
BRAKK!
Rafael membanting pintu kamarnya begitu dia sampai di rumah. Dia melemparkan tas nya ke kasur, mengganti pakaiannya lalu langsung masuk ke kamar mandi.
dia menyalakan keran air di wastafel, lalu dia mengambil sikat gigi dan pasta gigi. Dia menggosokkan sikat gigi itu dengan kasar sampai-sampai gusinya berdarah dan bibirnya terluka.
" CIH! ", Rafael membuang busa pasta gigi itu ke wastafel, lalu berkumur-kumur sembari membasuh wajahnya.
BRAAKK!!
" AAAARRGGHHH!!!! ", Rafael berteriak lalu memukul meja wastafel. Dia menatap cermin, terlihat di cermin matanya merah, darah segar juga mengalir sedikit dari bibirnya yang terluka tadi.
" SIALAN! " umpatnya seraya memukul meja wastafel lagi.
»»————\> **R&B** <————««
Rafael keluar dari kamar mandi, dia mengambil HP nya yang tergeletak di kasur. Dia duduk di kasur dengan perasaan gelisah, dia tidak bisa tenang dan terus kepikiran tentang Bianca, apakah dia marah? entah.
Rafael mencoba mengirim pesan WA kepada Bianca, berharap semoga Bianca membalasnya dan mau mendengarkannya. Tapi mungkin hari itu dia sedang sial, Bianca malah tak bisa dihubungi dan pesan dari Rafael hanya terkirim ✔. Tak kehabisan akal, Rafael mencoba menelfon Bianca, tak diangkat juga. Berkali-kali dia menelfon Bianca, tak ada jawaban! ck. Rafael melempar HP nya ke kasur, dia mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu, menunggu beberapa saat lalu mencoba lagi, tapi hasilnya tetap sama.
TOK TOK!
" aden.. ", suara bi Ida memanggil dari luar kamar.
Rafael membukakan pintu kamar " kenapa bi? ", tanyanya.
" e.. aden belum makan siang den, makan siangnya sudah bibi siapkan di bawah, aden cepet makan ya den, bibi takut aden kambuh lagi.. " ujar si bibi.
" iya bi. ", Rafael turun ke bawah menuju meja makan. Di meja makan itu sudah ada adiknya yang emang melahap makan siangnya.
Rafael duduk, bi Ida menyajikan makanan ke piring Rafael untuk makan siangnya. Makanan telah tersaji di piring, Rafael mengambil sendok dari wadahnya, lalu mulai melahap makan siangnya sedikit demi sedikit sambil terus memperhatikan HP nya.
Ryan dan bi Ida heran. Biasanya Rafael tak suka makan sambil memperhatikan HP begitu, ekspresi nya juga tak biasa. Raut wajah kesal dan khawatir tercampur aduk jadi satu. Rafael gelisah.
Rafael mencoba mengirim pesan lagi, tetap saja hasilnya sama, wong Bianca gak aktif. lalu dia menelfon Bianca lagi, sama aja~. Merasa kesal hasilnya template, Rafael mengepalkan tangannya yang sedang memegang sendok, lalu dia menggebrak meja makan karena saking kesalnya.
tentu saja bi Ida jadi kaget, apalagi Ryan yang sampai tersedak saat makan. Tapi Ryan tak berani bertanya pada kakaknya itu, karena dia tahu Rafael adalah orang yang seperti apa kalau sedang kesal.
Rafael segera menyelesaikan makan siangnya, meminum segelas air putih lalu dia beranjak dari meja makan. Dia melangkah panjang menuju ke pintu keluar, sepertinya dia mau pergi keluar.
" bang Rafa kenapa deh bi..? " tanya Ryan sambil memperhatikan Rafael yang baru saja keluar dari pintu.
" gak tau bibi, dari sepulang sekolah den Rafa kayaknya kelihatan kesel den. " jawab bi Ida.
" biasanya kalo nggak berantem sama temen, siapa dong bi.. masa iya kak Rafa punya pacar? " tanya Ryan terheran-heran.
" gak tau juga bibi den. "
BRUUMM
Suara motor Rafael terdengar menjauh dari halaman rumahnya. Dia sangat cepat dan tergesa-gesa, kemana dia perginya, hmm. Deru motor Rafael terdengar memasuki jalan rumah Bianca. Ternyata ada bi Arum yang sedang menyirami bunga dan tanaman milik ini di depan, dan pagar rumah pun terbuka lebar.
begitu sampai di depan pagar, Rafael langsung menghampiri bi Arum yang sedang menyirami tanaman.
" Bianca udah pulang bi? "
" udah tadi.. tapi teh Bia nya keluar lagi sama temennya. " jelas bi Arum.
" kemana dia bi? dia bilang ke bibi gak dia pulang jam berapa? " tanya Rafael lagi.
ah! Rafael jadi semakin tak tenang. Bagaimana ini, pasti Bianca benar-benar marah padanya kan? karep lah!. Rafael kembali pulang ke rumahnya, mencoba menghubungi Bianca lagi, tapi ya gitu hasilnya template, yang membuat Rafael semakin tak tenang dan khawatir.
" gimana ini.. Bianca beneran marah ke gue deh kayaknya.. " ucap Rafael frustasi.
Rafael lalu merebahkan dirinya ke kasur, lalu tanpa sadar dia tertidur.
TING!
notifikasi chat masuk ke HP Rafael. 3 detik kemudian, HP Rafael berdering menandakan ada seseorang yang menelponnya. Rafael terbangun dari tidurnya, dan dia bergegas mengangkat telfon itu yang ternyata dari Bianca.
" halo, Bia! "
" iya, kenapa kak? aku liat tadi kakak nelpon aku sampe 20 kali lebih. "
" kamu habis kemana Ca? tadi kucari kamu ke rumahmu bi Arum bilang kamu keluar sama temenmu.. " tanya Rafael.
" aku habis ke rumah Winda tadi siang, habis kerja kelompok. "
" terus tadi kenapa kamu gak angkat telpon ku Ca? "
" aku gak ada paketan, ini baru beli lagi. "
mendengar itu, Rafael menjadi merasa lebih lega dan tenang, hingga dia tak sadar dia sampai meneteskan air mata.
" sekarang kamu ada dimana? " tanya Rafael.
" di halte SMK 15, mau pesen ojol ( ojek online ) "
" aku kesana ya, biar aku jemput kamu, kamu tunggu aja. " kata Rafael.
" iya. "
kemudian telpon berakhir. Rafael melihat ke arah jam dinding, sudah pukul 18.10 WIB. Rafael segera bangkit dari kasurnya, merapikan rambutnya, mengambil jaket lalu mengeluarkan motornya dari garasi, untuk menjemput Bianca.
perjalanan menuju SMK 15 cukup lama, sekitar 30 menit Rafael berkendara di jalan untuk menuju ke SMK itu. Ketika dia sampai di halte, Bianca tidak ada, mungkinkah Bianca sudah pulang lebih dulu naik ojol? maybe.
tapi tidak, Bianca muncul dari arah minimarket yang berada tak jauh dari SMK 15. Belum sampai Bianca di hadapan Rafael, Rafael sudah menghampiri nya lebih dulu, dan sedetik kemudian Rafael memeluk Bianca dengan erat.
dipeluk seperti itu Bianca pun berbisik " kak, ini di pinggir jalan loh kak. " , yang membuat Rafael tersadar dan segera melepaskan pelukannya.
" eh iya maaf. " kata Rafael " aku sempet khawatir kamu pulang duluan, ternyata habis ke Alva ya. " ujarnya sambil melihat kantong belanja yang ditenteng oleh Bianca.
" iya, nungguin kakak agak lama soalnya jadinya aku makan dulu deh, belum makan malem juga. " jawab Bianca.
sambil memegangi tangan Bianca, Rafael pun berkata lagi " kita ke taman ibuku dulu mau gak? "
" kenapa? " tanya Bianca.
" aku mau ngomong sama kamu, berdua aja. " jawabnya.
" oke.. "
Rafael pun akhirnya tidak membawa Bianca pulang dulu melainkan ke taman ibunya yang malam minggu kemarin dia kunjungi bersama Bianca.
『••✎••』Bersambung...