Rabunsell

Rabunsell
BAB 39 : MIE INSTAN



Zelia tersenyum menatap Deko yang sibuk membuatkan mie instan. Aroma mie instan mulai tercium oleh hidung Zelia.


"Mimpi apa ya aku semalam, ga nyangka bakalan di buatin mie instan sama lelaki idaman." Batin Zelia menutup wajahnya dengan tangan.


Melihat tingkah aneh Zelia, Deko hanya menggeleng gelengkan kepalanya. "Baru juga tujuh jam yang lalu belum makan, udah stress aja tuh anak." batinnya melirik jam tangannya.


Deko menuangkan mie instan ke dalam dua mangkok. Satu persatu mangkok itu mulai diisi penuh.


"Besok sebagai gantinya, kamu harus bangun pagi untuk membuat sarapan." Sahut Deko meletakkan mangkoknya diatas meja.


"Sip."


Dengan rasa lapar, Zelia melahap makanannya dengan terburu buru. Hingga membuat suapan Deko terhenti.


"Memang sangat rakus, aku jadi penasaran dengan mulutnya yang bisa menahan panasnya mie instan." Batin Deko meletakkan kembali sumpitnya.


Tersadar dengan Deko yang menatapnya, membuat Zelia salah tingkah. Sepertinya dia akan meminta perhatian dari Deko.


"Umphh, aduh aduhh panas." Zelia pura pura meringis kepanasan.


Deko menatap mangkok mie milik Zelia, ia hanya menemukan kuahnya saja.


"Apa kali ini iblis kekebalan itu sudah pergi dari tubuh mu?" Tanya Deko mengambil sumpitnya kembali.


Perkataan Deko membuat Zelia tampak gugup menatap mangkoknya yang hanya tersisa kuahnya saja.


"E- eh k- Koko ini bisa aja."


Deko menyantap mie instannya kembali, mulut Zelia ternganga memperhatikan Deko mengunyah mie instannya.


Setelah makanan itu habis di mulut Deko, ia menatap Zelia yang kini masih ternganga menatap dirinya.


"Koko ternyata memang peka heheh." Sahut Zelia malu malu.


"Jika kau kelaparan satu hari, mungkin saja aku harus menghabiskan satu ekor sapi untuk membuat mu kenyang." Keluh Deko mengalihkan pandangannya.


"Jika begitu, lebih baik kau harus sarapan dan makan siang dengan nasi setiap hari di mulai dari besok." Tambah Deko menceramahi Zelia.


"Setuju ko!"


"Dan stok mie instan akan aku kurangi, setiap Minggu hanya ada satu bungkus mie instan untuk mu, lagi pula mie instan juga tak bagus untuk kesehatan tubuh." Tambah Deko membuat Zelia tersedak memakan mie instannya.


Uhukk... uhuk....


Dengan segera Zelia meminum air mineralnya. Zelia kaget mendengar perkataan Deko, mana mungkin ia bisa hidup dengan satu bungkus mie instan dalam satu Minggu. Padahal di rumah kakeknya, hampir setiap malam ia menyantap mie instannya.


"Mungkin kali ini kuping ku mulai rusak." Ucap Zelia memegang kuping kanannya.


"Sudahlah! jangan banyak drama lagi, segeralah habiskan makanan mu." Deko beranjak pergi menuju kamarnya.


Zelia memegang kepalanya dengan frustasi, entah kenapa satu persatu cobaan hidup selalu menimpa dirinya.


"Haiss! apa mie ini adalah mie terakhir dalam satu Minggu ini?" Zelia melirik mangkok mie instannya dengan wajah murungnya.


Zelia menjatuhkan kepalanya diatas meja, dengan tangan yang masih mencengkram sumpit diatas meja.


"Tadi pagi lima belas ribu, sekarang cuman satu mangkok mie instan dalam satu Minggu? OHH sial! kenapa hidup ku jauh terbalik kali ini!" Zelia mengutuki dirinya dengan tangan yang masih mencengkram sumpitnya.


"Mungkin dari sinilah aku memulainya." Deko menyunggingkan senyumnya menatap Zelia yang masih mengumpat kesal diatas meja makannya.