R&B

R&B
CCTV



" SIALAN!! " begitu yang diucapkan oleh Rafael saat menyadari sesuatu yang telah diucapkan oleh Dion. Seorang lelaki dengan tinggi yang hampir sama dengan dirinya, tato berbentuk ular cobra, dan berasal dari SMA yang sama. Rafael mencurigai seorang temannya yang bernama Regan, tinggi tubuhnya hampir sama dengan dirinya, tato ular cobra.. dan dia berada di sekolah yang sama dengan dirinya, bahkan satu kelas yang sama.


tapi Rafael tak langsung bertindak dia berfikir keras, dia yakin kalau dia menghampiri Regan tanpa membawa bukti apapun, pasti Regan akan terus mengelak, bahkan Regan bisa saja memutar balikkan fakta dan balik menyerang Rafael, apalagi dengan status orang tuanya yang cukup tinggi.


Rafael pun berpamitan pada Dion untuk segera pergi lagi ke rumah sakit, tempat adiknya dirawat " oh ya, aku minta maaf ya.. udah ganggu waktu istirahat kamu, aku pergi dulu.. "


Dion hanya mengangguk lalu segera pergi meninggalkan taman sekolahnya, dan Rafael kembali ke gerbang untuk mengambil motornya yang terparkir di parkiran motor yang berada di sana. Satpam penjaga gerbang yang melihat Rafael pun menyapa, lalu berkata " udah selesai mas urusannya? "


" udah pak, terimakasih ya udah jagain motor saya.. "


" oh iya, sama-sama mas! "


»»————\> **R&B** <————««


Rafael pun mengendarai motornya menuju rumah sakit. Tak lama kemudian dia sampai di rumah sakit dan segera menemui adiknya yang berada di lantai 2, karena Ryan telah dipindahkan ke lantai 2 untuk dirawat. Begitu sampai di lantai 2, lebih tepatnya di kamar Kenanga no. 1 , dia sudah disambut oleh bi Ida yang sedang mengobrol dengan teman lamanya di lorong kamar Kenanga no. 1.


" eh aden... " sapa bi Ida seraya berdiri.


" Ryan udah bangun bi? " tanya Rafael pada bi Ida yang mengobrol dengan temannya.


" udah den, cuma tadi tidur lagi.. capek katanya.. " jelas bi Ida.


" oh.. ya udah kalo begitu, saya masuk dulu ya bi.. "


" iya den.. "


pintu pun ditutup oleh Rafael, dia berjalan mendekat menuju adiknya yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Saat sudah berada tepat di samping adiknya, Rafael berkata " jangan pura-pura tidur kamu! aku tau kamu tuh bangun, mana ada orang tidur nyalain TV "


seakan tak mendengar ucapan Rafael tadi, Ryan terus menutup matanya seolah-olah sedang tertidur pulas. Merasa kesal dengan sikap adiknya, Rafael pun memukul luka lebam yang ada di lengan kanan adiknya, seketika adiknya pun terbangun dan mengerang kesakitan.


PLAAKK!!


" ARGGHHHHH!! ABANG!! " jerit Ryan, sambil memegangi lengan kanannya. Ryan menatap kesal pada kakaknya itu, lalu berkata " kenapa sih bang? orang lagi tidur malah dipukul, kakak biadab emang! "


mendengar perkataan adiknya, Rafael pun membalas " dasar adek gak tau diri! kalo bukan abang yang bawa kamu kesini, udah is death kamu di sana! " ujar Rafael sambil mengangkat tangannya, seakan ingin melayangkan pukulan ke dua untuk adiknya.


" ja-jangan dipukul lagi dong bang! malah part 2 "


Rafael pun duduk di kursi yang berada tepat di sebelahnya, Rafael mulai memasang raut wajah serius dan kembali memperhatikan adiknya yang masih terlihat lemas setelah kejadian yang menimpanya semalam. Ryan yang melihat ekspresi kakaknya saat itu, hanya bisa menunduk dan mengalihkan pandangannya seolah tau kakaknya akan berbuat apa. Rafael kemudian menyilangkan kedua tangannya, lalu berkata " abang mau tanya sesuatu sama kamu Ryan.. "


" ta.. tanya apa bang? " jawab Ryan sambil mengalihkan pandangannya ke arah TV yang masih menyala.


" siapa Ega? apa hubungan nya sama kamu sampe kamu dikeroyok begini? sebut nama lengkap, sekolah, umur, abang mau tau! " ujar Rafael " oh iya, orangnya kayak gimana bentuknya? ceritain detailnya ke abang.. " lanjutnya.


mendengar pertanyaan dari kakaknya, Ryan hanya bisa terdiam seribu bahasa. Dia tidak tahu harus menjawab apa pada kakaknya, terlebih lagi dia masih takut dengan kejadian semalam yang membuatnya masuk rumah sakit seperti ini. Di dalam hati Ryan, sebenarnya dia ingin mengatakan yang sebenarnya pada kakaknya, tapi dia masih takut, dia takut seseorang yang bernama ' Ega ' itu akan menghampirinya lagi dan berbuat jauh lebih buruk kepadanya.


melihat adiknya yang kebingungan, dan masih takut Rafael pun kembali berkata untuk meyakinkan adiknya " Ryan, kenapa diem? jangan diem aja! jangan ngulang kebiasaan kamu yang suka mendam semuanya sendiri, itu gak akan buat kamu jadi terbebas dari si Ega itu! "


Ryan tetap diam, tak mau membuka suaranya sedikitpun. Rafael yang kesal pun akhirnya sedikit membentak Ryan " Ryan!! jawab abang, abang janji... enggak! abang sumpah, si Ega itu gak akan pernah bisa lolos dari tangan abang.. abang bakal bikin dia nyesel karena udah bikin adek abang begini, tolong kasih tau abang, jangan diem terus.. "


" terus, kenapa dia bisa ngeroyok kamu begitu? kamu tahu alasan dia ngeroyok kamu? " tanya Rafael lagi.


" gak tau bang, waktu kak Ega minta ketemuan aku gak tau dia bakal ngeroyok aku.. " jawab Ryan.


" si Ega itu.. nama lengkapnya apa? "


" nggak tau bang, waktu pertama kenal.. dia cuma ngasih tau nama kecilnya doang.. "


Rafael menghela nafasnya panjang, dia lalu bangkit dari duduknya bermaksud ingin kembali mencari bukti lain, tapi sesaat sebelum dia melangkah Rafael berkata pada Ryan " ya udah kamu istirahat dulu, kalo ayah tanya lukamu itu kenapa, jawab aja kecelakaan.. kamu tau kan ayah itu gimana? "


" iya bang, Ryan tau.. "


" ya udah abang pergi dulu.. " ucap Rafael, dan berlalu keluar dari kamar rawat Ryan.


✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈


Setelah keluar dari kamar rawat Ryan, Rafael menemui bi Ida, untuk memastikan sesuatu. Saat berada tepat di hadapan bi Ida, Rafael langsung menanyai bi Ida " bi, ayah udah bisa dihubungi belum? atau bibi udah ngasih tau ayah soal Ryan yang dikeroyok? "


bi Ida pun menjawab dan menggelengkan kepalanya perlahan " belum den, bapak belum bisa dihubungi.. "


" bagus deh kalo begitu! pokoknya, nanti kalo ayah tanya Ryan kenapa, bibi jawab aja karena kecelakaan ya bi.. " Rafael berpesan.


" kenapa gitu den? "


" ada deh.. pokoknya bibi bilang aja gara-gara kecelakaan, gitu! "


" oh ya udah den.. "


Setelahnya, Rafael pun pergi meninggalkan rumah sakit itu, dan langsung menuju ke lokasi pengeroyokan adiknya semalam, di gedung bekas SMP 2. Di lokasi itu Rafael berkeliling ke sekitar gedung SMP 2, mencari siapa tahu ada CCTV yang terpasang di sekitar sana. Rafael keluar dari area gedung bekas SMP 2 itu, dia lalu melanjutkan pencariannya ke luar gedung sekolah, dia kembali berkeliling. Dan tak jauh dari gedung sekolah itu, sekitar 100-130m dari gedung, terlihat ada 1 CCTV yang terpasang di perempatan lampu merah, dan 1 CCTV yang terpasang di sebuah gedung kantor yang tak jauh dari gedung sekolah itu juga.


Rafael pun bertanya pada seseorang satpam yang berjaga di sebuah gedung kantor yang tak jauh dari gedung sekolah itu " pak, permisi pak.. saya mau tanya, kalo mau lihat rekaman CCTV yang ada di gedung ini.. saya bisa minta tolong siapa ya pak? " tanya Rafael.


" oh kebetulan saya yang mengelola mas, eee.. mas nya ada keperluan yang penting mas? "


" iya pak, saya ada keperluan penting yang harus saya selesaikan, makanya saya butuh rekaman CCTV dari gedung ini, siapa tahu membantu.. "


" oh, ya sudah kalau begitu.. ayo mas nya ikut saya ke ruang CCTV.. "


" iya pak.. "


Rafael pun dibawa menuju ruang CCTV yang berada di lantai 2, di ruang CCTV itu ada seorang pria yang juga sedang memantau CCTV di layar monitor. Tanpa banyak basa-basi akhirnya Rafael pun diperlihatkan rekaman CCTV, yang merekam aktivitas saat jam 22.40 , waktu ketika dia mulai menyelamatkan sang adik dari para pengeroyok. Di pukul 22.43, rekaman itu memperlihatkan seorang lelaki yang lari ke arah gedung kantor, dan berhenti beberapa saat seperti menunggu seseorang.


mata Rafael membelalak, dia mengetahui siapa yang lelaki yang ada di dalam rekaman CCTV itu, Rafael pun langsung meminta rekaman CCTV itu, sebagai bukti agar orang yang dicurigai nya itu tidak bisa mengelak dan beralasan apapun.


' tunggu aja besok.. '


『••✎••』Bersambung...