Rabunsell

Rabunsell
BAB 46 : GELAP



Ingin rasanya Deko menjauh dari Zelia, tapi ia juga merasa kasihan menatap Zelia yang begitu ketakutan.


"Namanya juga mati lampu, mana ada terang." Balas Deko.


"Ada loh ko."


"Ada apanya?"


"Pelihara kunang kunang ko!" Sahut Zelia dengan suara yang bergetar.


"Haiss masih bisa bercanda dalam situasi buruk seperti ini?" Batin Deko menggaruk tengkuknya.


Deko hanya memilih diam, perlahan matanya tertutup karena mulai mengantuk. Zelia masih ketakutan dengan nafas yang tersengal sengal.


"Ko...." Beo Zelia.


"Hm?" Balas Deko dengan mata yang masih tertutup.


"Zelia pengen pup ko." Sahut Zelia menoel perut Deko beberapa kali.


"Ya udah pergi ke toilet sana, pikunnya mulai kumat kah? butuh Dena atau peta?" Tanya Deko dengan mata yang masih tertutup.


"Ga itu ko, masalahnya Zelia takut loh!" Rengek Zelia mencengkram kuat lengan Deko.


Dengan malas Deko membuka matanya, lalu berdiri diikuti Zelia. Deko mulai melangkah, namun terhenti oleh Zelia yang menarik lengannya.


"Gelap ko, mana bisa Zelia jalan? ga ada lilin atau apa gitu ko?"


Deko menghembuskan nafasnya kasar, kemudian berjalan menghampiri sebuah lemari. Walau terasa gelap, Deko masih berusaha dengan rabaan.


"Mana ya?" Batin Deko berusaha mencari sebuah barang.


Zelia tiba tiba mendesak ke depan Deko, ia mencengkram kuat lengan Deko dan teriak sejadi jadinya.


"KOKOOOOO APAAN TUH KO APAAN!" Zelia memeluk Deko begitu erat dengan nafas tersengal sengal.


Deko ikut panik, dengan secepat kilat ia masih berusaha mencari barang yang ia butuhkan.


"Nah ketemu!"


Mendapatkan sedikit penerangan dari lili, Zelia mulai tenang. Apalagi ia mendapati seekor kucing yang terlihat sudah kebasahan.


"Apaan sih Zel cuman kucing doang." Kesal Deko mendapati kucing yang basah kuyup.


"Kok kucingnya ga ngeong sih." Sahut Zelia berjongkok mengelus kucing itu.


"Jadi ga ke toiletnya?"


"J- jadi dong ko!"


Deko segera melangkah menghampiri kamar mandi yang bersampingan dengan dapur. Tak lupa Deko meletakkan lilinnya diatas sebuah gelas kecil agar tangan Zelia tidak terkena lelehan lilin.


"Tungguin ya ko!" Sahut Zelia dibalas anggukan oleh Deko.


Setelah sampai di depan pintu kamar mandi, Deko memberikan lilinnya kepada Zelia. Lalu duduk di atas kursi sembari menunggu Zelia selesai.


Tak lama kemudian, pintu perlahan terbuka. Mereka berdua kembali ke ruang tamu untuk beristirahat.


Zelia masih memeluk Deko ketakutan, tetapi Deko masih tak menyadarinya. Deko memejamkan matanya, begitu juga dengan Zelia yang sudah beberapa kali menguap.


"Hoamm...." Zelia mulai mengantuk, perlahan matanya mulai memejam.


⛅⛅⛅⛅


Sinar matahari mulai masuk melalui atap rumah yang bocor. Alarm yang terletak dikamar Deko berdering, membuat Deko membuka matanya dengan perlahan.


Lengan kanan Deko terasa sangat berat, hingga membuat lengannya mulai merasa kecapean. Deko tampak kaget mendapati Zelia yang masih terlelap dalam tidurnya, Zelia menjatuhkan kepalanya diatas lengan kanan Deko.


"Astaga."


Deko perlahan menarik lengannya, kemudian memperbaiki posisi tidur Zelia. Merasa lengannya sakit, ia merenggangkan otot lengannya.


Ia melirik seisi ruangan yang tampak berantakan dan di genangi banyak air. Untung saja hari ini adalah tanggal merah, dengan begitu ia bisa memperbaiki atap rumahnya dan membersihkan rumahnya yang begitu berantakan.


"Hmmm sebaiknya aku bersih bersih dahulu, setelah itu aku bisa membereskan semuanya." Batin Deko kemudian melangkah pergi memasuki kamarnya.