R&B

R&B
SAYANG



" sayang! "


Bianca berbalik badan, menatap orang yang memanggilnya dengan kata ' sayang ' barusan, yang tidak lain adalah pacarnya sendiri.


" geuleuh.. " gumam Bianca ketika Rafael memanggilnya dengan kata ' sayang '


" apa? " Rafael bertanya.


" geuleuh. " jawab Bianca singkat padat dan jelas.


" apa artinya? "


" ya artinya jijik, aku jijik dipanggil ' sayang ' sama kakak.. " ujar Bianca.


" dasar jahat! tapi emang gitu kan? kalo orang pacaran pasti manggilnya pake sebutan sayang~ atau ayang~"


" gak juga tuh! gak harus manggil sayang atau ayang, jadi aku sih manggilnya ' kakak ' aja~ "


" ya deh.. " ujar Rafael menyerah.


Rafael menggandeng tangan Bianca, membawanya ke parkiran motor di sekolahnya. Rafael menaiki motornya lalu menyalakan mesin motor, kemudian Bianca naik di jok belakang motor. Sebelum meninggalkan halaman sekolah, Rafael menoleh ke arah Bianca lalu bertanya " mau jalan-jalan dulu atau langsung pulang? "


" pulang aja deh kak, kalo mau jalan-jalan mending hari Sabtu.. kan malam minggu.. " jawabnya.


" oke! "


motor mulai meninggalkan halaman parkir sekolah, untuk membawa pacar Rafael pulang ke rumah sesuai dengan permintaan sang pacar. Dan jadilah kini, Rafael sebagai budak cinta sekaligus kang ojek Bianca yang baru, tapi gak dibayar.


»»————\> **R&B** <————««


Motor mulai memasuki halaman rumah Bianca, seorang ART baru di rumah Bianca yang baru beberapa hari bekerja di sana, menyambut kedatangan mereka, ART itu bernama bi Arum.


" oh.. a, teh.. ", bi Arum yang sedang menyirami tanaman hias di teras membukakan pintu gerbang lalu menyapa mereka berdua.


mendengar suara motor Rafael di halaman rumah, ibu yang sedang berada di dalam pun keluar dan menyambut anak keduanya beserta pacarnya ( meskipun belum tahu ). Ibu kemudian mempersilahkan Rafael untuk masuk untuk berbasa-basi, awalnya Rafael menolak tapi karena Bianca memaksa Rafael jadi tak bisa menolak.


" heup!, kak! tolong dong.. ini hadiah-hadiah dari my friend banyak sekali.. tolong lah angkat.. " ujar Bianca pada Rafael yang sedang berbincang dengan bi Arum.


" oh, meluncur~ " ujar Rafael. Setelah nya dia membantu Bianca membawa hadiah ulang tahun Bianca yang Bianca dapat dari teman-temannya, yah.. itu semua dia lakukan agar dapat dikatakan sebagai ' pacar yang baik '.


ibu yang menyambut kepulangan Bianca menyeletuk " itu kalung dari siapa Ca? kamu beli, atau..?? " ujarnya setelah mengamati Bianca yang ternyata memakai kalung.


" oh ini.. dari.. ketos ma! " jawab Bianca sembari mengangkat hadiah-hadiahnya.


" ketos..? Rafael?? " tanya ibu lagi.


" iya, itu dari saya bu! sebagai simbol kalau Bia itu udah jadi milik saya, hehe.. " timpal Rafael.


" oh~ jadi pacar rupanya!! " ujar ibu girang " ya sudah Rafa tunggu bentar ya, jangan pulang dulu ibu bikinin minuman.. "


" terimakasih bu.. " jawab Rafael dengan senyum manisnya yang lebar.


BUK!!


" aww!! " Rafael menjerit pelan setelah Bianca menginjak kakinya dengan cukup kencang, dia mengusap kakinya yang habis diinjak oleh Bianca lalu dia bertanya " kenapa sih Ca!? "


" lah, ya biar.. kamu kan emang pacar aku, kan malah terlalu kalo aku malah gak nge publish pacarku~ " jelas Rafael dengan bangga.


" bener juga, ya udahlah! " Bianca menyerah.


" besok kan Sabtu nih, mau jalan gak? " celetuk Rafael.


" boleh, kan malem Minggu jadi aku free aja.. "


" sip! "


selang beberapa lama, ibu kembali dengan membawa baki, dan di baki makanan itu ibu membawa dua gelas jus jeruk dan sepiring cemilan kecil. Ibu menaruh minuman dan cemilan itu di meja dengan hati-hati, Rafael yang sedang duduk dengan tenang di sofa mengangguk lalu tersenyum pada ibu Rosa.


" senyum nya lebar amat, baru pertama kali nembak cewek atau gimana nih~ hehe.. " goda ibu pada Rafael.


" anak ibu terlalu cantik soalnya bu, saya jadi gak bisa berhenti tersenyum! hihi! " jawab Rafael " mungkin karena ibunya cantik, anaknya jadi cantik semua ya bu! " Rafael balik menggoda ibu.


" aah, bisa aja nih ketua OSIS! pintar merayu ya, hebat deh! multitalenta! "


saat dua manusia ceria itu sedang bercanda dan berbincang tentang kehidupan, mata Bianca tak bisa diam. Dia melihat ke san dan kesini, ke atas dan ke arah pintu, dia mencari seseorang.


ibu yang melihat gelagat aneh Bianca, menanyai Bianca " Ca, pacar kamu ada disini kok matanya kemana-mana sih.. nyari apa? "


" itu.. kakak, ka Zena belum balik? harusnya udah kan ma..? " tanya Bianca.


" udah deh kayaknya, soalnya tadi jam 11 an Zena diantar pulang.. mungkin lagi istirahat! " jelas ibu.


" sakit? kok cepet banget pulangnya..? " tanya Bianca lagi.


" dia memang sakit Ca, tadi siang waktu ada jam pelajaran olahraga dia pingsan.. makanya diantar pulang sama pak Devan.. " jelas Rafael menimpali perkataan ibu.


" oh gitu.. "


✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈


Tapi tidak dengan kenyataannya, di kamar Zena mengunci pintu kamarnya. Dia membenamkan wajahnya pada bantal, berusaha agar tidak ada seorangpun yang bisa mendengar suaranya saat itu.


" hiks.. hiks.. "


ya, dia menangis. Menangis karena cemburu, menangis karena kecewa, dia menangis karena merasakan patah hati yang mendalam. Meskipun di hari itu adiknya sedang berbunga-bunga, tidak bagi Zena.


yang telah menyukai Rafael lebih dari apapun, dia yang menyayangi Rafael. Tapi dia tak pernah mengatakan apapun pada Rafael, dan terus menunggu agar Rafael peka terhadap perasaannya dan dia datang pada Zena. Dia selalu menunggu hal itu tapi..


semua angan-angan nya itu sirna, ketika dia melihat sendiri Rafael yang terang-terangan menyatakan perasaannya pada Bianca, adiknya sendiri. Dia yang telah berharap lebih pada Rafael, akhirnya hanya menelan pil pahit karena kenyataan tidak sesuai dengan ekspetasi nya.


inilah realita, realita yang kejam. Kenyataan yang tidak bisa sesuai dengan keinginannya, Zena yang selama ini telah menyingkirkan banyak wanita yang berusaha mendekati Rafael, dia yang selalu berusaha bisa dekat dengan Rafael.. sekarang harus menerima kenyataan, bahwa orang yang dia sukai tidak menyukai nya dan lebih menyukai adiknya.


" padahal selama ini gue udah berusaha deketin lo, ngasih kode ke lo, gue juga udah bikin cewek-cewek lain menjauh dari lo, tapi kenapa lo gak pernah peka sama gue! " Zena bergumam.


" emang apa kurangnya gue dibanding Bia, padahal gue kira selama ini lu suka dan peka sama gue.. haha.. "


" gue gak mau! gue akan buat lo jadi milik gue, gimanapun caranya, meskipun caranya nekat dan gak bermoral sekalipun, gue bakal lakuin asal lo bisa jadi milik gue Raf! gue gak akan biarin ada satupun orang yang milikin lo, selain gue, gak boleh ada nama orang lain di hati lo! gue pasti akan buat lo jadi milik gue! " ucap Zena.


『••✎••』Bersambung...