
" gak tau. kan lu yang naro, kenapa emang, ilang? " jawab Zena datar.
" entah, padahal gue inget banget gue taro kalungnya di laci meja belajar, tapi waktu gue cari gak ada. " kata Bianca.
" nyelip mungkin, coba aja cari lagi nanti, kalo ilang ya gua gak tau. " ujar Zena.
dengan wajah datarnya, Zena melahap sarapan paginya santai, dia tampak tenang seperti tidak merasa bersalah pada Bianca. Sedangkan pikiran Bianca jadi kacau, dia merasa tak tenang, dia tahu itu adalah kalung yang Rafael belikan dengan uang usahanya sendiri, kalau sampai hilang.. pasti Rafael akan kecewa kan.
mengejar waktu, Bianca segera menghabiskan makanannya itu. Seperti biasa, ayah mengantarkan mereka ke sekolah, hari itu Rafael memang tidak menjemput Bianca karena hari itu Rafael harus berangkat lebih pagi ke sekolah. Sepanjang perjalanan, Bianca terus memikirkan kalung itu, dia terus merasa tidak enak hati karena takut kalung itu hilang.
sedangkan Zena, yang sebenarnya tau dan memakai kalung itu, bersikap biasa saja, tak ada rasa bersalah dan tak enak hati di hatinya, sepertinya hati Zena memang sudah benar-benar mati.
Mobil ayah sampai di depan gerbang sekolah, di gerbang sekolah, sudah ada Rafael yang menyambutnya dengan beberapa anak OSIS yang berjajar rapi. Rupanya hari itu ada razia kedisiplinan.
" hei ketos, awas ya, jangan mentang-mentang dia pacarmu jadi di lolosin aja, kalo dia ada bikin pelanggaran tetep harus hukum.. oke dog? " kata salah seorang anggota OSIS yang sedang merazia seorang siswa lainnya.
" iya monkey~ " balas Rafael.
Rafael kemudian mengamati seragam Bianca, seperti biasanya, anak teladan seperti Bianca tak punya pelanggaran. Tapi tunggu..
" kalung kamu mana Ca? masih disimpen di rumah? " tanya Rafael sambil mengamati leher dan kerah baju Bianca.
" itu.. - ", Bianca bingung mau menjawab apa, tapi sebelum dia berkata lebih lanjut anggota OSIS tadi menyeletuk lagi.
" ngurusin kalungnya nanti aja bisa gak sih dog, ngejar waktu dong Raf.. "
" t4i. "
Bianca diperbolehkan masuk ke area gedung sekolah. Selang beberapa menit, seluruh murid berkumpul di lapangan upacara, untuk melaksanakan upacara bendera di hari Senin, seperti biasa~. sekitar 45 menit, upacara selesai, dan seluruh murid memulai aktivitas belajar nya.
»»————\> **R&B** <————««
DI JAM ISTIRAHAT KE 2
Waktu istirahat ke 2 sisa beberapa menit lagi, selesai dengan urusannya, Rafael menghampiri kantin untuk mencari Bianca, karena biasanya di jam istirahat Bianca akan menghampiri kantin bersama dengan 2 sahabat nya.
tapi di kantin, dia tidak menemukan Bianca. Hanya ada Azura dan Winda di sana, ketika ditanya, ternyata Bianca ada urusan dengan bu Emma.
" Bianca gak ikut kalian? " tanya Rafael pada Azura dan Winda.
" nggak kak, tadi anak marching band dari kelas sebelah manggil Nca, katanya dia dipanggil bu Emma, pembina marching band, mungkin ada urusan.. " jawab Azura.
" iya, mungkin mau ngomongin tentang Bianca yang dijadiin perwakilan buat ikut LDKS " sahut Winda.
" oh gitu tah.. ya udah, makasih ya. " Ujarnya sebelum dia pergi meninggalkan kantin.
Rafael berjalan menuju ke kelasnya lagi. Ketika dia masuk, hanya ada Zena sendiri di dalam, yang sedang membaca buku di kelas. Karena biasanya, murid di kelasnya akan berada di luar kelas sampai jam istirahat berakhir, tapi.. sepertinya dia mengenali barang yang sedang di pakai Zena di lehernya, seperti kalung milik Bianca.
Rafael kemudian berjalan mendekati Zena, semakin dekat dia pun tahu kalau itu memang benar kalung milik Bianca.
" ngapain kamu pake kalung punya Bia? " tanya Rafael heran.
Rafael tak menjawab, dia malah semakin heran dengan sikap Zena " kamu nyuri kalungnya dari Bia? " tanya Rafael lagi.
" kalo aku bilang iya, gimana? " jawabnya.
" kenapa kamu ambil? "
" dia gak berhak make kalung ini Rafa! " jawab Zena.
" apa? "
Zena berdiri dari duduknya lalu mencengkram kerah seragam Rafael, lalu berkata " kenapa sih lu gak pernah peka sama gue, selama ini gue udah nyingkirin semua cewe yang berusaha deketin lo dan kita juga deket, kenapa lo gak pernah peka sama gue!!? " katanya.
" maksud lo apa sih Zen?! " Rafael mencoba melepaskan cengkraman tangan Zena dari kerah baju seragamnya.
" gue suka sama lo Raf! kenapa lo selalu gantungin gue, seenggaknya lo peka kek! haha! lo pasti gak tau, tapi yang nyebarin rumor kalo lo pernah bikin siswa kelas kita koma, itu gue, gue Rafa, biar semua cewe yang berusaha deketin lo menjauh, lo cuma boleh jadi milik gue Rafa! " katanya lagi.
" lo gila! " ucap Rafael setengah mendengar apa kata Zena tadi " itu bukan suka tapi obsesi Zen, lo harus sadar Zena gue udah punya Bianca! "
" iya! iya, gue emang gila, gue gila karena gue suka sama lo, apa lo gak bisa ngertiin perasaan gue.. lo kan tinggal putusin Bianca dan jadi milik gue, gampang kan?! " kata Zena.
" lepasin gue Zena! ", Rafael memberontak, dia kembali mencoba melepaskan cengkraman tangan Zena.
Zena menggeleng, dan sedetik kemudian dia meraih kedua pipi Rafael dan mencium Rafael.
kaget, Rafael mendorong tubuh Zena sekuat tenaga yang membuat Zena terhuyung seperti ilalang dan hampir terjatuh. Rafael menolak ciuman yang dilakukan oleh Zena.
ketika dia menengok ke arah pintu, ternyata ada Bianca di sana yang sedang berdiri mematung sambil memegangi gagang pintu kelas.
" Bia! "
perlahan Bianca memundurkan langkahnya, lalu pergi menjauh dari kelas Rafael. Rafael hendak mengejar, tapi bell masuk kelas malah berbunyi.
Jujur, sepanjang jam pelajaran dia tak bisa fokus dan perasaannya tak tenang. Dia ingin bisa cepat-cepat pulang agar tak perlu berada di satu ruangan yang sama dengan Zena. Dia ingin segera menemui Bianca dan menjelaskan semuanya. Dia takut Bianca salah paham dan marah padanya.
✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏
Begitu dia melewati jam pelajaran yang terasa cukup lama baginya. Akhirnya, bel pulang sekolah berbunyi, dia membiarkan semua teman kelasnya keluar kelas lebih dahulu, baru dia membereskan buku dan alat tulisnya, dan turun ke lantai 2 untuk menemui Bianca.
tapi saat dia ada di kelas Bianca, kelas itu sudah sepi tak ada Bianca atau siapapun di kelas. Dia lalu berlari keluar gedung sekolah, berharap Bianca ada di gerbang sekolah seperti biasa untuk menunggunya. Tapi Bianca juga tak ada di sana.
Rafael segera mengambil motornya yang terparkir di parkiran motor. Lalu dia mengendarai motornya menuju ke rumah Bianca, saat dia bertanya pada bi Arum apakah Bianca sudah pulang atau belum, bi Arum bilang Bianca belum pulang, ah!
frustasi akhirnya Rafael memilih pulang ke rumah, biar nanti dia menghubungi Bianca melalui HP nya saja.
' Bia, kamu gak marah kan? ' batinnya.
『••✎••』Bersambung...