R&B

R&B
BIANCA BERAKSI



Samar-samar, Bianca mendengar suara orang yang mengendap-endap tadi sedang berusaha membuka kunci pintu kamar orang tuanya dengan alat, dan suara itu terdengar sangat pelan dan halus sehingga banyak orang yang tak menyadari keberadaan orang itu, terlebih lagi dengan suara hujan yang sangat deras.


' lu ataupun kalian, gak akan bisa ngapa-ngapain orang tua gue blok! selama ada gue yang ngawasin kalian, gue gak bakalan biarin kalian ngebobol rumah ini, badjingan.. ' batin Bianca.


»»————\> **R&B** <————««


Bianca mulai membuka kunci pintu kamarnya perlahan, Bianca melakukannya dengan sangat hati-hati agar tak menimbulkan suara. Pintu pun terbuka, perlahan-lahan Bianca berjalan mendekat menuju orang yang sedang berusaha membobol kamar sang orang tua tersayang. Salah seorang yang menemani temannya membobol pintu kamar itu, merasa ada hawa aneh yang mereka rasakan. Orang itu memegangi HP nya yang senter nya sedang menyala, dari arah bawah, dia melihat ada dress putih yang menyentuh lantai dan tepat berada di sampingnya.


orang itu, mulai curiga dengan sosok yang sedang berada disamping nya itu. Dia menelan air liurnya sendiri dan mulai mengarahkan senter HP nya ke arah sosok yang berada di samping nya. Dan dia diperlihatkan Bianca yang berwajah seram, sedang memelototinya tepat di depan wajahnya. Orang ( pria ) itu, reflek berteriak kencang.


mendengar suara teriakan rekannya, pria yang sedang mencoba membobol pintu kamar itu pun menoleh dan melihat sosok Bianca. Pria itu pun ikut berteriak karena terkejut, sedangkan Bianca malah tertawa melengking dengan keras. Lalu Bianca menodongkan pisah lipat yang ada di tangannya, dan pisau lipat itu sudah Bianca lumuri dengan liptint nya yang berwarna merah darah.


" HIHIHIHIIHIHIHH!! ~ BARUDAK KASEP, HAYU MILU JEUNG TETEH... " ucap Bianca dengan suara berat.


semua orang yang sedang tertidur lelap itu, tiba-tiba terbangun, lalu melihat keadaan yang gelap gulita dan mereka cukup kesulitan untuk melihat, apalagi mencari HP nya untuk menyalakan senter. Sedangkan Bianca masih menodongkan pisau lipat dan mendekat ke arah 2 orang tak dikenal yang sedang berjalan mundur.


" DASAR NINI BR*NGS*K!!! " teriak salah seorang pria yang ada di sana, dia pun bergerak mendekati Bianca dengan tangannya yang sudah mengepal seakan siap untuk memukul Bianca.


Bianca pun menangkis pukulan dari pria itu, dan melukai tangan pria itu menggunakan pisau lipat yang dibawanya. Bianca pun menusuk bahu, dan lengan pria tak dikenal itu, menggunakan pisau lipatnya.


Tapi ternyata pencuri itu juga membawa senjata berupa pisau buah, dia mengayunkan senjatanya itu dan menusuk leher dan bahu kiri Bianca. Tak mau tinggal diam Bianca pun membalas dengan menendang LATO-LATO milik pria itu dengan keras sehingga pria itu melemas, tapi Bianca tak memberinya ampun, Bianca kembali menyerang pria itu, dengan memukul kepalanya hingga pria itu tak sadarkan diri.


" kamu mau maju bestie? " tanya Bianca sambil menodongkan pisau lipatnya, kepada salah seorang pria yang tersisa.


' anj*ng! Burhan sampe begitu cuma karena satu cewek, gak tau lagi deh nasib gue.. tapi gue gak bisa nyerah sama cewek!! ' fikir salah satu pria yang tersisa.


pria itu bangkit dan mulai mencoba menyerang Bianca, tapi belum sampai tangannya menyentuh tubuh Bianca, seseorang memukul kepalanya dari belakang menggunakan teflon. Bianca mencoba melihat siapa yang baru saja memukul pria tadi, dan dari cahaya kilatan petir, Bianca bisa melihat wajah Rafael.


Seusai memukul pria itu, Rafael berusaha melihat siapa wanita di depannya itu lalu mulai mendekat. Rafael menggunakan HP nya untuk penerangan, dan betapa terkejutnya dia melihat penampakan seorang wanita berbaju putih lusuh dengan banyak bekas luka, lantas Rafael pun menjerit.


" ka-ka.. kamu siapa??!! " tanya Rafael sembari menunjuk sosok wanita dihadapannya.


' wih.. aku berbakat dong jadi MUA yang khususnya make up serem, ketos aja sampe terjungkal gitu.. ' batin Bianca bangga.


" B-Bia, Bianca belum keluar yah!! gimana ini ibu takut Bianca kenapa-napa yah! tolong ke kamar dia yah!! " jerit ibu sambil menunjuk ke arah kamar Bianca yang pintunya telah terbuka.


di situasi itu, Bianca pun akhirnya berbicara " ma~ ini aku loh, masa kalian gak pada kenal sih!! "


" ya kamu sih dandan kayak begitu, serem tau!!! " sambar ibunya.


" oh iyakah, berarti aku berbakat dong mah.. bisa bikin make up serem gini.. " ujar Bianca bangga.


" oh~ seneng kamu bikin orang rumah ketakutan, ada tamu loh Ca!! jail banget sih! " ucap ibu sambil merebut teflon yang ada di tangan Rafael, lalu ibu mengayunkan teflon itu ke arah Bianca.


" ampun ndoro!! Bianca kan dandan gini biar maling itu bisa ngibrit!!!! gimana sih, kok malah Bia yang salahhh!! " keluh Bianca.


" oh iyakah, yaudah kalo begitu mama yang salah liat.. " ujar ibu pasrah.


perlahan-lahan, Bianca pun mulai kehilangan kesadarannya dan terjatuh ke lantai akibat luka di leher dan bahunya yang cukup dalam. Ayah segera membawa Bianca ke rumah sakit, dan meminta Rafael untuk singgah sebentar di rumah untuk menjaga ibu dan Zena.


━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━


Situasi pun kembali tenang, dan ayah pun kembali dari rumah sakit setelah mengantar Bianca. Ketika ayah kembali dia sudah melihat tubuh para maling itu telah diikat dengan tali, barang bawaan mereka pun telah diamankan dan mereka memutuskan untuk tidur di ruang tamu sembari menunggu waktu esok.


ketika sudah terdengar azan subuh dan matahari telah terbit, Rafael berpamitan pada kedua orang tua Bianca dan Zena, untuk kembali ke rumahnya karena hujan pun sudah reda sejak jam setengah 4 pagi.


sebelum Rafael benar-benar pergi, Zena meminta sesuatu pada Rafael. " Rafa, hari ini gue mau izin gak berangkat dulu, gue mau temenin Bia di rumah sakit, tolong lu kasih tau kasih tau ke wali kelas ya! sama tolong lu kasih tau wali kelas Bianca juga! " pinta Bianca.


" oh iya, nanti gue kasih tau... " jawab Rafael. Lalu dia kembali ke rumahnya, untuk bersiap masuk sekolah.


Rafael pun telah pergi meninggalkan rumah Bianca dan pergi menaiki motornya menuju rumahnya sendiri, ibu, ayah, singgah di rumah menunggu para pencuri itu sadar, sedangkan Bianca berada di rumah sakit karena lukanya. Di jam 06.07 ayah menelpon polisi, dan satu jam kemudian polisi pun datang untuk mengamankan para pencuri itu. Ayah harus ikut dengan polisi untuk dimintai keterangan, sedangkan ibu dan Zena pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Bianca menggunakan mobil ayah.


『••✎••』Bersambung...