
Dua puluh menit kemudian.......
Sambil menunggu Zelia selesai berdandan, Deko duduk sembari memainkan layar handphonenya. Sesekali ia menatap ke arah jam tangannya.
Pintu kamar Zelia perlahan terbuka, dengan segera Deko berdiri dan memasukkan handphonenya dalam saku celananya.
Namun saat Zelia keluar dari kamar, Deko di buat geleng geleng kepala. Bukannya terpesona, ia malah naik pitam melihat rambut Zelia yang masih berantakan. Dengan penuh kesabaran, ia kembali duduk dan kembali memainkan handphonenya.
Sedangkan Zelia, ia menduduki sebuah meja riasnya, perlahan ia mulai memoleskan alat kosmetiknya.
Karena mulai risih, Deko memperhatikan arah jarum tangannya. Tentu saja hal ini membuat Deko membuang nafasnya kasar.
"Ternyata Zelia memang cantik." Zelia memuji dirinya sendiri.
Setelah berdandan, Zelia mengambil ranselnya. Kemudian memakai kaos kaki serta sepatunya.
Melihat Zelia sudah hampir selesai, Deko mulai menutup jendela rumahnya. Kemudian keluar rumah diikuti oleh Zelia.
"Ehmmm." Zelia menatap Deko yang mengunci rumah.
Tampak Deko tak menghiraukan Zelia, ia bergegas mendekati motornya, begitu juga dengan Zelia.
"Wuihhh keren ko, seumur Zelia baru kali ini Zelia pergi sekolah pakai motor." Sahut Zelia menatap Deko yang sedang memakai helm.
"Ini sarapan sama uang jajan kamu." Deko memberikan bekal serta uang senilai lima belas ribu.
Sebenarnya, Deko sudah menyiapkan sarapan sebelum pergi ke sekolah. Karena Zelia berdandan dengan memakan waktu yang sangat lama, Deko memilih untuk sarapan di sekolah saja.
Melihat uang yang di berikan oleh Deko, membuat wajah Zelia kian berubah. Ini kali pertamanya ia di beri jajan dengan uang sebanyak itu.
"Hmmm uangnya segini aja ko?" Tanya Zelia hati hati.
"Iya, lima belas ribu cukup buat kamu." Jawab Deko dengan entengnya.
Zelia tampak terduduk dengan wajah murungnya. Mana mungkin ia bisa hidup dengan uang lima belas ribu di sekolah, biasanya ia jajan menggunakan uang ratusan ribu.
"Iya cukup deh ko hehe." Sahut Zelia terpaksa kembali tersenyum.
"Walaupun Zelia dikasih jajan seribuan, tapi kalau untuk Koko Zelia mah senang menerimanya." Sahut Zelia mulai kumat.
"Ingat ko, apa pun cobaan yang menimpa hidup kita, Zelia selalu menjadi garda terdepan untuk Koko." Tambahnya lagi mulai membuat Deko risih.
"Pakai." Titah Deko.
Lagi dan lagi Zelia tak bergeming.
"Kamu mau pergi sama angkot? ya udah kalau gitu." Sahut Deko mulai menghidupkan motornya.
"Ihh Koko, Koko ga bisa romantis apa? tolong dong ko di pasangin ke kepala Zelia langsung." Rengek Zelia.
"Kamu sendiri bisa kan masangnya-."
"Ga bisa ko." Potong Zelia memanyunkan bibirnya.
"Ya udah kalau ga bisa, kamu sama angkot aja." Sahut Deko sedikit memajukan motornya.
"Eh eh jangan di tinggal dong ko!" Sahut Zelia bergegas memakai helmnya.
"Makanya jangan lebay." Sahut Deko dengan wajah datarnya.
Ditengah perjalanan, hanya ada kicauan yang keluar dari mulut Zelia. Ingin rasanya Deko meninggalkan Zelia di area persawahan ini, tapi bagaimana pun juga Zelia kini merupakan tanggung jawabnya.
Mengenai tentang persawahan, tentu saja ini merupakan hal yang baru bagi Zelia. Terbiasa hidup di kota, membuatnya hanya melihat gedung gedung yang menjulang tinggi dengan kemacetan dimana mana.
Tetapi mulai detik ini, ia sudah melihat pedesaan secara langsung. Udara terasa sejuk, begitu juga pemandangan yang terlihat sangat indah. Sehingga membuat Zelia kagum dan terpesona akan keindahannya.
Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah sekolah, dengan hati hati Zelia langsung turun dari motor Deko.
Didepan gedung sekolah, Zelia hanya berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ingin rasanya ia tak percaya, tapi inilah yang dinamakan kenyataan.
Ia menatap gedung dengan siswa siswi disekolah barunya. Memang sekolah barunya jauh berbeda dengan sekolah lamanya. Sekolah barunya merupakan sekolah negri yang didirikan di sebuah perdesaan dengan gedung yang sederhana. Sedangkan sekolah lamanya sangat elit dan mewah.
Tak hanya sekolah, siswa siswi disekolah barunya juga berbeda dengan siswa sekolah lama Zelia. Mereka tampak sederhana tak seperti teman teman Zelia yang suka menghambur hamburkan uang.
"Ko, kita ga salah alamatkan?" Tanya Zelia memastikan.
"Ayo masuk, kamu udah telat." Sahut Deko berlalu begitu saja.
"Tunggu ko!" Panggil Zelia berlari kecil menghampiri Deko.