Rabunsell

Rabunsell
BAB 38 : KELAPARAN



Siang sudah berganti malam, Zelia masih terduduk dilantai dengan dagu ia tahan di meja. Ia sudah merasakan kelaparan serta mengantuk menunggu Deko yang masih sibuk dengan setumpuk kertasnya.


Deko tampak serius menyelesaikan tugasnya, ia tak merasakan lelah serta kelaparan sedikitpun.


"Hoammm.... pengen banget jadi kertas agar selalu di perhatiin sama Koko." Keluh Zelia sedang menguap.


Deko lagi dan lagi mengacuhkan Zelia, di dalam hatinya ia ingin sekali melempar Zelia untuk tidur dan tidak mengganggu pekerjaannya.


Tiba tiba suara gemuruh dari perut Zelia berbunyi, sontak saja membuat Zelia kaget dengan memegangi perutnya.


Zelia memanyunkan bibirnya memandang Deko yang masih sibuk dengan setumpuk kertasnya, apa dia tak mempunyai hati nurani sedikit pun?


"Masaklah mie instan di dapur, aku malam ini banyak urusan, sehingga tak bisa mengurus mu untuk makan malam." Sahut Deko yang masih sibuk menulis di sebuah kertas.


"Ko, kita pesan makanan di luar gimana?" Sahut Zelia dengan wajah polosnya.


"Terserah." Jawab Deko singkat.


"Ko..." Panggil Zelia lagi dan lagi membuat Deko risih.


"Hm?"


"Boleh balikin handphone Zelia ga ko? lagi pula gimana caranya kita pesan makanan tanpa handphone."


"Ga." Tolak Deko.


"Terus gimana ko? Koko mau kita mati kelaparan disini?"


"Kooo?"


"Kokooo Zelia lagi ngomong loh ini! kenapa ga dengerin! Zelia lapar loh-."


Deko memberikan handphonenya diatas meja, sehingga membuat Zelia menghentikan seribu ocehannya.


Mata Zelia berbinar binar menatap sebuah handphone di atas meja. Ya, handphone seseorang yang ia inginkan. Dia sudah tak sabar lagi melihat semua isi handphone Deko.


"Gunakan untuk keperluan mu saja! jika tak penting jangan gunakan, jangan menjadi orang yang ingin tau segalanya." Sahut Deko seakan membaca semua isi benak Zelia.


"Iya." Jawab Zelia.


Zelia membuka layar handphone Deko, ingin rasanya ia membuka satu aplikasi yang membuatnya penasaran, tetapi ia segera menepisnya agar tidak mencari cari masalah.


"Sudahlah! sebaiknya aku pesan makanan terlebih dahulu."


Zelia memesan makanan dengan segera, ia sudah tak sabar untuk melahap makanannya.


Satu jam kemudian......


Makanan yang ia pesan masih tak kunjung datang. Begitu juga dengan Deko, ia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya dengan waktu yang cukup lama.


Deko melirik jam dinding, jam menunjukkan bahwa hari sudah hampir tengah malam. Ia berdiri dengan mata yang tertuju keluar, tanpa pikir panjang ia melangkah keluar menemui Zelia.


Sesampai diluar, ia menatap Zelia yang masih sabar menunggu kedatangan makanannya.


"Zel? ngapain masih diluar?" Panggil Deko.


Zelia membalikkan badannya menghadap Deko yang baru saja menghampirinya.


"Nungguin makanan ko, kok lama ya datangnya." Sahut Zelia dengan wajah cemasnya.


"Astaga!" Deko merebut handphonenya dari tangan Zelia.


"Pantas saja." Tambah Deko menatap layar handphonenya.


"Kenapa ko?"


"Kamu ga liat makanannya udah di cancel?" Deko memberikan handphonenya kepada Zelia.


"Loh! kok di cancel sih!" Rengek Zelia putus asa.


"Ayo masuk dulu kedalam, ga baik tengah malam masih diluar." Ucap Deko menarik tangan Zelia untuk segera masuk kedalam rumah.


"Tapi Zelia masih lapar loh ko!" Rengek Zelia.


"Aku akan memasak mie instan, jadi berhentilah bersikap kekanak kanakan."


"Beneran ko?"


"Kalau masih banyak bertanya, lebih baik tahan saja lapar mu sampai besok pagi."


"Sip ko! Zelia bakalan jadi anak kalem demi mendapatkan mie instan!"