
Setelah membersihkan diri, Deko mulai membereskan rumahnya. Menata sebuah barang yang berjatuhan dan memperbaiki atap rumahnya. Ia membutuhkan waktu setengah hari untuk menyelesaikan pekerjaannya, tak lupa Zelia juga ikut membantunya membereskan rumahnya.
"Kerja yang bagus." Deko memandangi sudut ruangan, sudah tertata rapi dan bersih.
"Aku capek." Zelia menyandarkan tubuhnya pada punggung Deko, refleks Deko menjauh hingga membuat Zelia kehilangan keseimbangan.
Bugh...
"Aduh!"
Deko memalingkan wajahnya, jika saja Zelia tak membantunya hari ini mungkin saja ia tak mau membantu Zelia untuk berdiri. Deko menjulurkan tangan kanannya, bergegas Zelia menarik tangan Deko untuk membantunya berdiri.
"Aku akan masak, mau makan apa?"
"Mau masak? hmm sepertinya nasi goreng enak."
Deko berlalu pergi menuju dapur, membuka kulkas lalu mengeluarkan bahan makanan yang ia butuhkan. Dari pada merenungi nasib, Zelia berlari menghampiri Deko, ia berniat membantu Deko.
"Ko... sini Zelia aja yang masak, Koko capek kan?" Ucap Zelia berbohong. Sebenarnya Zelia tak bisa memasak, tetapi ia berusaha untuk bisa mengambil hati Deko dengan perlahan.
"Tak perlu." Tolak Deko sibuk mengiris bawang merah.
"Ko.... jangan boong loh."
"Baiklah, jika begitu aku tunggu diluar." Deko menghentikan aktivitasnya, kemudian ia memberikan pisau kepada Zelia.
Zelia menatap kepergian Deko yang perlahan menghilang dari pandangannya. Ia seperti orang kebingungan, sebelumnya ia berharap Deko membantunya untuk memasak.
"Astaga! apa yang harus aku lakukan?" Zelia membalikkan tubuhnya, mengamati bahan bahan makanan yang sudah disiapkan Deko.
Seumur hidup Zelia belum pernah memasak makanan, ia terbiasa hidup dimanja oleh sang kakek. Biasanya jika ia lapar, makanan langsung berada di atas meja.
"Aku harus mulai dari mana?"
"Baiklah, lebih baik aku mulai dari memasak telur." Ucapnya sambil menyalakan api kompor.
Zelia mulai memasak layaknya seorang chef. Semoga saja masakannya sesuai dengan yang diharapkan. Tak butuh waktu yang lama, Zelia selesai memasak. Ia memindahkan nasi goreng ke dalam sebuah piring.
"Koko... "
Zelia meletakkan piring berisi nasi goreng buatannya diatas meja. Deko kebingungan melihat tampilan nasi goreng buatan Zelia.
Tanpa pikir panjang, Deko meraih nasi gorengnya. Satu suapan telah masuk kedalam mulutnya.
"Emmm!" Zelia menutup matanya.
Uhukk... uhukk..
Deko terbatuk, ia meneguk air minumnya dengan cepat. Sepertinya nasi goreng buatan Zelia tak sesuai dengan ekspektasinya.
"Zelia, apa kau tak bisa masak?" Tanya Deko sontak Zelia terkejut.
Deko menodongkan piringnya, dengan rasa penasaran Zelia ikut mencicipi hasil kerja kerasnya.
"Uhuk... kenapa asin sekali?" Rasanya ingin muntah, Zelia mengeluarkan makanan itu dari mulutnya.
Baru sekali ini Deko mencoba makanan yang begitu asin, membuat nafsu makannya mendadak menghilang.
"Maaf ko, sepertinya-.
"Sudah, lain kali aku saja yang masak." Geram Deko memotong pembicaraan Zelia.
"Oh iya, nanti malam aku harus pergi, jadi tolong jangan keluar rumah!"
Mata Deko masih terfokus memandang setumpuk kertas dihadapannya, memikirkan bagaimana cara agar cepat menyelesaikan semua pekerjaannya.
Handphone Deko tiba tiba berdering, Deko segera beranjak kemudian mengangkat telfonnya. Raut wajah Deko tiba tiba berubah, kemudian mematikan telfonnya dan bergegas merapikan lembaran kertas.
"Aku harus pergi sekarang."
"Apa sampai malam?"
"Sepertinya besok pagi, jadi tolong jangan sesekali keluar rumah! apa lagi bertemu dengan teman teman mu dikota."