
Rafael akhirnya dibawa ke rumah sakit yang sama seperti adiknya, menggunakan mobil milik pak Devan, sedangkan motornya akan diantarkan ke rumahnya oleh teman Rafael yang tahu alamat rumah Rafael. Begitupun dengan Regan, dia dibawa ke rumah sakit yang dekat dengan rumahnya.
di jalan, sambil menyetir mobil pak Devan bertanya pada Rafael " Regan keroyok adek mu kira-kira kenapa ya Raf? apa adek kamu pernah punya masalah sama Regan? "
sembari menyimak pertanyaan dari pak Devan, Rafael memandang keluar jendela dengan punggung tangannya yang di kepalkan untuk menyangga kepala Rafael di jendela mobil. Mendengar pertanyaan dari pak Devan Rafael pun menjawab " nggak tau sih pak, setahuku Ryan itu anak yang pendiem.. tadi pagi saya ke sekolahnya, satpam penjaga di sana bilang Ryan itu baik kok.. berprestasi dia.. "
" Regan punya adik gak Raf? "
" ng.... nggak mungkin? bapak pasti mau tanya saya apa Ryan pernah pacaran atau enggak kan..? " Rafael balik bertanya.
" iya, kalau mungkin Regan punya adik perempuan yang punya hubungan sama Ryan dan seumuran sama Ryan adikmu, pasti itu bisa jadi salah satu alasan kenapa Regan nyerang adek mu.. tapi... kamu bilang dia gak punya.. " ujar pak Devan sambil terus memperhatikan jalanan.
" adik ya.. hmmm.. Regan itu kan anak ke 3 dari 4 bersaudara.. dia emang punya sih kakak perempuan, tapi kakak perempuan nya kan udah nikah.. kakak laki-laki juga.. kalo adiknya.... " Rafael mencoba mengingat " adiknya waktu terakhir kali aku lihat dia, dia cuma anak kecil usia 5 tahunan.. "
" 5 tahun?? "
" iya, adiknya umur 5 tahun sedangkan adik saya 14 tahun.. kalau adik saya falling in love ke adiknya Regan, Pedofil dong dia.. " jelas Rafael.
" iya juga.. oh iya, ayahmu udah tau kalo adek mu dikeroyok? "
entah itu kebetulan atau bukan, tapi tepat setelah pak Devan menanyakan tentang ayah Rafael, HP Rafael berbunyi karena notifikasi chat.. yang ternyata dari ayahnya. Rafael segera membuka chat dari ayahnya dan membalasnya
* ( Rafael | Ayah Rafael)
' kenapa Rafa? ayah baru bisa buka HP '
' ayah udah dikasih tau belum sama bi Ida? '
' kasih tau apa? '
' Ryan dikeroyok '
' siapa yang berani sama anak ayah? bilang sama ayah, hari ini ayah langsung terbang deh ke Indonesia '
' ayah selesain dulu aja kerjaan ayah di sana, biar Ryan Rafa yang urus '
' enggak, udah ini ayah lagi otw ke bandara '
' ya udah lah '
✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏
Pak Devan melirik ke arah HP milik Rafael, dia lalu berkata " panjang umur ayahmu.. baru juga diomongin.. ".
Rafael pun hanya menanggapinya dengan sedikit tersenyum. Rafael pun terdiam sejenak, memikirkan perkataannya beberapa saat yang lalu pada adiknya yang bilang untuk tidak mengatakan kejadian pengeroyokan itu dulu pada ayahnya, tapi apa boleh buat.. Rafael jilat ludah sendiri. Sambil menyetir tiba-tiba pak Devan menyeletuk " kamu tau besok bakal ada apa kan? "
»»————\> **R&B** <————««
Akhirnya, setelah beberapa lama menyetir mobilnya, mereka berdua pun sampai di rumah sakit. Setelah keluar dari mobil pak Devan, Rafael berjalan dengan penuh percaya diri berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Orang-orang yang berada dalam gedung rumah sakit itu, terheran-heran dengan pemandangan yang mereka lihat. Bagaimana tidak, dengan wajah yang masih penuh dengan luka lebam, dan penampilan yang cukup berantakan seperti itu, Rafael berjalan dengan penuh percaya diri seakan tidak merasakan sakit apapun. Begitu pun dengan pak Devan, yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan ketua OSIS yang satu ini.
Rafael kemudian naik ke lantai 2 untuk pergi ke kamar rawat adiknya, dan kebetulan di dalam kamar rawat adiknya sedang ada seorang perawat yang sedang mengganti kantung infus Ryan. Melihat luka lebam di wajah dan beberapa bagian tubuh Rafael, perawat itu pun berkata " aduh mas, itu luka nya udah diobati belum?? "
" iya bang, ngeri banget penampilan mu.. itu luka masih ada yang belum dibalut loh!! " ujar Ryan menimpali perkataan suster tadi.
" ngeyel dia mbak, udah dibilang diem dulu mau diobatin malah ngeyel pengen kesini! " sambar pak Devan yang baru datang ke kamar rawat Ryan.
perawat itu pun segera menyelesaikan mengganti kantong infus Ryan, lalu bergegas pergi keluar kamar Ryan untuk mengambil obat dan pembalut luka. Perawat itu datang kembali ke ruang rawat Ryan dengan membawa alat pengobatan nya, dan mulai membersihkan luka Rafael yang belum diobati.
sembari di obati, pak Devan pun menceritakan apa yang terjadi di sekolah beberapa saat yang lalu pada Ryan. Ryan yang sudah tau dengan sifat kakaknya itu hanya bisa menghela nafas, namun disisi lain dia merasa kagum dengan kakaknya yang telah membelanya dan membalas perbuatan Regan. Setelah selesai diobati, pak Devan pun berpamitan pada kakak beradik itu lalu kembali ke sekolah. Dan Rafael akhirnya memilih beristirahat atas saran dari perawat.
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
Hari pun berganti pagi di hari baru, ayah Rafael yang telah sampai ke Indonesia pun langsung pergi menemui kedua anaknya itu si rumah sakit. Saat sampai di rumah sakit, ayah Rafael langsung merasa marah melihat tubuh anak-anaknya penuh dengan luka.
" ya ampun Ryan, Rafael, kalian semua kenapa ini?!!?!!! siapa yang udah bikin anak-anak ayah bonyok begini?!! " tanya ayah dengan nada marah.
" kakak sih habis berantem yah.. " jawab Ryan.
' adek b*ngs*t! ' batin Rafael sambil memelototi adiknya itu.
PLAKK!
ayah Rafael pun memukul pelan luka lebam di lengan kiri Rafael, lalu berkata " berantem sama siapa kamu!? "
" ARGGHH!! AYAH DENGER DULU! " jerit Rafael setelah lukanya dipukul oleh sang ayah.
" Rafael tuh habis ngehajar orang yang udah ngeroyok Ryan tau!! malah dipukul!! " jelas Rafael.
" heh! masa iya bales dendam kamu nya ikutan bonyok begini?! kurang ilmu kanuragan ya Rafael? " ujar ayah meledek Rafael seraya memukul pelan luka Rafael lagi.
tapi beberapa saat kemudian, telpon ayah berdering dan itu adalah nomor pak Devan yang akan memanggil ayah Rafael untuk menyelesaikan masalah antara Rafael dan Regan yang terjadi kemarin siang. Ayah Rafael pun mengiyakan perkataan pak Devan dan membawa Rafael untuk ikut pergi ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, Rafael dan ayahnya diarahkan ke ruangan kantor guru, yang ternyata di sana sudah ada kedua orang tua dari Regan. Ketika memasuki kantor guru itu, Rafael beradu tatap dengan Regan, yang sedang duduk diapit oleh ayah dan ibunya.
ayah Rafael pun memperkenalkan dirinya pada orang tua Regan dengan nada yang ketus " saya ayahnya Rafael! Mahesa Andrian! "
begitupun dengan orang tua Regan, " saya ayahnya Regan, saya Yuda! "
『••✎••』Bersambung...