
Singkatnya, hari demi hari berlalu, Bianca jadi lebih sering bertemu dengan Rafael dan Abian. Hingga tibalah waktunya, mereka bertiga akan berlomba di tingkat Kabupaten sana, dengan Rafael sebagai juru bicaranya. Di pagi hari itu, Bianca terbangun dengan perasaan semangat dan gugup. Di jam 05.00 WIB, Bianca sudah siap dengan seragam sekolahnya yang membalut tubuhnya.
saat dia turun ke dapur dia sudah melihat ibunya yang sedang menyiapkan sarapan, Bianca dengan inisiatifnya menghampiri ibu dan membantu ibu menyiapkan sarapan. Beberapa saat kemudian, ayah dan Zena turun dari lantai atas, dan bersiap di meja makan untuk menyantap sarapan paginya.
sambil memakan sarapannya ayah menyeletuk " hari ini kamu lomba kan Ca? "
lalu ditimpali oleh Zena " sama Rafael juga ya kan? "
" iya kak, bertiga sama Abian.. ketos jadi juru bicaranya.. " jawab Bianca sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
" mama do'ain semoga kamu sama mereka menang ya.. " ujar ibu.
" amiin.. "
»»————\> **R&B** <————««
Bianca, Zena dan ayah segera menghabiskan sarapannya. Ayah menyalakan mesin mobil untuk mengantar kedua anak perempuannya itu berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Bianca diminta berkumpul di aula bersama Rafael, Abian, dan beberapa anak lainnya yang mengikuti lomba yang berbeda. Di aula itu, Bianca dan beberapa murid lainnya diberikan pengarahan dan wejangan-wejangan dari kepala sekolah sebelum berangkat.
setelah diberikan pengarahan, Bianca dan teman-temannya yang lain diberangkatkan menggunakan 2 mobil. Satu milik kepala sekolah, satu lagi milik seorang guru IPA, yang merupakan wali kelas Abian. Di dalam mobil itu, Bianca, Rafael, dan Abian duduk di kursi belakang mobil, sedangkan kursi depan digunakan oleh bu Jessica yang adalah wali kelas Rafael dan bu Anggi walibl kelas Abian. Di kursi belakang itu, Bianca duduk diapit oleh Rafael dan Abian.
perjalanan berjalan dengan lancar, tapi ditengah-tengah jalan Abian yang memang tidak kuat dengan aroma pewangi mobil, jadi pusing dan muntah-muntah.
" hmm.. hm, hm, hmmm..!! " Abian menepuk pundak Bianca yang duduk di sebelahnya, tangannya memberi kode bahwa dia butuh plastik karena ingin muntah.
" eh! kamu mabok toh Bi??!! " tanya Bianca, Abian tidak menjawab dia hanya menganggukkan kepalanya saja karena mulutnya penuh dengan cairan yang ingin dia muntahkan.
Bianca berkata pada bu Jessica, wali kelasnya Rafael bahwa Abian membutuhkan plastik hitam. Dengan cepat bu Jessica segera memberikan plastik yang diminta oleh Abian. Dan Abian...
" HOEEKK!!! "
Abian memuntahkan semua cairan di dalam mulutnya itu. Bianca yang memegang minyak kayu putih di tangannya, langsung membalurkan minyak kayu putih itu ke kening, tengkuk leher, dan dada Abian.
mungkin.. Rafael cemburu melihat Bianca yang memperhatikan Abian yang mabuk perjalanan itu, Rafael menatap sinis kepada Abian lalu bergumam " cari kesempatan dalam kesempitan banget sih ni anak.. ", lalu dia kembali memandang keluar jendela mobil.
" kenapa kak? " Bianca yang mendengar perkataan Rafael, bertanya pada Rafael dengan ekspresi bingung.
" e-enggak! itu aku.. kayaknya tadi mengigau "
" ngi.. ngigau tapi kok bawa-bawa namaku kak? aku seganteng itukah sampe kebawa-bawa mimpi kakak? hehe.. " ujar Abian menimpali.
" hih! ganteng dari mananya, nggak tuh! mungkin karena kamu terlalu menyeramkan buatku makanya sampe kebawa mimpiku! " jawab Rafael kesal.
" tapi menurutku kakak yang serem, tapi menurut Bianca.. aku ganteng gak? " tanya Abian pada Bianca dengan ekspresi memelas seperti anak kecil.
" hmm... kalo menurut aku... ganteng kok! kamu manis! hihi.. " jawab Bianca sambil memperhatikan wajah Abian, yang memiliki hidung yang bulat menggemaskan, kulit yang berwarna kecoklatan yang membuat senyuman Abian terlihat manis di mata Bianca.
Rafael lalu menyambar bagaikan petir, karena tak mau kalah dari Abian " tapi aku juga gak kalah kan sama Abian! ya kan Ca? "
" mmm.. iya kok! kakak juga ganteng! " jawab Bianca.
" aku!! " Rafael mendebat Abian.
" udah! berhenti!! kalian semua sama-sama ganteng, yang namanya cowok pasti ganteng lah! semua cowok kan emang kodratnya ganteng ", begitu kata Bianca yang merasa kesal dan risih dengan sikap mereka berdua yang seperti anak kecil.
" iya sih... tapi, buat tau siapa yang paling unggul gimana kalo kita adu rudal!!? " tantang Abian.
Rafael, dan Bianca menatap heran pada Abian yahh mengajak adu ' rudal '. Mulut mereka menganga lebar, tak menyangka apa yang dikatakan oleh Abian.
" Omes.. " begitu kata yang dilontarkan oleh Bianca karna terkejut dengan ucapan Abian.
" what!?? " Abian heran dengan sebutan yang Bianca lontarkan pada Abian.
" otak mesum.. " Rafael menimpali perkataan Bianca untuk menjawab pertanyaan Abian.
" siapa bilang!!? "
" Bianca. " ucap Rafael sambil menunjuk Bianca yang sedang bersandar di kursi mobil itu.
" ih, tapi emang kalo kakak ditantang adu rudal kakak takut... kakak impoten ya~? " goda Abian.
" heh! lu pinter-pinter tapi kenapa otaknya rada bejad gitu sih, ngajak-ngajakin adu rudal! emang di luar nurul!! " ujar Rafael kesal.
" ahahahaha!! ketos takut kah, impoten beneran ya?? "
" hiihh, apa sini lu kalo mau di adu paling juga menangan gue daripada lu!! "
" wle! gak takut, lagian kan bentar lagi juga kakak lengser dari jabatan kakak sekarang! dan akan digantikan oleh yang mulia ketos Abian... " Abian menjulurkan lidahnya pada Rafael, lalu setelah berkata yang mulia ketos Abian dia mendongak ke atas dan tangannya di bentangkan seakan-akan sedang mengagungkan namanya sendiri.
" dih! percaya diri banget lu! Ca, ikut jadi perwakilan kelas buat pemilihan ketua OSIS baru deh Ca, kalahin si tengil ini.. " pinta Rafael pada Bianca yang sedang tenang membaca buku.
Bianca mengabaikan perkataan Rafael karena dirinya sedang sangat fokus, melihat respon Bianca Abian jadi senang dan semakin meledek Rafael " haha! dikacangin kasian deh~ katanya ganteng~ "
kesal dengan sikap tengil Abian, Rafael pun memilih mengalah dan memasang wajah datar lalu berkata " whatever.. ", lalu memilih untuk memejamkan matanya.
sebenarnya, didalam hati Bianca, dia merasa terhibur dengan dua kocak yang sedang beradu mulut di hadapannya itu, apalagi Bianca tak pernah melihat Rafael yang aktif karena selama ini yang dia tahu, Rafael hanyalah seorang ketua OSIS tampan yang cuek, dingin, kejam dan pendiam.
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
Mobil pun mulai memasuki lapangan parkir di tempat mereka bertiga dan anak-anak lainnya akan berlomba. Tempatnya ada di sebuah gedung sekolah besar yang cukup terkenal dan menjadi favorit di daerah itu.
Bianca bersama dua partnernya yang lain itu, mulai memasuki gedung lomba. Tempat dimana dia akan bertarung dengan siswa dan siswi dari sekolah SMA lain.
Bianca dan dua partnernya duduk di tempat yang telah disediakan dan menunggu beberapa saat untuk memastikan seluruh peserta telah hadir. Setelah seluruh peserta hadir panitia lomba cerdas cermat IPA itu mulai memberikan pengarahan tentang bagaimana ketentuan lomba. Setelah pengarahan selesai diberikan, lomba pun dimulai dan ini adalah saatnya Bianca, Rafael, dan Abian menujukan kebolehan mereka.
' akan ku smack down mereka semua, tim gue harus menang!! gue and tim pasti bisa!! ' batin Abian menyemangati dirinya sendiri.
『••✎••』Bersambung...