
Malam telah tiba, seperti biasanya Kakek Zelia dan Zelia menyantap makanan di meja makan. Zelia menidurkan kepalanya diatas meja seperti hidup tanpa semangat.
"Ekhemmm... Zel, belum puas tidurnya?" Tanya Kakek Zelia membuka suara.
"Hoam.... ngantuk pakai banget kek." Sahutnya dengan mata terpejam.
Kakek Zelia tampak meraup saku celananya, lalu mengeluarkan selembar kertas pada tangan kanannya.
"Udah males, temen bloon semua, uang jajan udah habis, ketiak bajunya Zelia juga robek, mana di liat lagi sama Koko ketiak Zelia tanpa sehelai benang pun, padahal Zelia masih muda, haisss cobaan hidup Zelia kenapa seberat satu karung semen ya?" Keluh Zelia di meja makan.
"Zelia... Zelia... masa itu aja udah nyerah, mau jadi apa kamu pas gede?" Tanya Kakek Zelia setelah mendengar keluhan Zelia.
"Cukup jadi wonder woman kek, biar Zelia kuat melawan satu persath beban hidup Zelia." Sahutnya menegakkan kepalanya.
"Haisss coba aja Zelia dapat kabar yang begitu menggembirakan, Zelia janji deh bakalan buat pr matematika." Tambahnya lagi kemudian berdiri dari duduknya.
"Kek, Zelia mau tidur lagi." Ujar Zelia melangkah masuk dalam kamarnya.
"Zel!" Panggil kakek Zelia menghentikan langkahnya.
"Ambillah." Sahut Kakek Zelia memberikan sebuah kertas kepada Zelia.
Deg!
Hati Zelia seketika berdetak kencang, entah apa isi surat yang diberikan oleh kakeknya. Dari raut wajah kakek Zelia terlihat sedikit senyuman dengan mata yang berkaca kaca. Apakah surat itu berisi kematian? Tanya Zelia dalam hatinya.
Tangan Zelia sedikit bergetar untuk menggapai kertas sang kakek, matanya kini mulai berkaca kaca. Apakah ini akhir kesenangan dalam hidupnya?
Perlahan Zelia membuka kertas yang di berikan oleh kakeknya, hatinya semakin berdetak sangat kencang, serasa ia susah untuk menelan ludahnya.
Zelia menutup mulutnya segera dengan mengeluarkan butir butir air matanya yang kini membasahi pipinya.
"Cool baby cool! kali ini Lo pasti mimpi! ayo bangun kebo!" Sahut Zelia mencubit tangan kirinya.
Ia tak percaya setelah membaca surat pemberian kakeknya, mana mungkin kakeknya melakukan hal sebodoh ini. Ya, sebuah tiket untuk nonton konser K-Pop di Korea. Tapi pada kenyataannya itu lah yang terjadi.
"Kamu ga mimpi Zelia, ini adalah kenyataan." Sahut Kakek Zelia membuat Zelia tertegun diam.
"B- benarkah?" Tanya Zelia memastikan.
"Iya." Jawabnya kemudian dibalas pelukan oleh Zelia.
Zelia tak menyangka bahwa kakeknya akan memberikan Zelia tiket konser ke Korea. Memang sebelumnya ia tak diperbolehkan untuk pergi ke Korea hanya untuk menonton konser.
"Aku tau kau sebenarnya sudah mengetahui segalanya tentang penyakit ku, semoga saja sosok lelaki yang ku jodohkan dengan mu mengobati kesedihan atas kepergian ku." Batin Kakek Zelia mengelus elus rambut cucunya.
Zelia menatap wajah sang kakek dengan sangat dalam, dimatanya sangat jelas kesedihan yang ia pendam.
"Kek, aku tau bahwa semua ini adalah hiburan atas kepergian mu." Batin Zelia menahan sesak di dadanya.
"Apakah aku harus bahagia sekarang kek? jika iya, apakah itu pantas di atas kesedihan mu kek?" Batinnya perlahan butir butir air matanya kembali jatuh membasahi pipinya.
Kakek Zelia menyadari apa yang ada di dalam benak Zelia, dengan segera ia merangkul cucunya dalam pelukannya.
Tiba tiba handphone Zelia berdering di atas meja, dengan segera ia mengambil handphonenya.
Tertera nama kedua sahabatnya. Tanpa pikir panjang ia langsung menerima panggilan dari kedua sahabatnya.
"Night baby! ehh mumpung kalian lagi nelfon gue, gue ada satu kabar gembira buat kalian!" Serobot Zelia.
"Apa tuh?"
"Gue di kasih tiket konser sama kakek gue!" Jawab Zelia dengan semangat.
"What? beneran? kakek Lo kan biasanya melarang keras Lo buat pergi konser Zel! jangankan tiket, pergi aja Lo ga di bolehin." Sahut Maya tak percaya.
"Iya loh, tapi maaf ya, tiketnya cuman ada satu." Bisik Zelia pelan.
"Ya udah deh kalau gitu, gue mau tidur dulu, soalnya besok pagi gue udah harus sampai di bendara." Sahut Zelia memastikan telfonnya.
"Kek, Zelia tidur duluan ya." Sahut Zelia sembari berjalan pergi menghampiri kamarnya.
"Zelia, apa kau mau meluangkan sedikit waktu mu untuk ku?" Sahut Kakek Zelia menghentikan langkahnya.
Zelia memalingkan wajahnya kebelakang menatap wajah sang kakek yang sangat berharap padanya.
"Bukankah kita sudah lama tak berdansa putri Rapunzel? jika waktu bisa di putar kembali, aku sangat ingin berdansa kembali dengan mu." Sahut Kakek Zelia membuat Zelia terdiam sejenak.
Zelia tak menghiraukan perkataan sang kakek, ia berlalu begitu saja meninggalkan sang kakek dengan penuh harapan.