R&B

R&B
RAFAEL



Selesai dari menjenguk Bianca di rumah sakit, Azura, Arsha dan temannya yang lain pun kembali ke rumah karena hati sudah mulai gelap. Ketika Bianca melihat jam dinding jam menunjukkan pukul 18.30 WIB. Karena teman-temannya sudah pulang Bianca pun kembali bersantai menonton teve sambil memakan cemilan yang dibelikan oleh teman-temannya, namun selang beberapa menit terlihat seseorang membuka pintu masuk. Awalnya, Bianca mengira itu adalah ayah, ibu, atau Zena, tapi ternyata orang itu adalah Rafael. Mata Bianca membelalak seketika, dia tidak mengira kalau ketua OSIS itu akan mendatangi nya di rumah sakit juga.


' astagfirullah.. kenapa si akhir-akhir ini gue ketemu mulu sama ketos! gak di rumah, gak di sekolah, sekarang di rumah sakit!?? ' batin Bianca.


Rafael mendekat, lalu menyapa Bianca yang diam mematung menatap Rafael " Bianca? kamu udah baikan? "


Bianca sedikit ternganga ketika melihat kehadiran Rafael, dia berharap pria yang sedang menyapa nya itu bukan Rafael tapi ayah atu temannya..


" kak Rafael? " tanya Bianca pada Rafael yang sedang berdiri di samping Bianca sambil menatap Bianca.


" iya? " jawab Rafael dengan nada bertanya.


" kak Rafael njenguk aku, atau... ada urusan lain ya kak? " tanya Bianca " oh iya, duduk kak.. " lanjut Bianca.


" ya aku kesini mau jenguk kamu, sekalian mau kembaliin baju tidur ayahmu yang kemarin aku pake.. "


" kenapa nggak ke rumah aja kak? " tanya Bianca.


" rumah mu dikunci gak ada orang, waktu aku tanya Zena, Zena bilang Zena sama ibu kamu lagi ada urusan mendadak di Bandung.. makannya aku minta aja alamat rumah sakit tempat kamu dirawat " jelas Rafael panjang kali lebar.


" oh iya, kak Zena bilang ibu lagi ngelayat saudaranya di Bandung.. "


" ayahmu ikut? "


" nggak, ayah banyak kerjaan di kantor makanya gak bisa ikut ibu.. " jawab Bianca.


" oh.. ya udah aku tunggu ayahmu aja! "


' hahhhh!!??!! ' batin Bianca.


»»————\> **R&B** <————««


Bianca terdiam seribu bahasa, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan dengan Rafael karena dia merasa dia tidak sedekat itu dengan Rafael sehingga bisa mengobrol dengan Rafael. Rafael pun sama, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan Bianca, yang baru dia kenali. Selagi menunggu ayah, Bianca melanjutkan menonton teve sambil makan cemilan, sedangkan Rafael sibuk dengan dunia t1kt0k nya.


merasa terlalu canggung, Rafael mematikan HP nya dan memulai pembicaraan dengan Bianca " bulan depan kayaknya udah ada pemilihan ketua OSIS baru, kamu gak ada niatan buat ikut? "


" hah? ikut apa kak? " tanya Bianca yang belum mudeng.


" ikut pemilihan ketua OSIS.. "


" eh iya juga, berarti kan kak Rafael bakal turun jabatan... tapi nggak deh, aku gak mau ikut! " jawab Bianca.


" kenapa gitu? "


" gak minat aja gitu kak, mikirin tugas plus belajar buat lomba aja saya udah pusing apalagi kalo jadi OSIS nanti.. " jelas Bianca.


" kamu gak mau coba emang? "


" ya.. pernah sih mikir buat jadi calon ketos buat tahun ajaran ini, tapi aku males kak.. lagian ada lebih banyak kok yang lebih pro daripada aku.. "


" oh.. gitu.. "


Bianca melihat layar yang sedang menampilkan iklan, bosan dengan iklan Bianca pun mengganti program TV dengan kartun U&I lalu menontonnya, Rafael pun ikut menonton bersama Bianca sambil berbasa-basi sedikit.


" kalo kamu udah sembuh total dan diizinin pulang ke rumah, mau belajar bareng? " tanya Rafael sambil menonton upinipin.


" dimana aja sih bebas.. " jawab Rafael.


" kalo di cafe aja gimana kak! kan enak tuh belajar sambil ngopi! "


" boleh.. "


percakapan antara mereka akhirnya berhenti disitu, dan mereka berdua kembali melanjutkan menonton kartun. Saat sedang menonton kartun, ada seseorang yang membuka pintu kamar rawat Bianca, dan Bianca bisa tahu siapa yang akan masuk ke dalam, pasti ayah atau kalau tidak ya suster yang membawa makan malamnya atau.. ingin mengganti kantung infus nya mungkin. Dan benar saja seorang suster berusia sekitar ∓ 40 tahunan datang membawa food troley, beserta nampan makan malamnya.


suster itu berjalan ke arah Bianca, saat telah berada di samping kirinya, suster itu meletakkan nampan yang berisi makan malam rumah sakit, suster itu melihat Rafael yang sedang menonton kartun dia tersenyum lalu bertanya pada Bianca " pacarnya neng? "


Bianca menoleh begitu juga dengan Rafael, Bianca lalu menjawab " eh.. bukan ah! temen kakakku.. " jawab Bianca.


" oh.. kirain pacarnya, ya sudah kalau begitu saya permisi neng, a.. " ujar suster itu, kemudian berlalu pergi.


Bianca pun mulai menyantap makan malamnya sembari menonton TV, tak lama setelah suster itu keluar seseorang masuk ke dalam kamar rawat Bianca dan kali ini adalah ayahnya. Melihat ada Rafael d sedang duduk menemani Bianca, ayah pun menyapa Rafael " dek Rafael? udah lama disini? "


Rafael berdiri dari duduknya dan menyalami tangan ayah, kemudian menjawab " enggak om.. "


" jenguk Bia? "


"tadinya saya kesini karena mau ngembaliin baju tidur om, tapi om gak ada terus Bianca juga sendiri.. " jelas Rafael.


" oh bagus kalau begitu, Bianca jadi ada nemenin.. dari tadi siang mukanya sumpek banget kaya gak berenergi.. " ujar ayah " oh iya udah makan malem kamu dek? kalau belum ayo temenin om beli makan malem! "


" boleh om.. "


" yaudah ayo kita on the way keluar, Bia kamu tunggu bentar ya, ayah mau beli makan dulu bareng Rafael... " ujar ayah.


" oke! "


✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈


Jadilah ayah dan Rafael pergi meninggalkan Bia untuk membeli makan malam di luar. Setelah membeli makan malam di luar, ayah dan Rafael kembali ke kamar rawat Bianca dan melihat Bianca yang sedang bersantai menonton kartun sembari memakan makan malamnya. Sambil memakan makanan yang dibelinya, ayah berbasa-basi dengan Rafael.


" abis ini kamu mau langsung pulang Raf? " tanya ayah untuk sekadar basa-basi.


" iya om.. "


saat sedang berbasa-basi basi sambil memakan makanan yang dibelinya, tiba-tiba terdengar suara petir kemudian disusul oleh suara rintik hujan yang semakin membesar. Ya, dan akhirnya Rafael harus menunggu di hujan reda di rumah sakit.


' anjim kenapa sih setiap adegan Rafael mau pulang hujan mulu, punya masalah apa sih nih awan! ' batin Bianca sembari menatap sinis pada hujan.. mungkin karena hujan tidak suka ditatap sinis oleh Bianca, petir pun menyambar disertai dengan angin yang kencang.


' emangnya awan punya perasaan kah? cuma di sinis-in dikit kok malah ngambek, mana makin gede lagi ni hujan, ya kali ketos bakal nginep lagi woy! ' batin Bianca.


" yah.. hujan gede banget Raf, kayaknya kamu gak bisa pulang dulu deh abis ini.. " ujar ayah.


" iya gak apa-apa om, mungkin karena emang lagi musim.. " jawab Rafael santai.


' otw nginep lagi ini mah, mana di rumah sakit lagi! ' batin Rafael.


『••✎••』Bersambung...