
Hujan telah reda dan waktu menunjukkan pukul 22.28 WIB, urusan mendadak ayah telah selesai dan ayah segera kembali menuju rumah sakit. Ketika ayah membuka pintu kamar Anggrek no 3, terlihat Bianca dan Rafael telah tertidur pulas, perhatian ayah pun tertuju pada Rafael yang tertidur di lantai. Ayah menepuk bahu Rafael lalu berkata dengan suara yang pelan agar Bianca tak terbangun " Rafael? "
Rafael terbangun dari tidurnya, sedangkan Bianca masih tertidur. Dengan suara yang lemah Rafael mencoba membuka matanya, mengumpulkan kesadarannya yang belum penuh " mmm? siapa? eh om! "
melihat sosok ayah Bianca yang berada di depannya, kesadarannya langsung kembali dan menyapa ayah Bianca yang sudah kembali.
" jangan tidur di lantai nak! pindah ke sofa nak, om takut kamu sakit.. lantai kan dingin.. " suruh ayah. Rafael melihat ke arah jendela, hujan telah reda dan malam sudah larut, Rafael berdiri dan memakai jaketnya. Dia lalu berpamitan pada ayah Bianca, kalau dia akan segera pulang ke rumah.
" heh! udah larut loh, rumahmu jauh kan? udah nginep disini aja dulu.. " pinta ayah.
" nggak om, saya harus berangkat pagi ke sekolah besok! lagian hujan juga udah berhenti kok om.. "
" nggak apa-apa emang? om takut kamu kenapa-napa.. "
" nggak apa-apa om, Rafael bisa jaga diri kok.., Rafael jalan dulu ya om! " jawab Rafael sembari mencium tangan ayah.
" oh.. yaudah hati-hati kamu dijalan.. "
" iya om.. "
»»————\> **R&B** <————««
Rafael mulai menjalankan mesin motornya, lalu pergi meninggalkan rumah sakit. Awalnya tak ada hal yang aneh selama dia berkendara, jalanan terlihat lengang, dan sunyi sepi karena memang sudah malam. Tapi, ketika Rafael telah mendekati daerah jalanan gedung bekas SMP 2. Rafael melihat ada sekumpulan siswa yang sedang mengeroyok seorang siswa.
Karena penasaran, Rafael pun mendekat untuk memastikan apakah benar terjadi pengeroyokan di gedung bekas itu. Semakin dekat, Rafael bisa melihat dengan jelas, bahwa siswa yang sedang dikeroyok itu, adalah adiknya sendiri!
Rafael segera mengambil tindakan, dia mengambil sebongkah batu bata yang berada di dekatnya, lalu dia melemparkan batu bata itu ke arah siswa yang sedang mengeroyok adiknya seraya berteriak dengan lantang " BERHENTI LO B*NGS*T!!!!"
Rafael pun segera berlari menuju segerombolan siswa itu, mendengar suara teriakan Rafael para siswa laki-laki itu pun panik dan segera melarikan diri dari Rafael. Awalnya Rafael ingin mengejar dan menangkap segerombolan siswa itu, tapi melihat kondisi Ryan, Rafael mengurungkan niatnya dan memilih untuk menyelamatkan sangat adik terlebih dulu.
" Ryan!! Ryan!! dek, lu denger gua gak!! heh! sadar Ryan! Ryan!! " teriak Rafael sambil menopang tubuh Ryan yang penuh dengan luka.
" kak... " dengan susah payah, Ryan membuka suaranya dan mencoba berbicara. Tapi Ryan yang sudah tak bisa lagi menahan rasa sakitnya itu, akhirnya kehilangan kesadaran.
" Ryan!!!??? heh, sadar Ryan!!! Ryan!! " Rafael berteriak mencoba membuat Ryan tetap sadar, tapi melihat kondisi Ryan, Rafael dengan cepat menelfon ambulans rumah sakit tempat Bianca di rawat, karena rumah sakit itu adalah rumah sakit yang paling dekat dari gedung sekolah itu.
sambil menunggu ambulans, Rafael mencoba membuat Ryan tetap tersadar. Tapi perhatiannya teralihkan pada HP milik adiknya dan topi yang memiliki coretan nama akun IG pemilik topi itu, yang sepertinya terjatuh ketika mereka melarikan diri.
Rafael mengambil barang-barang itu, sebagai barang bukti, lalu dia berkata dengan penuh amarah " awas aja kalian besok, habis kalian semua!! "
suara petir menyambar kembali terdengar, dan hujan pun kembali turun dengan deras. Rafael segera melindungi tubuh Ryan dari hujan lalu dia menggendong dan membawanya menuju gedung bekas itu untuk berteduh sambil menunggu mobil ambulans tiba. Tak butuh waktu lama, mobil ambulans pun datang dan membawa Ryan menuju rumah sakit, sedangkan Rafael mengikuti dari belakang menggunakan motornya.
sesampainya di rumah sakit, Ryan segera dibawa ke I.G.D menggunakan ranjang dorong. Di lorong rumah sakit, tampak ayah Bianca yang baru saja kembali dari kantin rumah sakit sehabis membeli kopi. Melihat Rafael yang kembali ke rumah sakit dengan raut wajah yang panik, ayah menyapanya dan menanyai Rafael " loh Rafael? kok kamu balik lagi, ada yang ketinggalan? "
" itu.. bukan om, adik saya habis dikeroyok! " jawab Rafael.
" astagfirullah!! lukanya parah nggak Raf?!! "
" gitu ya, om do'ain semoga adikmu baik-naik aja ya Raf.. "
" amiin.. terimakasih om.. "
" ya udah, om balik ke atas dulu.. " ujar ayah berpamitan.
Rafael mengangguk lalu menjawab " iya om.. " , akhirnya mereka berpisah di lantai yang berbeda. Ayah Bianca di lantai 3, sedangkan Rafael menunggu di lantai 1.
sembari menunggu, Rafael membuka layar HP nya dan menelfon sangat ayah yang berada di luar negeri untuk memberi tahukan kabar tentang sang adik. Tapi ternyata ayahnya malah tidak aktif karena sedang sibuk. Akhirnya Rafael menghubungi salah satu temannya, yang bernama Ara.
* ( ket : tebal Rafael, tipis Ara. )
' P, Ara '
' 왜? ' ( kenapa? )
' gue minta tolong dong, besok bilangin ibu Jessica kalo gue izin gak berangkat dulu '
' kenapa emangnya Raf? lu sakit kah? '
' adek gue masuk RS, ayah gue juga sibuk di Australia jadi gue harus nemenin Ryan '
' oh oke, GWS buat adek lo '
' ya '
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
Setelah menunggu beberapa lama, hingga hampir terlelap. Dokter akhirnya keluar dan mengatakan bahwa kondisi Ryan sudah cukup stabil tapi masih harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. Mendengar itu, Rafael pun mengangguk paham.
Sambil menunggu hari berganti pagi, di pukul 23.00 WIB. Rafael teringat pada topi yang dia temukan tadi, Rafael lalu mengeluarkan HP nya dan mencoba mencari akun IG pemilik topi itu di Insta****. Tapi sialnya, baterai HP miliknya justru lowbat dan tak bisa digunakan, Begitupun dengan HP adiknya yang sama-sama lowbat.
" sial!! " gerutu Rafael.
Tak kehabisan akal, Rafael pun memutar otak. Dia berlari menuju lift untuk naik ke lantai 3, menuju kamar Anggrek no 3 tempat Bianca dirawat. Rafael mengetuk pintu, dan pintu itu dibukakan oleh ayah Bianca yang masih bangun. Ayah Bianca mempersilahkan Rafael untuk masuk ke dalam. Di dalam Bianca juga terlihat masih belum tidur, dia terlihat kebingungan melihat kedatangan Rafael.
Bianca pun bertanya " kenapa kak? "
" eee... boleh aku pinjam charger? " tanya Rafael.
" oh, ambil aja kak gak dipake kok.. itu ada di tas aku.. " jawab Bianca.
" oh iya terimakasih ya.. ". Rafael mengambil charger milik Bianca dan mengisi daya HP milik adiknya. Dia mulai mengotak-atik HP milik adiknya untuk mendapatkan informasi tentang pemilik topi itu.
『••✎••』Bersambung...