R&B

R&B
KENANGAN TERINDAH...



Ya, karena hujan semakin membesar, angin makin bertiup kencang dan berpotensi terjadi badai, akhirnya Rafael memilih singgah di rumah sakit itu karena tidak mau celaka. Di saat itu, telfon ayah berdering ayah mengangkat nya dan mendapat kabar kalau di kantornya ada urusan mendadak. Ayah pun segera memberi tahu Bianca dan Rafael kalau dia akan pergi ke kantornya dulu, dan meminta Rafael untuk menemani Bianca di rumah sakit selama ayah ke kantor.


" aduh... Ca, ayah ada urusan mendadak di kantor Ca ayah harus otw sekarang ke kantor.. kamu sama Rafael dulu ya.. " ujar ayah.


" urusan mendadak, emang penting banget ya? " tanya Bianca.


" iya ini urusan nya penting banget, gak bisa ayah tinggal.. " jawab ayah " Rafael om pergi dulu ya, om titip Bianca ke kamu.. "


" i.. iya om.. "


»»————\> **R&B** <————««


Akhirnya, ayah pun pergi menuju kantornya dan menitipkan Bianca pada Rafael. Suasana pun kembali canggung, Bianca tidak tahu mau berbuat apa, dan Rafael pun demikian, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan Bianca, apalagi kalo mereka hanya berdua di ruangan itu.


merasa bosan dengan kesunyian itu, Bianca mencoba mencairkan suasana yang canggung itu dengan membuka suaranya untuk mengajak Rafael berbicara " kak.. "


" ya? kenapa? "


" maaf ya kak kalo pertanyaannya random, tapi.. kakak pernah punya kenangan suram atau kenangan terindah kakak gak? " tanya Bianca.


" kenangan terindah ya.. " Rafael mencoba mengingat " hmm... kalo liat hujan begini.. kayaknya ada sih, kenangan paling indaaaah banget yang aku gak akan pernah aku lupain sampe sekarang.. " lanjut Rafael.


" kenangan apa tuh? "


" ya pokoknya, aku suka inget ibu kalo liat hujan.. " jawab Rafael.


" lah emang ibu kakak ada dimana? " tanya Bianca.


dengan polosnya, dan dengan santainya Rafael menjawab " di tanah.. "


' jirr gelap! siapa yang matiin lampu ya, gelap banget perasaan.. mana nyebut tanahnya santai banget lagi! ' batin Bianca.


" eee.. ceritain lah kak~ aku gabut, pengen denger story.. "


" iya deh, waktu aku masih usia 4 tahun.. " Rafael mulai bercerita. Matanya menatap ke arah jendela yang tak ditutup oleh tirai, jadi dia ataupun Bianca bisa memandangi hujan yang turun malam itu.


‧͙⁺˚\*・༓☾ **14** **tahun yang lalu** ☽༓・\*˚⁺‧͙


Sore itu sudah menjelang maghrib, suasananya sama seperti saat ini. Hujan deras berangin, suara petir menggelegar di langit. Di rumah ibu Rafael, menunggu kepulangan anaknya dengan perasaan gelisah. ibu Rafael selalu melihat jendela, menanti-nanti kepulangan anak tersayangnya. Dan saat itu juga, ibu Rafael sedang mengandung adik Rafael yang sebentar lagi akan memasuki bulan ke 4.


Di tempat lain, di sebuah lapang. Rafael sedang bermain hujan dengan teman-temannya yang lain, seorang temannya berteriak berkata kalau waktu sudah hampir maghrib. Mereka semua berpisah dan pulang menuju rumah masing-masing, ditengah jalan Rafael mendengar suara kucing kecil yang berasal dari semak-semak. Rafael pun mendekat ke arah semak semak itu dan menemukan seekor kucing kecil yang sedang kedinginan. Kucing itu sangatlah menggemaskan, hingga Rafael menggendong kucing itu dan membawanya pulang bersamanya.


sesampainya di rumah, ibu Rafael membukakan pintu setelah mendengar suara Rafael yang berada di luar rumah. Melihat pakaian Rafael yang kotor, dan basah kuyup, ibunya menatap jengkel lalu menjewer telinga Rafael pelan.


" aduh Rafa.. ini udah hampir maghrib loh! kamu kalo sakit gimana??! " ujar ibunya.


" kamu bawa apa itu?? " tanya ibunya.


" meong ma~ liat, lucu kan? " jawab Rafael.


" kalo induknya nyariin gimana Rafa!!?? "


" tadi Rafa liat dia lagi kedinginan ma, makanya Rafa bawa pulang... mmm.. boleh gak ma, kalo Rafa rawat.. " ujar Rafael.


ibunya pun terheran-heran pada anak pertamanya itu, dia menyilangkan kedua tangannya lalu bertanya kepada Rafael " kamu berneran mau ngerawat kucingnya? "


" iya ma! boleh ya~ pleaseee~ " jawab Rafael sambil membuat ekspresi memelas.


ibunya yang tidak tahu lagi harus bicara apa pada anak sulungnya itu akhirnya mengiyakan permintaan Rafael. Ibunya meminta Rafael masuk ke dalam rumah untuk segera mandi agar dia tidak sakit. Di dalam kamar mandi, Rafael membawa serta kucingnya untuk dimandikan karena kotor, namun karena memang naluri kucing yang benci pada air, kucing kecil itu berontak dan terus mengeong.


ibunya yang mendengar suara mengeong kucing kecil yang cukup kencang, masuk ke dalam kamar mandi karena takut Rafael kenapa-kenapa. Tapi, saat masuk ke dalam kamar mandi alangkah terkejutnya ibu, melihat Rafael yang sedang berusaha memandikan kucing itu menggunakan air biasa.


" Rafael.. kalo mau mandiin kucing jangan sekali guyur gitu! pelan-pelan terus airnya juga jangan air dingin dong sayang.. " ujar ibunya.


" kalo gitu, harus pake air apa ma? air mendidih? " tanya Rafael.


" air mendidih!!?? mau bunuh kucing kamu Raf!? pake air hangat dong~ " jelas ibunya, " sini ibu bantu.. "


setelah mandi, Rafael bersiap untuk tidur. Tapi belum juga dia memejamkan mata, Rafael bersin-bersin dan suhu tubuhnya meningkat. Ibunya yang masih berada di kamar Rafael, memeriksa suhu tubuh Rafael menggunakan termometer, dan terlihat suhu tubuh Rafael mencapai 37,2°C.


" nah, liat kan! udah mama bilang jangan main hujan sampe sore takut sakit, bandel sih.. sekarang jadi demam kan! " ujar ibunya seraya menunjukkan suhu tubuh Rafael di termometer.


" i.. iya- HACCCHIIIII!!! "


✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈


Bianca yang mendengar cerita Rafael bertanya " bukannya biasa ya kak, kalo anak kecil dimarahin ibu? "


" biasa sih, tapi buatku.. dimarahin mama itu satu hal yang spesial Ca.. " jawab Rafael " mamaku meninggal waktu aku masih kecil Ca, waktu mamaku meninggal dan mama dikubur.. suasana nya sama kaya hari ini, mendung, hujan besar... karena itu aku suka inget mamah kalo hujan turun.. " jelas Rafael.


Bianca hanya menyimak, dan tanpa sadar dia meneteskan air mata. Begitupun dengan Rafael yang meneteskan air matanya sambil menatap sedih kearah hujan.. " dulu juga.. harusnya kalau Rena bisa bertahan, mungkin dia gak akan nyusul mama ke surga.. " lanjut Rafael.


" bisa dimarahin mama itu suatu anugerah buat aku Ca, meskipun dalam mimpi doang.. asal aku bisa ngeliat muka mama yang lagi marah ke aku, itu udah cukup bikin aku seneng Ca.. " kata Rafael, dengan diiringi tetesan air matanya.


" ngenes juga ya kak jadi kakak.. masih untung aku sekarang masih punya keluarga yang lengkap.. " ujar Bianca " eee.. maaf juga ya kak, udah bikin kakak sad malem ini, aku gak ada maksud kak.. tadinya cuma biar gak suram aja.. eh malah tambah gelap.. "


Rafael tertawa kecil, menyeka air matanya lalu menjawab " hahaha.. gak apa-apa kok, lagian aku juga sebenernya gabut juga.. malah bahas story yang sedikit gelap.. ".


『••✎••』Bersambung...