kanannya.


"Kenapa nona? hmm apa nona udah ga sabaran lagi." goda wanita paruh baya itu membuat pipi Zelia memerah.


"Ga kok ga."


"Oke nona, sekarang kita langsung aja ya, kayaknya acaranya sebentar lagi dimulai." Sahutnya merapikan gaun Zelia.


"Jadi ceritanya Zelia nikah?" Tanya Zelia kebingungan.


"Iya nona, astaga nona kok bisa pikun gini ya?"


"Ga tau."


Karena pernikahan Zelia tertutup, mengakibatkan hanya sedikit yang menghadiri acara. Tak bisa sembarangan orang pun masuk menghadiri acara pernikahan Zelia.


"Ya udah kalau gitu." Sahutnya menggandeng tangan wanita paruh baya itu.


Zelia keluar dari kamar dengan didampingi wanita paruh baya itu. Gaun putih itu sangat indah dan mempesona, bagaimana tidak, gaun ini sudah di siapkan langsung oleh kakek Zelia.


Tak hanya gaun, riasan simple pun mempercantik Zelia, seperti sebuah berlian yang sangat indah.


Seluruh para hadirin pun terlihat kagum serta terpesona akan kecantikan Zelia, termasuk Deko juga terdiam menatap Zelia yang kini duduk disampingnya.


"Kokooo." Panggil Zelia dengan suara kiyowok nya.


Deko tak menghiraukan panggilan Zelia, dengan segera ia mengalihkan pandangannya ke depan.


Acara pernikahan Zelia dan Deko hanya dihadiri oleh keluarga serta kerabat dekat Dodi dan sang kakek, agar pernikahan mereka ini dapat di rahasiakan dan tidak banyak orang yang tau tentang pernikahan mereka.


"Baiklah, bisa kita mulai sekarang?" Tanya pak penghulu menatap kedua mempelai.


"Bisa dong pak, malahan Zelia udah ga sabar lagi berduaan sama Koko zelia, iya ga ko?" Jawab Zelia mendekatkan wajahnya pada Deko.


Deko kemudian mendekatkan mulutnya pada telinga Zelia sambil berbisik "Kalau bangun tidur tolong sikat gigi dulu ya, kasian penghulunya nyium bau malaikat kejepit."


Seketika Zelia terbelalak, kemudian berusaha menyium bau nafasnya.


"Ehh iya yah! kok bau jigong sih! sial tuh mua percuma aja jadi mua kalau ga bisa ngingetin sikat gigi." batin Zelia kesal.


"Jadi bagaimana? bisa kita mulai?" Tanya penghulu lagi dan lagi di balas anggukan oleh Deko.