R&B

R&B
KALUNG



" tadinya aku khawatir kalo malam minggu ini kita beneran gagal ngapel, tapi aku seneng akhirnya bisa ngapelin pacarku malam ini. hehe.. " ujar Rafael.


" nyam.. " Bianca melahap sepotong kue yang telah Rafael siapkan " hm~ kuenya enak! " kata Bianca.


" kakak mau kusuapin gak? " tanya Bianca sembari mengangkat sepotong kue ke arah mulut Rafael.


" orang hodob mana sih yang bakal nolak, haha~ ", kemudian Rafael membuka mulutnya dan melahap kue yang disodorkan oleh Bianca.


ketika mengunyah kue itu, Rafael gagal fokus. Dia bertanya-tanya, kemana kalung yang telah dia belikan untuk Bianca, kenapa tidak dia pakai, apakah hilang? mbuh. Rafael menelan kue yang dia kunyah, lalu bertanya " kalung yang waktu itu aku beliin mana Ca? "


" apa? "


" kalung itu, yang waktu hari ulang tahun kamu aku kasih, gak dipake? " Rafael bertanya ulang.


" oh.. aku taruh di rumah, kata kakak kalo aku pake malem-malem gini takutnya malah dicopet sama orang, kan sayang kalung bagus begitu kalo dicopet.. " jelas Bianca.


" Zena yang bilang begitu? kapan? "


" iya, kakak ngomong begitu waktu aku lagi bantuin ibu masak di dapur.. ibu juga setuju sama kakak, aku juga. " jawab Bianca.


" ... oh, tapi besok kamu bakal pake gak? "


" udah dibeliin, kan sayang kalo gak dipake~ "


Rafael tersenyum karena jawaban Bianca, dia pun kembali menarik Bianca ke pelukannya.


»»————\> **R&B** <————««


Waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB. Jam sembilan pas! Bianca meminta pada Rafael untuk mengantarkannya pulang ke rumah, karena takut keluarganya khawatir. Rafael mengiyakan saja apa kata pacarnya, meskipun masih ingin berdua dengan Bianca lebih lama lagi, tapi apa boleh buat, keluarga Bianca hanya merestui sampai jam sembilan.


" kak, sisa kuenya aku bawa pulang boleh? " tanya Bianca sambil mengangkat kotak kue, yang kuenya tinggal sisa separuh.


" boleh, bawa aja, aku emang beli kuenya buat kamu kok! "


" makasih kak~ " ucap Bianca.


Bianca lalu naik ke jok belakang motor Rafael, memeluk Rafael dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung Rafael. Dan motor pun meninggalkan taman indah itu.


" kamu itu kaya n4rk0ba ya Ca, hehe! " celetuknya tiba-tiba. Pandangannya tetap fokus ke arah jalan.


" hah? " Bianca mengangkat kepalanya dari punggung Rafael " apa? " tanyanya.


" karena kamu itu kaya zat adiktif, membuatku tercandu-candu~ " jawab Rafael.


" hahahaha! bisa aja nih ketua OSIS, gombalannya ngeri ya, pake n4rk0ba. " Bianca tertawa geli, belum pernah dia digombali seperti itu, gombalan anak MIPA yang antimainstream, haha.


tak terasa, waktu telah berlalu. Motor Rafael telah memasuki jalan rumah Bianca. Motor semakin mendekat ke arah pagar rumah, bi Arum yang ternyata masih terjaga membukakan pagar setelah mendengar suara motor menyala yang berhenti di depan rumah dengan suara Bianca yang sedang bicara.


bi Arum menyambut anak majikannya itu, takut terlalu malam Rafael segera pulang ke rumahnya lagi. Bi Arum dan Bianca masuk ke dalam bersamaan, kata bi Arum, Zena dan ibu sudah tidur sedangkan ayah masih terjaga dan menonton bola di TV.


" gak lah, grand final ini, mana mungkin ayah tidur, besok kan Minggu. " kata ayah " by the way, bawa apa itu di kotak? " tanya ayah pada Bianca yang sedang membawa kotak kue.


" kue, ini tinggal separo soalnya udah Bia makan separonya, ayah mau? "


" mau. "


Bianca pergi ke dapur mengambilkan piring kecil untuk menaruh potongan kue untuk ayah. Setelah memberikan beberapa potong kue pada ayah, Bianca kembali ke kamarnya sambil membawa kue yang tersisa dan sekaleng soda. Bianca duduk di kasurnya menghadap ke arah TV, lalu menyantap kue dan soda itu sambil menonton series horor thriller, seperti biasa.


tapi setelah diingat-ingat lagi, sepertinya ada yang Bianca lupakan, seperti ada barang yang ingin dia cari tapi dia tidak ingat apa itu.


Di lain tempat, di kamar Zena.


Zena sedang duduk di meja riasnya, memandangi dirinya di cermin. Dia mengalungkan sebuah kalung ke lehernya, yang tidak lain adalah kalung milik Bianca.


sambil melihat dirinya di cermin, Zena bergumam. " caraku memang gila Ca, tapi aku gak bisa ngebiarin siapapun milikin Rafa, kamu gak pantas makai kalung ini.. "


kemudian dia tersenyum tipis, lalu beranjak dari meja rias untuk tidur.


✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈


Memang benar, itu adalah kalung Bianca, yang Bianca dapatkan dari Rafael sebagai hadiah di hari ulang tahunnya. Zena mengambil kalung itu saat Bianca sedang pergi bersama Rafael. Sore tadi, ketika dia mengatakan pada Bianca untuk menaruh kalungnya agar tak di copet, itu hanyalah alasan agar Zena bisa leluasa mengambil kalung itu.


*Sore, sekitar bada Maghrib.


Sambil menunggu masakan makan malam matang, Bianca berkata pada ibu dan Zena dia ingin ke atas dan menyimpan kalungnya di kamar. Selang 30 detik kemudian, Zena melukai jarinya sendiri menggunakan pisau, dan naik kamar Bianca, berpura-pura mencari plester.


" Ca, lu punya plester gak? " tanya Zena pada Bianca yang sedang melepas kalungnya.


" ada tuh di laci meja rias, ambil aja. " jawab Bianca.


Zena mengangguk, dia menuju meja rias untuk mengambil plester itu. Saat dia membuka laci meja rias, matanya menatap pada Bianca. Dia diam-diam mengawasi Bianca yang sedang menaruh kalungnya di laci meja belajarnya.


Zena jadi tahu dimana Bianca menyimpannya, dia mengambil satu lembar plester dan keluar dari kamar Bianca.


malam harinya saat Rafael dan Bianca pergi keluar untuk ngapel, Zena masuk ke kamar Bianca. Dia mencari keberadaan kalung itu, perlahan-lahan agar tak ada siapapun yang mendengar.


Di laci meja belajar Bianca, ada beberapa tumpukan kertas-kertas ulangannya, dan sebuah buku catatan biasa. Zena memindahkan tumpukan kertas dan buku catatan itu, dan di dasar dia menemukan kotak pensil lama Bianca, yang berisi kalung itu. Dia mengambil kalung itu, membereskan kembali posisi buku dan kertas tadi, dan keluar diam-diam dari Bianca, tanpa suara.


Malam berlalu dan bergantilah pagi, pagi di hari Minggu, dan Minggu berganti hari ke hari Senin. Di Senin pagi itu, seperti biasa mereka berkumpul di meja makan untuk sarapan.


tapi pagi itu, ada yang hal baru yang tak biasa dari Zena. Dia mengancing kancing bajunya sempurna, biasanya Zena akan membuka satu kancing di bagian kerah.


tapi pagi itu yang Bianca fikirkan bukanlah kancing Zena, melainkan kalungnya, dia sadar kalau kalungnya tak ada di tempat dia menaruhnya malam Minggu kemarin, dia tidak lupa, tapi entah kenapa dia tak bisa menemukannya.


" kak, kakak tau kalungku gak kak? "


『••✎••』Bersambung...