
"Zelia? kenalin aku Rika." Ia menjulurkan tangan kanannya.
Awalnya tak ada yang salah diantara mereka, tetapi Zelia masih terdiam melirik tangan Rika yang terlihat kotor. Peka terhadap Zelia, Rika pun tersadar dengan tangannya.
"Zelia." Balas Zelia menyambut juluran tangan Rika yang masih kotor.
"Ma- maaf tangan aku kotor, kamu emangnya ga jijian?" Sahutnya gagap.
"Santai aja, aku udah biasa kok." Sahut Zelia berbohong.
"Mending gue ikutin aja jalurnya, dari pada nanti gue ga punya temen sama sekali." Batin Zelia.
Rika hanya menanggapinya dengan anggukan, walaupun dirinya saat ini berusaha menahan malu.
Selepas itu, Rika kembali melanjutkan tugasnya. Zelia melirik sosok gadis yang tak jauh darinya, wajah gadis itu membuat Zelia teringat seseorang.
Zelia berusaha mengingat wajah itu kembali sambil memainkan pulpennya. Tampak gadis yang ia pantau itu memakai sebuah gelang hitam yang sudah tak asing bagi Zelia.
Si cupu! ah iya itu si cupu yang sudah satu tahun menghilang dari hadapannya. Dari penampilannya kini sudah jauh berubah, memang Zelia mengakui gadis itu kini terlihat sangat cantik.
Rika yang mengetahui Zelia memperhatikan seseorang, membuatnya tersenyum sambil menepuk pundak Zelia dengan pelan.
"Dia?" Tanya Rika menduganya.
Zelia hanya terdiam menatap manik mata Rika, bagaimana bisa Rika bisa tahu bahwa ia sedang fokus memperhatikan seseorang.
"Diva Reana Ananda, murid tercantik, terbaik, serta juara umum disekolah ini." Jelasnya membuat mulut Zelia ternganga.
Zelia menatap kembali wajah gadis itu, ia tak percaya dengan apa yang telah ia dengarkan.
"Kuping gue sakit ga ya?" Batin Zelia memegang telinganya.
"Kenapa Zel?" Tanya Rika melihat tingkah Zelia yang aneh.
"Ga papa Rik."
"Eng- engga kok, baru kali ini aku ketemu sama dia, eh iya emangnya ada tugas apa ya?" Tanya Zelia mengalihkan pembicaraan.
"Ini sih, ini sebenarnya tugas di rumah sih." Sahutnya memberikan buku tulisnya pada Zelia.
"Oh oke, makasih ya."
"Iya sama sama, kamu memang anak rajin ya Zel, baru juga masuk kelas baru udah nanya tugas." Rika kagum yang dibalas senyuman palsu dari mulut Zelia.
Zelia membuka lembaran buku itu segera, tampak wajah murungnya melihat banyaknya tugas yang diberikan oleh gurunya.
"Kenapa Zel?"
"Hmm ga papa, oh iya cuman ini aja?"
"Iya itu aja, hmm tapi menurut aku udah banyak sih." Jawabnya kemudian kembali membuat tugasnya.
"Hahah, baru juga gue masuk kelas udah di sambut banyak tugas nih!" keluhnya di dalam hati.
Zelia menggigit jarinya, entah kecemasan apa yang sedang ia rasakan. Ingin rasanya ia merobek waktu, tapi inilah dengan kenyataan.
Kini mau tak mau ia harus menyelesaikan tugasnya untuk mendapatkan muka dari teman barunya, bukan untuk nilai.
Eh itu yah anak barunya? cantik ya.
Bisikan teman kelasnya membuat Zelia tersenyum bangga atas dirinya. Ia kali ini berpikir bahwa mana mungkin ada gadis lain yang bisa menandingi kecantikannya.
Hmm tapi menurut aku Diva juga cantik. Dia baik, pintar lagi.
Deg!
Zelia menghentikan aktivitas menulisnya, raut wajahnya ikut berubah menatap sumber suara. Ia meremas kertas bukunya dengan kuat, emosinya saat ini sudah mencapai puncak.
"Jadi gitu? kalian berani cari gara gara sama gue? liat aja! sebentar lagi gue bakalan buat kalian tertunduk sujud dikaki gue!" Batin Zelia mengontrol emosinya.