Rabunsell

Rabunsell
BAB 23 : PRIA MISTERIUS



Maya berlari melewati koridor salah satu rumah sakit. Hatinya sudah berdetak karuan mendengar papinya terkena serangan jantung.


Saat berada di depan pintu ruangan papinya, ia melihat dua sosok iblis berwujud manusia dihadannya.


"Apa iya ini anak kebanggaan Tante Rinda dan papi tiri ku ma?" Sahut seorang gadis mungil tersenyum jahat kepada Maya.


Maya memalingkan wajahnya kemudian


menghapus butir butir air matanya dari pipinya. Kemudian menghirup nafasnya dengan perlahan.


"Wahhh masih pakai baju seragam ternyata, ga langsung pulang ke rumah ya tadi siang? ehh ma apa jangan jangan papa serangan jantung karena anak kesayangannya?" Fatiyah mendekat kearah Maya dengan lagak sombongnya.


"Kau benar Fatiyah, dia adalah anak yang tidak berguna." Sahut Mayang juga mendekati Maya.


"Dari mana saja kau dari tadi siang? sudah ku bilang bukan bahwa hari ini kau harus menyuci pakaian ku bersama putri ku!" Bentak Mayang mendongakkan kepala Maya dengan jari telunjuknya.


"Tak perlu begitu mama tiri ku." Sahut Maya menepis tangan Mayang dengan kasar.


"Memang ya orang kaya baru seperti kalian berdua memang tak berguna. Dan Lo Fatiya, Lo ini kan juara kelas? kenapa ga bisa mikir pakai otak pintar Lo fatiyah?" Tanya Maya dengan suara lembut.


"Dan kau mama tiri! bukankah kau sudah tau bahwa apa tujuan papi saya mempekerjakan pembantu di rumah saya?" Tanya Maya meninggikan suaranya.


"Jadi ketika ada pembantu kenapa harus saya yang harus membanting tulang?" Sahut Maya menatap mereka berdua dengan sinis.


"Berani sekali kau babu sialan!" Mayang menarik tangan Maya dengan sekuat tenaga.


"Wah Mayang, berani sekali kau melakukan kekerasan kepada putri ku?" Tanya Rinda datang menghampirinya.


Rinda mendorong Fatiyah hingga jatuh tergeletak di lantai.


"Jauhkan tangan kotor mu itu dari putri ku!" Sahut Rinda dengan suara tingginya.


"Oh oke!" Mayang segera melepaskan tangannya dari tangan Maya.


"Tak apa mi, hmm mi kita bisa masuk sekarang?" Tanya Maya dibalas anggukan oleh Rinda.


Fatiya kemudian meringis kesakitan setelah Maya beserta Rinda masuk ke dalam ruangan, Mayang segera membantu putrinya untuk bisa berdiri.


"Kamu tenang saja, kita akan membalasnya sebentar lagi." Sahut Mayang menenangkan putrinya.


*****


"Kokoo!" Teriak Zelia dengan jalan sempoyongan.


"Koko, Koko sekarang dimana?"


Sementara itu tampak seseorang pria misterius dengan menggunakan jaket hitam, masker hitam, serta topi hitam untuk menutupi wajahnya, kini mengikuti Zelia dari belakang. Kali ini ia akan melancarkan aksinya. Tak mungkinkan kesempatan ini ia buang begitu saja.


Zelia mulai merasakan hal aneh di belakangnya. Ia merasakan bahwa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang, ia kemudian memalingkan wajahnya kebelakang.


Tampak sosok pria misterius itu mulai mendekati Zelia, tanpa pikiran lemot Zelia bergegas berlari sekuat tenaga.


BRUKKK....


Zelia tak kuat lagi berlari sehingga ia terjatuh dengan tubuh yang lemah. Bagaimana tidak, ia telah menghabiskan minuman beralkohol begitu banyak saat di klub malam.


"Nah kena kau!" Pria misterius itu mendekati Zelia, dengan setengah sadar Zelia berusaha menjauh dari sosok pria misterius itu.


"M- menjauhlah dari ku! atau tidak aku akan mengadukan mu kepada kakek ku!" Teriak Zelia menepis tangan pria misterius itu.


"Kakek mu sekarang tak bisa berbuat apa apa lagi gadis manis! sekarang ikutlah bersama ku, dan pergilah dengan mendatangkan uang pada ku." Sahutnya menarik tangan Zelia.


Zelia berusaha memberontak, tapi hanyalah sia sia untuk melawan tenaga pria misterius itu.