R&B

R&B
PEMBALASAN



Setelah mendapatkan rekaman CCTV yang dia inginkan, Rafael kembali ke gedung bekas SMP 2, untuk mengambil kembali motornya yang terparkir di sana. Tak mau berlama-lama di gedung bekas itu, akhirnya Rafael segera menyalakan mesin motornya dan pergi kembali menuju rumah sakit untuk menemui adiknya.


" di rekaman CCTV itu jelas banget kalau itu Regan, tapi.. kenapa juga Regan ngeroyok adek gua begitu!? " gumam Rafael sembari mengendarai motornya " tapi tetep aja, meskipun dia temen sekelas gue, kelakuannya udah kelewatan! dia harus gue hajar!!! " ucap Rafael sambil menaikkan kecepatan motornya.


»»————\> **R&B** <————««


Begitu sampai di rumah sakit, Rafael langsung berjalan menuju kamar rawat adiknya. Saat dia sampai di depan kamar adiknya, dia masih melihat bi Ida yang sedang mengobrol dengan temannya. Begitu Rafael masuk ke dalam kamar rawat adiknya, Rafael langsung menanyai adiknya dengan beberapa pertanyaan.


" Ryan, apa bener kamu dikeroyok sama baj*ng*n ini?? " tanya Rafael sembari menunjukkan foto Regan pada Ryan.


Ryan memperhatikan sekilas, lalu dia menjawab " abang tau dia dari mana bang!? " ujar Ryan bertanya balik.


" itu gak penting, yang jelas bener dia orangnya? "


Ryan terdiam sejenak, tapi meskipun masih ragu dan takut, tapi pada akhirnya Ryan menyerah dan mengakui kalau ya, foto Regan yang ditunjukkan oleh kakaknya itu adalah benar Ega yang dimaksud. Rafael mengangguk lalu dia keluar dari kamar rawat adiknya. Di lorong rumah sakit, Rafael melihat waktu di layar HP-nya, yang menunjukkan pukul 11.40 WIB. Rafael kemudian bergumam " gak perlu nunggu besok, sekarang juga bisa kan? " ujar Rafael sambil tersenyum sinis.


Rafael kembali ke parkiran motor dan menyalakan motornya, dia pergi meninggalkan rumah sakit dengan cepat, dan dengan penuh amarah. Sepanjang perjalanan Rafael terus memikirkan bagaimana caranya agar pembalasan yang akan diberikannya kepada Regan dapat membuat Regan jera. Rafael terus melakukan motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, hingga tak sadar dia telah sampai di sekolahnya di jam 12.00 di waktu istirahat ke dua.


begitu sampai di sekolah, Rafael segera turun dari motornya, berjalan dengan langkah yang panjang untuk menuju ke lantai 3 dimana kelasnya berada. Meskipun saat berjalan menuju kelasnya banyak mata yang melihat nya dengan tatapan aneh, Rafael tak memperdulikannya karena tujuannya sekarang adalah memberikan Regan pembalasan.


sesampainya di depan kelasnya, tak menunggu lama Rafael langsung membuka pintunya dengan kasar lalu berteriak " REGAN!! " dengan matanya yang mencari kesana kemari untuk mencari Regan.


di ujung, Regan terlihat seperti kebingungan melihat Rafael datang dengan penuh amarah seperti itu. Sorot mata Rafael yang tajam membuat Regan berkeringat dingin, tapi Rafael langsung mengambil langkah panjang menuju Regan yang berada di ujung, menarik kerah seragamnya dan langsung memukulnya.


kelas pun menjadi ricuh, beberapa teman Rafael mencoba memisahkan Rafael dari Regan tapi saat itu tenaga Rafael sangatlah kuat seakan sedang dirasuki sesuatu. Melihat Rafael yang memukuli nya, Regan pun akhirnya membalas pukulan Rafael sembari berkata dengan lantang " maksud lo apa anj***!!! ", dan akhirnya terjadilah pertengkaran di kelas itu.


Ara, teman Rafael yang seorang sekretaris kelas itu pun berlari ke kantor guru, untuk memanggil wali kelasnya atau kalau tidak guru BK. Karena kelas yang ribut itu, akhirnya banyak siswa dari kelas lain berkumpul di depan kelas itu hanya untuk melihat perkelahian dan menjerit-jerit tak karuan, sedangkan teman-temannya yang lain, sibuk memisahkan kedua orang itu yang semakin menggila.


Rafael maupun Regan tak mau berhenti meskipun tubuh mereka telah banyak luka. Tapi tak disangka, ternyata Regan membawa pisau lipat kecil di kolong mejanya. Tanpa menunggu waktu lama, Regan langsung menusukkan pisau lipat itu ke arah dada kanan Rafael. Meskipun telah dilukai senjata tajam seperti itu, Rafael tidak melemah, dia makin membabi buta dan amarahnya semakin menjadi-jadi, Rafael lalu melayangkan pukulannya, yang membuat Regan jatuh ke lantai.


Regan yang sudah kehabisan tenaga, akhirnya tumbang dan tak berdaya lagi. Dengan nafas yang tersengal-sengal Regan mencoba membuka mulutnya untuk bertanya pada Rafael " apa... maksud lo, kenapa lo malah langsung mukulin gue.. begitu lo dateng ke kelas, gak jelas tau gak... " ujar Regan dengan suara yang berat.


Rafael kemudian menarik kerah baju Regan lagi, lalu berkata " harusnya gue yang tanya! kenapa lo ngeroyok adek gue tadi malem!? apa alasan lo b*ngs*t!! "


di ruang UKS, Rafael diobati lukanya oleh pembina OSIS yang bernama pak Devan, dan 2 orang anak PMR. Sembari mengobati luka Rafael, pak Devan menanyai Rafael dengan berbagai macam pertanyaan.


" Rafa... Rafa.., kamu itu ketua OSIS loh, bisa-bisanya kamu berantem di kelas begitu! kamu tuh kenapa sih, nggak biasanya kamu begini.. " ujar pak Devan sambil membersihkan luka-luka yang ada di tangan, wajah, dan beberapa anggota tubuh lainnya.


Rafael tidak menjawab pertanyaan dari pak Devan, tapi dia melemparkan HP nya yang menunjukkan kondisi adiknya semalam, dan rekaman CCTV yang tadi dia dapatkan.


" ini.. siapa? adikmu? " tanya pak Devan sambil memperhatikan foto Ryan yang sedang dirawat sekarang.


Rafael menarik nafasnya panjang, lalu menjawab dengan singkat " iya pak.. "


" emangnya kamu yakin Regan yang bikin adikmu begitu? gimana kalau bukan? " tanya pak Devan lagi.


Rafael lalu merebut HP nya dari tangan pak Devan lalu menunjukkan rekaman suara Ryan, yang membenarkan bahwa Regan adalah orang yang membuat dirinya seperti ini, semalam. Lalu Rafael berkata " bukan cuma Ryan aja pak, yang bilang kalo itu Regan, tapi ada satu saksi yang semalam pergi sama adik saya yang tau gimana perawakannya Regan! "


" di rekaman CCTV itu juga jelas banget, kalo itu Regan! asal bapak tau, jaket yang Regan pake waktu itu.. adalah jaket yang pernah saya kasih ke dia sebagai hadiah ulang tahunnya.. dan aya tahu persis gimana jaket itu! " jelas Rafael lagi.


" tapi... apa yang bikin Regan ngeroyok adekmu ya semalam? harusnya dia punya alasan kan? " tanya pak Devan yang juga dibuat kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Regan semalam.


" itu dia pak, waktu saya tanya adik saya juga.. dia jawab kalo dia gak tau kenapa Regan ngeroyok dia semalam, sama kayak temannya yang jadi saksi semalam, dia gak tau alasan Regan ngeroyok adek saya semalam.. gaje kan itu anak.. " ujar Rafael.


sambil mengobrol, pak Devan masih terus mengobati luka Rafael, tapi tiba-tiba Rafael menepis tangan pak Devan dan berkata " udah ah pak! saya mau ke rumah sakit aja! "


" tapi ini lukanya masih belum diobatin semua loh Raf! "


" udah, lanjutinnya di rumah sakit tempat adek saya dirawat aja! " ujar Rafael memaksa.


" ya sudah ayo ke rumah sakit itu, nanti bapak bicarakan sama Regan besok.. ayo pulang dulu, biar bapak antar kamu ke rumah sakit dulu.. " ujar pak Devan pasrah, seraya berdiri untuk memapah Rafael untuk berjalan.


Rafael pun tak berontak, dan dia mengikuti perintah pak Devan, yang lalu membawanya ke rumah sakit tempat adiknya dirawat untuk diobati lebih dalam saja.


『••✎••』Bersambung...